
...Makasih yang berkenan mampir di sini, di cerita ini. cerita yang aku rangkai sedemikian rupa, dengan jerit payah, dan ilmu kepenulisan yang seadanya....
...Love kalian all😘...
...Yok 8000 Hadiah Buat next Part!...
..."Selamatkan dia terlebih dahulu,"...
...*...
...(Alfarizi Kavindra)...
...***...
"Lio, cepat hubungi Kavin! Bukankah dia sudah pergi terlalu lama?" desis Zaly dengan wajah yang ditekuk, dan sudah sedari tadi wanita itu, meminta Agler untuk menghubungi Kavin.
Agler yang sudah jengah mendengar penuturan Zaly, langsung memperlihatkan layar ponselnya, yang saat ini sedang mencoba menelepon Kavin, "Lihat— ini sudah kesepuluh kalinya aku menelepon, tapi dia belum mau mengangkatnya. Jadi, kamu diam lah sebentar, dan jangan menggangu fokusku," jawab Agler dengan bernada lembut.
Percayalah, walaupun sekesal apapun pria itu kepada Zaly. Dia tidak pernah mengeraskan suaranya, dan itu berbanding terbalik dengan sikap Kavin. Jika Kavin yang ditanya seperti itu, mungkin dia akan langsung meledak, dan bisa dipastikan..Zaly akan ciut.
"Kau juga kemana sih Vin," geram Agler mulai jengah.
Bayangkan, tadi Kavin mengatakan akan pergi sebentar saja. Tetapi, hingga hari sudah menjelang malam. Batang hidung pria itu, masih tidak kelihatan sedikitpun.
__ADS_1
Suara nada panggilan dari ponsel Zaly mulai mendengung. Membuat, Agler menaikkan satu alisnya, dan mulai menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
Tanpa menunggu lama, Zaly bergerak meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja kecil yang ada di depan sofa, "Paman menelpon," ujar Zaly setelah membaca nama yang terpampang di layar ponselnya.
"Papa Kavin?" tanya Agler, membuat Zaly menganggukkan kepala, dan langsung menempelkan benda pipih itu setelah tadi, dia menerim panggilan Papa Kavin yang ada di ibu kota sana.
***
Sementara di sisi lain, dan waktu yang bersamaan. Kavin yang masih berjalan menyusuri trotoar jalan, mulai dibanjiri oleh peluh keringat. Padahal hari sudah menjelang petang, tapi hawa ditubuh Kavin masih memanas.
Mungkin Kavin saat ini sedang kelelahan, karena dia sedari tadi masih membawa Mika yang ada di gendongan punggungnya, berjalan menuju rumah sakit yang entah di mana tempatnya.
"Sedikit lagi— teruslah bernapas," gumam Kavin yang sudah mengatakan kata-kata yang sama di setiap langkah kakinya.
Padahal, dia sendiri tidak tahu sudah berjalan berapa lama, dan sudah mencapai berapa meter. Yang jelas, sekarang dia harus terus berjalan, berjalan, dan berjalan.
Bisa di pastikan, kalau pria itu sekarang sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Tetapi, walau begitu. Dia masih mencoba untuk mempertahankan kesadarannya.
Padahal sedari tadi dia berharap, ada satu atau dua mobil yang menepi. Tetapi, itu hanyalah harapannya saja, karena kenyataannya tidak ada satupun dari puluhan mobil yang tengah berlalu lalang itu, menghampiri mereka, dan menanyai mereka.
Seketika senyum di wajah Kavin kembali mekar, saat matanya mulai melihat sebuah plang dengan gambar tambah kecil berwarna merah, dan tulisan hospital terlihat sangat jelas.
"Kita sampai. Kita akan segera sampai," gumam Kavin merasa girang. Bayangkan, Kavin berjalan dengan menggendong Mika dari jam setengah enam, dan setelah hari yang sudah menggelap dia baru bisa melihat bangunan yang memang sebagai tujuan awal mereka.
Kavin yang tadinya akan kehilangan kesesatan, malah kembali dipenuhi oleh semangat. Sekarang, pria dua puluh tujuh tahun itu, langsung mengayunkan langkahnya yang tadi melemah, semakin dipercepat.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Kavin langsung berada di gerbang rumah sakit. Pria itu langsung saja menerobos masuk, dan dia seolah tidak peduli kalau di sana ada pos penjagaan.
"Dokter!" Kavin mulai berteriak, dan karena itu. seluruh pasang mata orang-orang. Langsung terarah kepadanya.
Padahal dia masih berada di luar rumah sakit, tapi pria itu langsung berteriak, "Dokter! Dokter! Di mana kalian semua brengsek!" Kavin kembali berteriak, saat dia sudah sampai di ambang pintu masuk rumah sakit.
Entah kenapa setelah mencium bau khas rumah sakit, kedua pandangan pria itu kembali berkunag-kunang, "Dokter! Tolong! Tolong rawat teman saya!" teriak Kavin, dan langkah kaki yang menyisakan jejak darah itu, langsung masuk ke dalam rumah sakit, dan menciptakan kegaduhan.
Para perawat yang melihat keadaan Kavin, langsung berjalan cepat mengambil brankar, dan bergerak mendorong tempat tidur pasien itu mendekat ke arah Kavin.
Dengan tatapan mata berkunang-kunang, Kavin melihat beberapa perawat menghampiri mereka. Dan itu, mampu membuat pria itu menyungging senyum, dan setelahnya dia terkapar jatuh. Diikuti oleh tubuh Mika, yang terlepas dari gendongan punggungnya.
Mika yang sudah kehilangan kesadaran, tidak merasakan apa-apa. Tetapi, berbeda dengan Kavin. Pria itu tadi sedikit membuka mulutnya untuk meringis, "Selamatkan dia terlebih dahulu, dan kalian tidak perlu memperdulikan diriku. Tetapi, yang aku mau dia selamat, dan tetap bertahan hidup." Seketika Kavin langsung merasa hening, dan sedetik kemudian. Pengelihatannya menggelap, dan pria yang sudah berjuang keras itu, kehilangan kesadaran.
Bertepatan dengan itu, Mika langsung dibawa ke ruang UGD.
...****T.B.C****...
...Bingung mau ngomong apa...
...Ada kata buat:...
...Kavin?...
...or...
__ADS_1
...Mika?...
...Bisa enggak yah 8000 hadiah?...