Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
65. Pulang dari rumah sakit.


__ADS_3

...Sahabat Paris, maafkan aku telat update...


...Maaf ada banyak kendala yang aku urus juga, jadi ngaret up. Apalagi targetnya enggak tercapai...


...Ehh but, aku punya kabar gembira untuk kalian, sahabat paris 😘...



...Cerita Gadis Bisu Pemikat Hati, punya Instagram sendiri, jadi follow yok. Siapa tahu ada yang kepo dengan para visualnya, contohnya seperti instastory Kavin dan Lio di bawah ini👇...



...(Ini Instastory si Kavin😘), and...



...(ini Instastory si Lio😘)...


...Di Instagram khusus cerita Mika, aku akan posting komentar kalian, well yok follow, "sahabatparis_gbpa"...


...Yok aku tak lagi banyak omong, langsung aja yok kita ke cerita😘...


...***...


3 hari kemudian.


Brak!


Suara nampan besi terjatuh, membuat Ridwan— perawat pria yang saat ini sedang membalut kaki Kavin dengan perban, tersentak kaget, "Tuan saya mendengar ada yang menjatuhkan nampan," adu Ridwan dengan menoleh ke kanan, dan kiri seperti memindai. Siapa gerangan yang tadi menjatuhkan nampan itu.


Merasa tidak ada siapapun di ruang rawat milik Kavin, selain mereka berdua. Ridwan yang sudah lelah mengedarkan pandangannya, kembali menatap ke arah depan, dan wajah datar Kavin langsung menyambut kedua matanya.

__ADS_1


"A—ada apa Tuan. Kenapa T—tuan menatap saya seperti itu." Ridwan berucap dengan nada gugup, karena sekarang Kavin terlihat sangat-sangat menyeramkan, 'jangan bilang dia ingin memakanku,'


"Cepat selesaikan tugas yang aku suruh, bodoh," perintah Kavin dengan nada dingin, membuat Ridwan menelan ludah dengan sangat sulit.


"Ba-baik tuan," ujar Ridwan, dan dia kembali melakukan tugasnya, yaitu membalut kaki Kavin, yang sebenarnya sudah sembuh. Tetapi, entah apa yang dipikirkan pria kota itu, hingga dia masih ingin membalut kedua kakinya dengan perban.


Iya, sekarang mereka berdua berada di ruang rawat Kavin. Sedari tadi mereka sangat berhati-hati, karena mereka takut. Mika masuk ke sini, dan mengetahui semua ini.


Iya, Mika masih belum tahu, kalau kaki Kavin sudah sembuh. Kavin yang mengatakan dirinya seorang jenius, memanfaatkan hal itu. Terlebih lagi Mika itu, mudah sekali percaya, dan itu selalu saja membuat Kavin gemes sendiri.


"Saya masih bingung, siapa yah yang menjatuhkan nam-"


"Itu aku," potong Kavin dengan nada datar, membuat Ridwan menaikkan tatapan matanya, "Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau mau marah?"


"Tidak tuan. Mana mungkin saya akan marah."


"Bagus lah," jawab Kavin. Pria itu langsung menyandarkan punggungnya di sandaran kursi roda, dan dia perlahan memejamkan mata, "Hai— menurut kau. Mika itu cantik kah?" tanya Kavin dengan masih mempertahankan posisinya.


Sebenarnya Ridwan pernah melihat rupa Mika, tapi Hanay sekali saat Mika dan Kavin. Pertama kali menginjakkan kaki di temapt ini. Tetapi, dia terpaksa berbohong, karena jika dia jujur. Pria songong dan arogan di depannya ini. Akan bicara tanpa henti.


"Sungguh kau tidak pernah melihatnya?" tanya Kavin dengan satu mata yang terbuka.


Ridwan yang mendengar itu, hanya bisa menganggukan kepala, "Ck— kalau begitu, hidup kau miris sekali. Aku berani bertaruh, jika kau melihatnya sekali. Kau tidak akan pernah bisa berpaling, sep- eh salah bukan sepertiku. Ah, lupakan," imbuh Kavin yang berbicara tidak jelas, dan setelahnya. pria itu kembali memejamkan mata, 'seperti aku,' batin Kavin, dan dia tersenyum.


'Aneh,' batin Ridwan, dan perawat pria itu mulai fokus melilitkan perban di kaki Kavin, yang saat ini masih tersenyum.


***


Beberapa menit telah berlalu, Kavin dan Mika sekarang sudah berada di luar rumah sakit. Terlihat Kavin masih duduk di atas kuris roda, dengan Mika yang berdiri di belakangnya, "Panas, Gadis desa," ujar Kavin, yang saat ini sedang kepanasan.


Kavin tidak lebay, karena memang benar. cuaca di siang hari saat ini begitu terik, dan Kavin tidak terbiasa dengan paparan radiasi matahari, "Apa yang engkau lakukan?" tanya ketus Kavin, saat menyadari tangan Mika mulai bergerak menyeka keringat di pelipisnya.

__ADS_1


"Aku sebenarnya tidak memintamu melakukan itu, tapi kau sudah terlanjur melakukannya. Jadi karena aku baik, aku membiarkanmu. Tetapi, jangan harap, aku akan berterima kasih," tutur Kavin dengan nada songong.


Mika yang mendengar itu, hanya bisa tersenyum. Padahal dari satu jam yang lalu, dia sendiri yang meminta Mika menyeka keringat yang bercucuran di wajahnya. Eh— pad Mika melakukannya, dia bilang tidak pernah meminta. Memang Kavin itu manusia teraneh di dunia ini yang masih hidup.


"Kenapa perawat pria itu, lama sekali mencari taksi," cicit Kavin dengan nada yang terdengar jengah, membuat Mika menepuk pelan pipi pria itu.


Kavin mendongakkan kepala, dan matanya langsung memindai wajah Mika, yang sedikit menunduk melihatnya. Mika yang melihat itu, bergerak melakukan isyrat tangan, "Sabar lah. Di tempat ini memang sangat sulit menemukan taksi."


"Tapi ini sudah sat-"


Tin! Tin! Tin!


Tiga kali suara klakson mobil, membuat ucapan Kavin terhenti. Pria dua puluh tujuh tahun itu, langsung mengembalikan posisi kepalanya tepat menghadap ke depan. Dan kedua mata coklatnya langsung menangkap sebuah mobil taksi.


Iya, setelah tiga hari lamanya mereka di rawat di sini. Kavin dan Mika berniat meninggalkan rumah sakit, karena mereka berdua sudah baik-baik saja. Tetapi, yang Mika ketahui, kalau keadaannya memang sudah baik-baik saja.


Namun, dia tidak mengetahui keadaan Kavin yang sebenarnya. Malahan, gadis polos itu, masih percaya kalau sekarang Kavin, masih belum pulih. Dia sudah meminta Kavin untuk menginap beberapa hari lagi, agar kedua kakinya sembuh total.


Namun, Kavin menolak. Karena, dia sendiri tahu. Kalau keadaannya sudah sembuh, dan dia sengaja membalut kakinya dengan perban, agar Mika merawatnya. Itulah keinginan pria dua puluh tujuh tahun itu.


"Tuan, mobil taksinya sudah siap," lapor Ridwan yang kepalanya menunduk, dan kedua matanya terpejam.


"Ayok kita pergi dari tempat jelek ini, Gadis desa."


...T.B.C...


...Gimana Part ini?...


...Yok follow aku Ig Mika dan kawan-kawan, "sahabatparis_gbph" ditunggu kedatangannya....


...Ada kata enggak buat Kavin or Mika?...

__ADS_1


...See you next part all!...


__ADS_2