Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
55. Tidak Ada Belas Kasihan.


__ADS_3

...Makasih karena ramaikan komentar....


...Bonus untuk kalian, dan ramaikan komentar lagi yah. jangan jadi silent reader....


...happy reading, and enjoy😘....


...(tidak ada foto)...


..."Sejauh apapun jarak yang akan aku tempuh. Aku akan melakukannya, tapi aku minta kau bertahan, dan terus lah bernapas."...


...*...


...(Alfarizi Kavindra)...


...***...


Kavin masih bejalan sekuat tenaga melewati jalanan yang bisa di bilang sedikit terjal, agar mampu sampai ke jalan raya yang ada di atas sana.


Sepi— tidak ada seorangpun yang berada di sana, dan jikapun ada, apa mereka akan membantu? Maka dari itu, Kavin tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk berteriak mencari bantuan, yang entah bisa dia dapatkan, atau mereka akan mengabaikan.


"Sedikit lagi— kita akan sampai ke jalan raya sebentar lagi. Jadi, aku harap kau bertahan sebentar lagi, Mika," gumam Kavin dengan mencoba untuk membuat Mika tidak menghentikan napasnya, yang mulai melemah.

__ADS_1


Kavin mulai melangkah menaiki jurang, agar dia bisa menapakkan kaki di trotoar jalan yang ada di atas sana. Dia terus saja berjalan, tanpa memperdulikan keadaan kakinya yang sudah dipenuhi oleh bercak-bercak darah.


Kavin sesekali memejamkan mata, saat dia merasakan ada beling pecahan botol menusuk telapak kakinya. Dan itu sedikit mampu menghilangkan keseimbangan Kavin, tapi pria itu masih bisa berdiri.


"Sedikit lagi. Kita akan sampai sedikit lagi," gumam Kavin dengan kedua tangan mulai menggenggam lengan Mika, untuk menahannya agar tetap melingkar di leher Kavin.


Keringat mulai bercucuran di wajah Kavin, dan napasnya pria itu juga mulai terengah-engah. Tetapi, biarpun begitu, dia tidak henti-hentinya melangkah menaiki jurang yang tidak terlalu terjal itu.


embusan angin semakin gencar menerpa wajah lelah Kavin, seolah ingin membantu pria itu menghilangkan rasa penat ya g sekarang dia rasakan, "Sedikit lagi, ayok!" teriak Kavin memberikan dirinya semangat, dan itu juga mengundang suara kicauan burung camar yang saat ini terdengar jelas, karena mereka sudah sedari tadi mengawal sang surya untuk tenggelam di tengah samudra.


Setelah berjuang sangat keras, Akhirnya Kavin sudah menapakkan kaki yang dipenuhi oleh luka itu, di atas trotoar jalan. Puluhan kendaraan terlihat jelas di matanya yang entah kapan mulai memerah.


Kavin mengambil napas terlebih dahulu, "akhhh!" Kavin sedikit menjerit saat rasa sakit mulai terasa di telapak kakinya.


Kavin berjalan linglung ke pinggir trotoar, dan dia mulai merentangkan tangannya, "Tolong! Temanku sedang sakit, dan dia harus secepatnya di bawa ke rumah sakit. Jadi, tolong berhentilah, dan antar kami ke sana!" Teriak Kavin, tapi tidak ada satupun mobil yang berhenti.


Kavin yang melihat semua mobil melaju, dan enggan untuk menepi hanya bisa menghela napas. Tetapi, pria itu menyungging seutas senyum saat dia melihat sebuah mobil pick up, yang saat ini tengah membawa banyak orang.


"Pak tolong berhenti, dan ban-" Ucapan Kavin terhenti saat pengemudi mobil pick up itu, menaikkan kecepatan kendaraanya, dan itu membuat Kavin menundukkan kepala lelah.


Kavin kembali menegakkan kepalanya, dan itu bertepatan dengan datangnya sebuah mobil taksi, "Pak! Pak!" Teriak Kavin sembari melambaikan tangan. Sopir taksi yang melihat itu, malahan langsung bergidik ngeri, menaikkan kecepatan mobilnya, dan itu berhasil melunturkan senyum Kavin.

__ADS_1


"Katanya manusia itu saling membantu satu dengan yang lainnya! Tapi di mana kalian! woi! di mana kalian brengsek!" Kavin sudah lelah, dan dia mulai bertekuk lutut di pinggir jalan.


Bukannya merasa iba, malahan para pengendara yang melihat itu, langsung bergidik. Mungkin dalam pikiran mereka, Kavin itu orang gila, "Tolong..." Kavin mulai berujar sangat lirih, dan tak terasa sebutir air hangat keluar begitu saja dari pelupuk matanya.


"heh— tolong...." Kavin berucap dengan terkekeh di awal kalimatnya. Sekarang pria itu sedang menertawakan dirinya sendiri, karena dia sudah bersikap bodoh. Iya, dia mengira sekarang dirinya bersikap sangat bodoh, dengan hanya berteriak di sini.


Kavin bangkit dari berlututnya, menghapus kasar air matanya, dan dia langsung mengayunkan langkah mendekati Mika, "Sialan mereka semua," umpat Kavin, dan dia bergerak untuk jongkok di depan Mika.


"Aku tidak akan menyerah, karena tidak ada orang yang memberikan kita tumpangan. Aku akan menggendong kau hingga rumah sakit terdekat, jadi aku minta bertahan."


Kavin mulai menarik kedua tangan Mika, melingkarkan dua lengan pucat itu di lehernya, "Memang manusia baik jarang ada di dunia ini. Jadi, aku akan berjuang untuk menyelamatkan kau, karena kau satu-satunya manusia paling baik yang aku kenal." imbuh Kavin sembari bangkit dari jongkoknya, dan dia langsung berjalan ke arah timur.


Dia lagi-lagi tidak memperdulikan kakinya, yang mulai meninggalkan jejak-jejak darah di setiap langkahnya, dan sementara itu napas Mika semakin melemah, diikuti oleh keluarnya banyak darah dari dalam mulut. Membuat, pundak Kavin dipenuhi oleh darah segar, yang belum pria itu sadari.


...T.B.C...


...Aku tidak mau berkata-kata...


...Yang jelas, aku😭😭😭😭...


...See you next part...

__ADS_1


...Yok 7500 hadiah aku update lagi....


...Jadi yok kirimkan hadiah kalian...


__ADS_2