Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
Part 37. Suapi aku.


__ADS_3


...(Ini nih ceritanya aku lagi ngambek, dan jangan tanya ngambek ke siapa? ya jelaslah ke siapa lagi, kalau bukan gadis desa itu. Pokoknya aku itu lagi enggak mau bicara sama dia lagi)...


...***...


Mika dengan masih menggunakan mukenah miliknya, terus saja berlari dengan kepala menoleh ke belakang. Dalam pikirannya, sekarang gadis itu harus buru-buru melarikan diri.


Dia tidak memikirkan apapun lagi, termasuk Kavin yang dia tinggal sendiri di sana, tidak ada dalam pikirannya. Bukan karena apa-apa yah, tapi Mika itu sedang ketakutan, dan dia juga tidak sadar meninggalkan Kavin.


'semoga saja yang punya kebunnya tidak ngejer,' batin Mika penuh harap.


Sekarang gadis ayu berkulit hitam manis itu, sudah berlari di pematang sawah, dan Mika juga tidak menyadari kalau dia sudah hampir sampai di tempat perkemahannya.


Malahan Mika semakin mempercepat laju larinya, hingga dia tanpa sadar memijakkan kakinya ke tanah yang berlubang, dan itu membuat dia tersungkur jatuh.


Mulut Mika langsung terbuka, untuk mengeluarkan ringisan tanpa suaranya, dan karena tersungkur, dia sadar jika sudah sedari masuk ke kawasan persawahan.


Mika bangkit dari tersungkurnya, dengan kedua tangan menepuk-nepuk mukenah yang sudah dipenuhi oleh debu. Dia berjalan gontai mendekat ke pematang sawah, dan tanpa menunggu lama. Mika langsung memposisikan diri untuk duduk di sana.


Panas, gerah, lelah langsung menyerang sekujur tubuh Mika, membuat wanita itu bergerak cepat melepas mukenah yang dia kenakan, 'ini semua gara-gara pria kota it- oh tidak. dia— dia masih ketinggalan,' batin Mika yang baru saja menyadari Kavin masih tertinggal sendiri di sana.


Mika bangkit dari duduknya, melepas bawahan mukenah yang dia gunakan, dan dia hendak melangkah kembali ke kebun, tempat dia dan Kavin akan mencuri tadi.


Namun, baru saja Mika melangkah, gadis itu memutar tubuhnya, dan kembali duduk di pematang sawah, 'Mika jangan bodoh. Jika kamu kembali, kamu akan berada dalam masalah, dan pasti Kavin akan menjadikanmu kambing hitam,' bisik jin dalam diri Mika, membuat gadis itu menganggukan kepala membenarkan bisikan itu.


'dia tadi bilang bisa beli tuh kebun. Jadi, lebih baik aku tunggu dia di sini. Daripada nanti aku yang bakalan disalahkan,' batin Mika, dan wanita itu merebahkan diri di atas pematang sawah, dengan mukenah yang dia letakkan di atas perutnya.

__ADS_1


"Mika!" teriak Inak Hayati, membuat Mika bangun dari tidurannya, "Keloran ne kance Kavin bareh (Makan ini bareng dengan Kavin nanti)," imbuhnya sembari menyerahkan sepiring nasi dengan lauk tahu, tempe, dan juga sambel.


Mika langsung mengambil alih piring itu dari tangan Inak Hayati. Terlihat Inak Hayati mengedarkan pandangan seperti sedang mencari sesuatu, 'embe laik Kavin (kemana perginya Kavin)?" tanya Inak Hayati, dan Mika hanya bisa mengangkat bahunya.


"aok wah. inget, keloran tie kance Kavin (iya sudah. Ingat, makan itu bareng sama Kavin)," imbuh Inak Hayati, dan wanita paruh baya itu langsung kembali berkumpul dengan orang tua lainnya. Sedangkan Mika menghela napas lega, meletakkan piring berisi nasi itu di sebelahnya, dan dia kembali membaringkan tubuhnya.


***


Sudah sepuluh menit berlalu, tapi Mika masih belum melihat batang hidung mancung Kavin kelihatan. Sekarang gadis itu mulai merasa khawatir, dan sedari tadi pikirannya hanya tertuju pada Kavin.


Sedari tadi Mika memanjatkan doa berharap Kavin hanya digebukin, dan setelah itu dia dibiarkan pergi. Masalahnya sekarang perut Mika itu sudah sedari tadi bunyi, dan dia ingin sekali menyantap makanan lezat yang ada di piring itu.


Namun, tadi Inak Hayati meminta dia untuk makan bersama dengan Kavin. Tetapi, yang ditunggu belum juga muncul, 'lebih baik aku cari saj-' ucapan dan gerakan Mika untuk berdiri terhenti, kala dia melihat Kavin berjalan dengan tampang songongnya.


Jangan lupakan sarung yang lilitannya sudah tidak beraturan itu, membuat dia terlihat semakin songong. Terlebih lagi satu sudut bibirnya terangkat, dan kesan songong itu sangat cocok untuknya sat ini.


Namun, Mika tidak begitu fokus melihat wajah Kavin. Malahan gadis ayu itu, sekarang sedang menatap tas plastik berwarna hitam yang dia tenteng berjalan mendekatinya, "Hai gadis desa," sapa Kavin dengan masih memamerkan raut songong miliknya, membuat Mika mengerutkan dahinya.


Mika yang melihat itu langsung membaut isyrat tangan, "Jika enggak mau dilihat, ngapain Tuan duduk di depan?"


Kavin yang melihat isyrat itu langsung mendelikkan mata ke arah Mika, "Kenapa kau yang sewot? wong ini tempat umum, dan aku mau duduk di manapun terserah aku. Jika kau tidak mau lihat aku, kau aja yang pergi sana," jawab Kavin songong, dengan menoyor kening Mika.


Mika yang mendengar itu, bergerak bangkit dari duduknya, dan hendak pergi meninggalkan Kavin. Tetapi, dengan cepat pria itu menarik tangan Mika, hingga gadis itu kembali duduk, "Siapa yang suruh kau pergi gadis desa?" imbuh Kavin, dan Mika hanya bisa menaikkan satu alisnya.


Ini nih, bicara sama Kavin itu emang memusingkan. Tadi bukannya dia yang meminta Mika pergi, dan kenapa dia malah menghalanginya. Mika yang mendengar perkataan Kavin, kembali melakukan isyrat tangan, "Tadi bukannya Tuan yang meminta aku pergi?"


"Kapan? tadi, aku bilang jika kau tidak mau melihatku, kau boleh pergi. Tetapi, sekarmag aku tahu kau mau melihatku, dan karena suasana hatiku baik, aku izinkan kau melakukan itu. Walaupun aku lagi ngambek, dan enggak mau bicara sama kau sih," jelas Kavin panjang lebar, membuat Mika melongo tidak mengerti.

__ADS_1


'astaga kenapa ada orang percaya diri seperti dia sih. Jujur yah, aku sekarang tidak mau melihatnya, tapi itu percuma aku katakan, dan dia akan pura-pura tidak mengerti,' batin Mika tidak percaya akan sikap Kavin ini.


"Wah ada makanan," celetuk Kavin, dan Mika yang mendengar itu langsung mengingat kalau dirinya belum makan, "punya siapa?" imbuh Kavin bertanya.


Mika yang mendengar itu, langsung melakukan Isyarat, "Aku dan Tuan. tadi Inak Hayati yang kasih."


Kavin hanya menggukan kepala. Mika yang melihat itu kembali melakukan isyrat tangan, "Apa isi tas plastik itu?"


Melihat Isyarat tangan itu, Kavin langsung meletakkan tas plastik hitam itu tepat di tengah-twngah mereka, "Mangga," jawab Kavin singkat, "dan ini semua milikku," imbuhnya.


Mika kembali melakukan isyrat tangan, "Bagaimana cara kau mengambilnya? Bukankah tadi ada penjaga kebunnya di sana?"


"Kau itu banyak tanya. Orang tampan, dan cerdas sepertiku ini, sangat mudah mendapatkan ini." Mika hanya menganggukkan kepala, dan dia kembali ingin membuat isyrat tangan, "Jangan banyak isyrat lagi, dan buruan suapi aku. Dari tadi perutku sudah bunyi," imbuh Kavin membuat Mika melongo.


"Gadis desa kau dengarkan? Cepat suapi aku, jika kau mau kita baikkan lagi," ujarnya kembali membuat Mika mau tidak mau mengikuti kemauan Kavin. Soalnya jika dibantah, mereka tidak akan selesai-selesai. Terlebih lagi jika Kavin sudah dalam mode seperti ini.


"Gadis desa buruan suapi aku," imbuh Kavin. Mika hanya bisa menganggukkan kepala, membuat Kavin menyungging senyum senang, "habis ini kita akan makan mangga sama-sama, kau tenang saja." Mika hanya mengangguk saja, yang penting pria kota didepannya ini diam.


...T.B.C...


...Gimana Part ini...


...Jangan lupa kasih hadiah ❤️, atau kopi, dan jangan lupa untuk berikan tiket votenya yah. Satu lagi, bantu share!...


...Ada kata buat:...


...Kavin?...

__ADS_1


...or...


...Mika?...


__ADS_2