Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
Part 40. Perkara Jakun.


__ADS_3

...Udah pada mampir belum di cerita baruku?...


...Jika belum pada mampir, silahkan mampir, dan kalian pasti akan ketagihan...


...Aku tunggu mampirnya yah di new story, "Cinta Terhalang Restu Abi"...



...(Kata si Kavin: Ini hari yang indah. Dia sudah bertekad untuk bekerja keras, dan tidak lagi menyudahi Mika. Apalagi tadi malam dia lihat Mika pegal-pegal)...


...***...


Malam telah berganti, menjelma menjadi pagi yang indah, dipenuhi oleh suara kicauan burung-burung, dan juga samar terdengar suara padi-padi yang pagi ini sudah mulai dipanen oleh Amak Kasim beserta kawan-kawan.


Iya, sedari selesai menunaikan ibadah shalat subuh tadi, mereka semua langsung memulai kerja. Soalnya sawah yang akan dia panen sat ini, cukup besar, dan untuk mempercepat waktu. Mereka langsung mulai.


Tidak ada yang mengeluh, begitu juga dengan Kavin. Saat ini, pria itu sedang dalam kondisi tubuh yang dipenuhi oleh kobaran api semangat. Dia sedari tadi fokus memotong-motong batang padi, tanpa sekalipun beristirahat.


Padahal kemarin, Kavin itu kebanyakan istirahatnya dari pada kerjanya. Tetapi, sekarang malah sebaliknya, dan karena hal itu pula. Mika geleng-geleng kepala.


Sedari tadi Mika memperhatikan Kavin. Dia hanya bisa senyam-senyum saat melihat Kavin yang jongkok, dan memotong-motong batang padi, 'tumben sekali dia tidak mereng-'


"Gadis desa! Apa yang kau lakukan? Bukannya bekerja, kau malah senyam-senyum tidak karuan!" sembur Kavin, membuat kata-kata pujian dibenak Mika menguap, 'ternyata masih nyebelin,' ujar batin Mika, dan wanita itu langsung kembali bekerja.


Kavin yang melihat itu, 'dasar aneh. Tembem sekali dia senyam-senyum seperti itu, apa jangan-jangan dia mulai suka padaku?' batin Kavin menerka-nerka dengan terus memikirkan kemungkinan-kemungkin yang membuat Mika senyam-senyum ke arahnya.


***

__ADS_1


"Zaly ayok kita mengelilingi pantai Kuta ini lagi. Soalnya kita di sini tinggal empat hari lagi," ajak Agker yang saat ini sudah rapi dengan celana pendek bermotif bunga, kemeja lengan pendek bermotif pohon kelapa, jangan lupakan kaca mata hitam yang sudah bertengger di hidung mancungnya, dan sebuah kamera yang tergantung di lehernya.


Sementara Zaly yang sedang diajak pergi, hanya duduk dengan punggung tersandar di kepala sofa. Wanita itu sedang asik menonton tv, dan dia sekarang sedang menikmati serial yang tadi dibuatkan oleh Agler.


"Zaly ayok lah. Masih banyak tempat yang belum kita kunjungi," imbuh Agler lagi, membuat kedua mata Zaly melirik ke arahnya.


"Aku tidak akan kemana-mana sebelum Kavin pulang. Jadi, jika kau ingin, sana pergi saja sendiri, dan berhenti membuat aku kesal! Aku sudah kesal karena Kavin belum kembali ke sini, dan kau semakin menambah kekesalanku!" Zaly bangkit dari duduknya, dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar.


'Kavin lagi, Kavin lagi. Apa kamu tidak pernah bosan menyebut namanya?: batin Agler sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan dengan mengembuskan napas lelah. Dia terpaksa untuk mengelilingi pantai Kuta ini sendiri.


***


Tidak terasa hari sudah berganti siang, dan para pekerja perampek sekarang tengah beristirahat. Begitu juga dengan Kavin yang saat ini sedang duduk dengan kaki terlentang, kedua tangan berdiri tegap menyangga tubuhnya.


Kavin sekarang duduk dengan kepala mendongak ke atas langit. Pria itu juga sedari tadi menghela napas terdengar sangat kelelahan, "jadi ini yang dirasakan oleh gadis desa itu. Sumpah capek bener, mana panas banget," gumam Kavin, membuat Mika yang baru saja tiba dengan sebotol air tersenyum.


Mika hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, dan dia langsung memposisikan dirinya untuk duduk di sebelah Kavin, "Kau— sejak kapan?" celetuk Kavin setelah menyadari keberadaan Mika yang sudah ada di sebelahnya.


"Baru saja, tapi saya mendengar perkataan Tuan tadi."


Kavin yang saat ini sedang meneguk minumannya dengan jakun naik turun, hanya bisa menganggukkan kepala, dan Mika yang melihat itu langsung saja terpesona, dan tangannya spontan terulur untuk menyentuh jakun Kavin.


Kavin yang masih belum selesai minum, hanya bisa menaikkan satu alisnya sat dia melihat tingkah laku Mika. Seketika kedua matanya memicing saat dia melihat pergerakan tangan Mika, yang perlahan mendekati area lehernya, dan....


"Khuk! khuk! khuk!" Kavin terbatuk-batuk saat tangan Mika berhasil menyentuh jakunnya.


Sementara itu, Mika langsung berdiri, dan memijit tengkuk Kavin, "Apa khuk! yang khuk! kau lakukan gadis desa!" sembur Kavin dengan masih terbatuk-batuk.

__ADS_1


"Sudah hentikan, aku bilang hwntikan!" titah Kavin berteriak. Mika langsung menghentikan gerakannya memijit tengkuk Kavin, dan dia kembali duduk di sebelah pria itu.


Mika langsung menjewer telinganya sendiri seolah ingin meminta maaf, atas apa yang dia lakukan tadi. Sementara Kavin, kedua mata coklatnya itu langsung menatap sinis ke arah Mika.


Padahal, setelah minum dia berniat memuji Mika. Tetapi, keinginan itu langsung menguap, dan digantikan oleh kekesalan, "Apa yang tadi kau lakukan? Kenapa kau dengan seenaknya memegangi jakunku?" tuding Kavin dengan nada sinis.


Mika langsung membuat isyrat dengan tempo pelan, "Saya tidak bermaksud untuk seperti itu Tuan. Tadi, saya hanya terkejut dengan benda yang bergerak di leher tuan, dan saya mencoba untuk memeriksanya."


Melihat itu, Kavin hanya menaikkan satu alisnya, dan raut wajah sinis masih tercetak jelas di wajahnya, "Kenapa kau ingin memeriksanya?"


Mika kembali membuat Isyarat, tapi bedanya sekarang wanita itu menundukkan kepala, "Aku takut itu membahayakan Tuan, karena benjolan itu aneh."


"Angkat kepalamu," titah Kavin, dan Mika menuruti permintaan Pria itu, dan kedua matanya langsung melihat ekspresi ketakutan di wajah Mika.


Kavin yang tadinya hendak mengomel, malah terpaksa mati-matian untuk menahan agar dirinya tidak tersenyum, 'kenapa kau begitu menggemaskan sih,' batin Kavin, dan pria itu ingin sekali mencubit pipi Mika.


Namun itu hanya ungkapan dalam hati, karena pria itu mempunyai gengsi yang tinggi. Akhirnya dia membuka suara, "Bodoh! hentikan ekspresi jelek milikmu itu, dan karena tadi kau telah membuatku tersedak, kau harus memijatku. Jadi buruan." Mika yang saat ini merasa bersalah hanya bisa mengangguk, dan dia langsung berpindah tempat duduk, ke belakang punggung Kavin.


Sementara Kavin, pria itu hanya bisa bersorak girang dalam hati, "Sudah jelas, dia ini sudah terpesona kepadaku,' batin Kavin yang begitu percaya dirinya.


...T.B.C...


...Gimana part ini?...


...Hadiahnya jangan lupa yah!...


...Ada kata buat pasangan kita?...

__ADS_1


...See you next part!...


...Sekali lagi aku ingatkan untuk kalian mampir ke ceritaku yang ada di bawah ini👇...


__ADS_2