Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
104. Hari Menjelang Pernikahan 5


__ADS_3

...Doubel update buat kalian, karena besok sudah mulai tanggal satu. Jadi, aku enggak bisa jamin bakalan up cerita ini sering-sering yah....


...Because, Ada deadline yang harus aku kerjakan di sebelah, karena satu ceritaku sudah berhasil kontrak....


...Dan itu alasan kenapa nama Kavin sering ketukar dengan nama Radit, karena selalu kepikiran cerita di sebelah 😝....


...Okeh stay reading****🤭...


...Maaf jadi curhat, maklum outhornya jumbo, dan enggak punya tempat curhat selain Kavin😝😝....


...****************...


"Akhirnya sampai tujuan juga," celetuk Zaly saat mobil yang dikendarai oleh Kavin sudah berhenti tepat di parkiran sebuah butik terkenal yang berada tepat di ibu kota Jakarta.


"Oh iya Mika— kau lihat bangunan tinggi di situ?" imbuh Zaly sembari jadi telunjuk mengarah ke bangunan butik yang menjulang sangat tinggi, tapi tentu saja tidak lebih tinggi dengan sebuah gedung pencakar langit di sebelahnya itu.


Mika yang diajak bicara mengangguk dengan tatapan mata, mengikuti telunjuk Zaly, "Itu namanya butik. Pasti di tempatmu tidak ada bangunan megah seperti itu kan?" Zaly bertanya dengan nada yang seolah terdengar seperti menyombongkan kepunyaan daerahnya kepada Mika, yang datang dari desa.


Sedangkan Mika yang ditanya seperti itu dengan polosnya menggelengkan kepala, dan itu membuat Kavin yang sedari tadi melihatnya dari kaca spion gemes sendiri.


"Berarti kau belum pernah sama sekali masuk ke sana dong? Kalau begitu, nanti kamu bersikap baiklah, dan jangan buat kami malu dengan mengeluarkan sikap kampungan yang kau miliki itu yah," peringat Zaly, dan Mika lagi-lagi mengangguk sebagai jawaban seolah tidak marah mendengar ucapan Zaly yang bermaksud ingin menyinggungnya.


"Zaly berhenti mengganggunya." Agler menyeletuk, membuat Zaly memanyunkan bibirnya sok imut, walau memang dia imut sih. Buktinya sekarang Agler tengah menahan degup jantungnya yang perlahan bergemuruh.


"Ayok turun. Ini sudah sangat terlambat sayang," ujar Kavin yang entah kapan sudah membuka pintu mobil penumpang bagian belakang.


Mika yang mendapatkan perlakuan manis itu hanya mengulas senyum. Seandainya dia bisa berbicara. Dia ingin sekali mengatakan terima kasih, tanpa embel-embel gerakan isyrat.


"Hati-hati," ujar Kavin sembari memegangi pergelangan tangan Mika, seolah ingin membantu sang istri agar keluar dengan selamat.

__ADS_1


Sedangkan Zaly yang melihat perlakuan manis Kavin ke Mika, hanya bisa menahan amarah, dan juga rasa sesak yang tiba-tiba saja menyelimuti jantungnya, "Jangan sedih seperti itu, princess. Ayok turun," tutur Agler yang juga sudah membuka pintu penumpang bagian belakang untuk Zaly.


Wanita dengan sifat manja yang sudah mendarah daging itu, langsung bergerak keluar dari dalam mobil, tidak ada ucapan terima kasih yang dia keluarkan. Padahal si pria sangat ingin mendengar kata-kata itu barang sekali, walau pun tak selalu.


Akhirnya dengan mencoba tersenyum. Agler kembali menutup pintu mobil, dan dia langsung bergegas mengejar Zaly yang sudah berjalan cepat mengikuti Kavin. Di mana pria itu sekarang sedang berjalan sambil menggenggam jemari Mika sangatlah erat, seolah pria itu sangat takut kehilangan. Itu yang Agler lihat.


***


"Mika sini," Zaly dengan sembrono menarik tangan kiri Mika, hingga membuat. satu tangan yang sedari tadi berpegangan dengan Kavin terlepas, "lihat— ini pasti cocok ditubuhmu."


Zaly menunjukkan sebuah dress terbuka berwarna ungu cerah, dan jika digunakan aku jamin bagian dada, punggung, dan paha hingga betis Mika akan terekspos, karena dress itu lebih cocok digunakan untuk pergi ke kelab malam, "Lucu dan sangat pas ditubuh mungil milikmu." Zaly berucap dengan nada heboh sendiri.


Sedangkan Mika yang sedari tadi mendapati sikap Zaly seperti itu mulai merasa aneh, dan juga risih. Iya— sebenarnya sudah berulang kali Zaly melakukan ini. Setiap dia melihat baju-baju seksi. Dia pasti akan menarik Mika, dan meminta Mika untuk mencobanya.


Namun, Kavin yang melihat itu, kembali mengambil alih tangan calon istrinya dan dia akan mengucapkan, "Aku rasa baju kurang bahan seperti itu lebih cocok jika kau yang mengenakannya, dan lagian. Kami datang ke mari untuk melihat baju pengantin. Jadi, berhentilah bertingkah seperti itu, paham?" Sudah sepuluh kali lebih Kavin mengatakan itu, dan sudah sepuluh kali lebih pula Zaly akan berucap.


"Permisi— Tuan Kavindra, dan Nyonya Kavindra?" celetuk seorang gadis muda, membuat Kavin beserta Mika menolehkan kepala ke belakang.


"Iya— saya sendiri," jawab Kavin sembari bergerak memutar tubuhnya, diikuti oleh Mika yang juga berputar hingga tepat menghadap ke gadis muda berpakaian pegawai butik itu.


"Nyonya— Vina sudah menunggu Tuan di ruangannya untuk melihat baju pengantin yang sudah dia pilihkan sesuai permintaan Tuan." Kavin yang mendengar itu hanya tersenyum, dan dia langsung menoleh untuk melihat wajah hitam manis calon istrinya yang sekarang juga sedang mengembangkan senyum.


"Baiklah— silahkan nona tunjukkan jalannya," pinta Kavin dan gadis muda yang bername tag Dewi itu menganggukkan kepala, kemudian. Dia mengayunkan langkah terlebih dulu.


Kavin yang melihat itu langsung melangkah mengikuti Dewi, dengan terus menggenggam tangan Mika yang sedari tadi celingak-celinguk seolah sedang terpukau dengan tempat itu.


Maklum gadis dari desa gays.


Sedangkan Zaly yang melihat itu ingin ikut melangkah, tapi dia mengurungkan niatnya, karena sadar. Walau dia ikut ke sana, Zaly hanya akan menggores luka dihatinya.

__ADS_1


"Bukankah sudah aku katakan untuk tidak ikut?" celetuk Agler, membuat Zaly menoleh ke arahnya.


"Cerewet." Zaly berucap sembari merebut tumpukan dress yang ada di tangan Agler, "Dia bilang aku akan cocok jika memakai ini, dan itu pertama kalinya dia mengatakan hal ini, Lio," imbuhnya dengan nada girang, dan dia langsung tunggang-langgang berjalan menuju kasir, untuk membayar semua pakaian yang Kavin bilang sangat cocok jika dia kenakan.


***


Satu jam telah berlalu, dan sekarang Kavin masih setia berada di dalam ruangan Nyonya Vina Apriliana— pemilik butik berlantai empat ini.


Kavin sedari tadi melihat pantulan dirinya yang sekarang sudah terbalut sebuah pakaian pernikahan dengan atasan, sebuah jas berwarna biru kehitaman yang dipadatkan dengan kemeja putih polos di mana dua kancing atas kemeja itu dia biarkan terbuka. (maklum dia enggak mau pakai dasi, karena ini hanya fittings saja kan).


Sedangkan untuk bawahannya adalah sebuah celana kain yang berwarna senada dengan jasnya, dan jangan lupakan sepatu pantofel berwarna hitam mengkilat.



"Kenapa pegawaimu itu sangat lama mengurung calon istriku, Vina?" celetuk Kavin yang masih berdiri di depan cermin dengan tangan yang sedari tadi menyisir rambutnya.


Sedangkan Vina yang tadinya sibuk dengan laporan di laptopnya, menoleh ke arah Kavin, "Pegawaiku tidak akan melakukan apapun kepada istrimu. Jadi, sabar dan tunggu saja. Lagian, salah sendiri. Kenapa kau semalam meneleponku di pagi buta, dan meminta untuk disiapkan sepasang baju pengantin."


"Tapi, baju yang kau pilihkan lumayan juga, terima kasih. Kau memang sepupu yang dapat diandalkan," puji Kavin, dan Vina Apriliana, sepupu Kavin hanya berdeham sebagai jawaban.


"Pasti Bibi akan senang melihat anak kesayangannya akan menikah, dan sebentar lagi akan berstatus suami," celetuk Vina yang mulai membicarakan almarhum Mama Kavin yang dimana Bibinya, karena Ibu dari Vina adalah adik kandung Mama Kavin.


"hemm," jawab Kavin dengan masih setia melihat pantulan dirinya di depan cermin, tapi sedetik kemudian dia menghela napas, dan langsung membalikan badannya melihat ke arah pintu toilet yang tidak ada tanda-tanda terbuka.


"Ini sudah sangat-sangat lama. Tolong kau pecat sa~ja." Kavin mengakhiri ucapannya dengan nada slow saat tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka, dan....


...T.B.C...


...Berjumpa kembali besok😝😝...

__ADS_1


__ADS_2