Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
107. Terbang Ke Awang-awang.


__ADS_3

Waktu yang menegangkan di mana, tadi. Kavin mengucapkan akad nikah telah berakhir dengan satu kali tarikan napas. Tegang? Tentu saja pria itu merasakan ketegangan yang paling-paling nyata dalam hidupnya melebihi dari rasa tegang pada saat acara merebutkan tender.


Namun, beruntunglah Kavin tidak salah mengucap, pun tadi setelah saksi, Agler dan juga Zaly mengucapkan sah. Kavin langsung berdiri, dan tanpa tahu malu memeluk erat tubuh Mika.


Sedangkan Mika yang mendapatkan pelukan tiba-tiba itu hanya diam, dengan pipi yang merona. Senang? Sudah pasti wanita itu sangat senang, gembira, dan bahagia walau tidak ada sorak-sorai tawa yang dia keluarkan dari dalam mulutnya.


Sementara Zaly. Setelah dia mengatakan kata sah, wanita cantik itu langsung melangkah pergi dengan mata yang berkaca-kaca, dan tanpa ada kata selamat untuk kedua mempelai. Padahal dia sudah bersiap-siap di jauh-jauh hari, tapi tetap saja dia masih belum rela Kabin mempersunting orang lain.


Ingin marah? Dia tidak bisa, karena tepat setelah kedatangan Kavin malam itu. Orang tuanya tiba-tiba mwngatkan kalau dia tidak bisa bersanding dengan Kavin, dan Zaly yang mendengar itu tentu saja langsung meledak.


Namun, beruntunglah ada Agrel yang selalu bisa menenangkan gadis manja itu dengan kata-kata bujuk rayu disertai janji palsu, dia mampu menenagkan Zaly. Walau pada akhirnya si wanita manja itu menginginkan sesuatu yang sangat sulit Agler setujui.


Sedangkan Agler. tentu saja dia juga ikut pergi, tapi tidak seperti Zaly. Sebelum pergi, dia terlebih dahulu mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, dia juga memberi sebuah hadiah supaya langgeng selalu, dan baru setelah itu. Ia melenggang pergi mengejar Zaly.


Dan sekarang. Terlihat Kavin dan juga Mika tengah berdiri untuk menyambut salam selamat, serta doa yang diberikan oleh para tamu undangan yang bagi Kavin sendiri. Ini sangatlah merepotkan.


Jujur, sekarang dia ingin sekali tunggang langgang pergi bersama gadis yang sudah sah menjadi istri. Tetapi, keringanan itu terpaksa dia urungkan, karena itu sikap yang tidak baik. Terlebih lagi yang sekarang datang adalah kolega bisnis Papanya, dan ada juga teman-teman SMA serta teman-teman kuliahnya dulu, pun ikut meramaikan.


"Selamat untuk Tuan dan Nyonya Bagaskara. Semoga pernikahan kalian langgeng hingga tua," ujar seorang tamu undangan memberikan ucapan salam dengan kedua tangan sudah menyatu, dan berada di dada.


Kavin yang mendengar itu, hanya mengulas senyum kecil, "Maaf tuan. Sepertinya Tuan telah salah menyebut nama. Saya tidak memakai marga Bagaskara. tetapi, saya memakai Kavindra, dan nama itu diberikan langsung oleh almarhum Mama saya." Kavin menyanggah perkataan salah satu tamu undangan itu dengan nada yang sangat hormat, tapi terkesan tegas.


Sedangkan Rama yang berdiri di sebelah Kavin, hanya menarik dua sudut bibirnya. Dia tidak marah, karena sang anak tidak mau menggunakan marga Bagaskara. Dulu saat Pria yang sudah berstatus suami itu lahir. Almarhum istri pertama Rama langsung memberikan bocah kecil itu nama, Alfarizi Kavindra, tanpa ada embel-embel Bagaskara.


Rama bertanya kepada almarhum istrinya, kenapa dia tidak menyematkan nama Bagaskara? Dan almarhum istrinya menjawab, dia akan membuat marganya sendiri untuk anak-anaknya kelak.


"Ohhh, begitu kah? Maafkan saya kalau gitu Tuan Kavindra." Si tamu undangan berbicara dengan nada dibuat kaget, dan setelahnya dia mengatakan maaf.


Kavin yang melihat itu, hanya mengangguk, pun Mika yang sedari tadi hanya menunjukkan senyum kikuk. Terbelah lagi jika ada yang bertanya siapa namanya. Kavin langsung secepat kilat menjawab, seolah dia sudah menjadi mulut pengganti milik Mika yang tidak bisa mengeluarkan suara.


***


Jam terus berputar pada porosnya, hingga tanpa di duga hari yang tadinya terik sekarang sudah berganti menjadi malam yang sunyi. Kenapa sunyi? Yah karena tamu undangan sudah sore tadi nyelonong pergi, pun sekarang keluarga besar Bagaskara sudah tepar di kamar masing-masing.


Padahal jam baru saja menunjukkan pukul delapan pagi, dan adzan Isa baru saja selesai berkumandangnya. Tidak ada yang melakukan ibadah shalat, kecuali sepasang suami istri yang baru saja sah tadi pagi.


"Semoga kamu tetap jadi istri yang penurut." Sang suami berkata sembari memberikan tangan kananya untuk disalami oleh istrinya.

__ADS_1


Sedangkan sang istri. Setelah menyalami dan mencium punggung tangan suaminya, mengangguk diselingi dengan seutas senyum, "Aku mencintaimu." Tepat setelah ucapan cinta Kavin menggema memenuhi sudut ruang kamar, tiba-tiba saja suara gemuruh, dan setelahnya suara rintikan hujan yang membentur atap terdengar.


Akhirnya hujan turun, setelah sedari tadi langit malam ditutupi oleh awan mendung., "Hujan?" imbuh Kavin dengan kepala celingak-celinguk mencoba melihat situasi diluar, dari jendela yang belum tertutup gorden.


Setelah lelah mengintip. Kavin kembali memandang istirnya yang sekarang masih terbalut mukenah, "Mas akan tutup gorden dulu, dan kamu duluan saja ke ranjang!" perintah Kavin, dengan menyebut kata Mas diawal kalimatnya.


Iya, beberapa jam yang lalu. Kavin meminta Mika untuk membuat isyrat kata-kata Mas, jika sedang bicara dengan dirinya.


Mika yang mendengar perintah itu, hanya mengangguk patuh sesuai apa yang dikatakan penghulu tadi tentang seorang istri yang harus mematuhi perkataan suaminya.


Kavin yang melihat anggukkan kepala itu, bergerak bangkit dari posisi duduknya, pun dia juga membantu Mika agar bangkit.


Mika yang sedari tadi mendapatkan perlakukan manis, dan penuh perhatian itu hanya bisa tersenyum, dan langsung melangkah pergi dari hadapan sang suami, "Dasar pemalu," ejek Kavin, dan pria itu juga bergerak melangkah mendekat ke jendela untuk menurunkan gorden.


Sedangkan Mika. Saat ini dia berada di depan lemari, dan sedang melipat-lipat mukenah yang tadi dia pakai untuk shalat. Tidak ada gerakan selain tangannya yang bergerak, hingga dua buah lengan kekar menyusup dari celah pingganggnya, dan langsung melingkar di perutnya membuat dia sedikit tersentak.


Namun, itu hanya sebentar karena setelahnya. Dia tersenyum saat melihat wajah suaminya yang saat ini sedang menempelkan dagunya di pundak kanan Mika.


"Mas, malam ini merasa sangat senang." Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Kavin untuk pertama kalinya.


"Senang sudah menikah denganmu, senang sudah tidak lagi hidup sendiri, dan sekarang sudah bersamamu," imbuhnya diselingi dengan sebuah gigitan-gigitan kecil di pundak istrinya yang sontak membuat Mika memejamkan mata.


Mika yang mendengar pertanyaan itu perlahan membuka mata, dan kepalanya juga mulai menoleh ke arah kanan untuk melihat senyum bahagia yang tersungging di bibir Kavin.


"Kamu malam ini sangat cantik." Sudah sepuluh kali Mika mendapatkan pujian itu, dan sudah sepuluh kali pula Mika memerah malu, "kenapa ekspresimu begitu? Apa kamu kira, mas bohong?"


Tuk!


Mika mengetuk kening Kavin dengan pelan, dan setelahnya dia meraih peci hitam yang bertengger di kepala suaminya, "Sayang, sakit." Kavin merengek, membuat Mika yang sedang menaruh peci ke dalam lemari terkekeh karena mendengar rengekan itu.


Kavin yang melihat sang istri hanya terkekeh memanyunkan bibirnya, "Sayang— aku bilang itu sakit, tapi malah ketawa." Kavin berucap sinis, dan itu berhasil membuat Mika bergerak memutar tubuhnya hingga posisi mereka sekarang saling berhadapan.


"Sayang ...." Kavin masih saja mengeluarkan rengekan, dan Mika yang melihat itu tahu apa kemauan sang suami.


Dia menjanjikan kakinya, dan....


Cup!

__ADS_1


Satu kecupan bersarang di kening Kavin, membuat sang empunya tersenyum semakin lebar. Mika yang melihat itu, bergerak melakukan isyrat tangan.


"Sudah enggak sakit lagi kan, Mas?" tanya Mika polos.


Kavin tersenyum penuh arti, "Sudah, obatmu memang mujarab," jawab Kavin, dan diakhiri dengan pujian. Mika yang mendengar itu hanya tersenyum, dan dia langsung menggerakkan tangannya untuk membuka kancing baju muslim sang suami.


"Ohh iya, sayang." Kavin menyeletuk hanya untuk membuat Mika menaikkan pandangannya matanya, tapi kedua tangan gadis itu masih bergerak membuka kancing baju muslim sang suami.


"Entah kenapa, hawa malam ini kok jadi dingin. Apa kamu tidak merasakannya?" imbuh Kavin dengan raut wajah dibuat bingung.


Mika yang mendengar itu, hanya bergerak menaikkan satu alisnya. dia mulai menyibak sisi kanan baju muslim sang suami, dan Kavin yang merasakan gerakan isterinya langsung bergerak mengeluarkan tangannya, dari lengan baju. Itu dia lakukan dengan tangan sebaliknya hingga sekarang pemuda itu sudah telanjang dada.


Mika kembali memutar tubuhnya menghadap ke lemari, dan posisinya saat itu kembali mengundang Kavin untuk memeluknya dari arah belakang. Bedanya sekarang dia sedang mendusel-duselkan wajahnya di celah leher Mika, membuat gadis itu merasakan geli.


"Sayang— aku bicara loh," geram Kavin sembari menggigit kecil leher sang istri, dan aksinya itu, sedikit mampu membuat Mika dan merasakan suatu hal yang aneh.


"Malam ini aku kedinginan," imbuh Kavin lagi, dan setelahnya mengatakan itu. Dia kembali menggigit kecil leher Mika membuat dua jejak kemerahan tercipta di tempat itu.


Mika yang mendengar itu, tidak mengerti maksud perkataan suaminya. Dia memasukkan baju muslim Kavin, dan dia langsung bergerak menutup pintu lemari.


Setelah pintu lemari dotutup, pantulan wajah mereka langsung terlihat di cermin. Kavin yang melihat wajah ayu Mika, semakin mempererat pelukannya, bahkan tubuh Mika sampai menemepel di tubuhnya.


Mika memejamkan mata, dan Kavin yang melihat itu mulai bergerak memutar tubuh Mika dengan perlahan, "Aku ingin memlikimu," gumam Kavin dengan pandangan mata yang tajam.


Mika yang mendengar itu, hanya menunjukkan raut wajah polosnya. Bahkan dia tidak sadar kalau sekarang tubuhnya sedang digendong oleh Kavin, tapi walau begitu. entah kenapa tangannya bergerak sendiri untuk melingkar di leher Kavin, pun kakinya yang juga melingkar di pinggang Kavin.


"Bolehkan aku melakukannya sekarang?" tanya Kavin dengan nada suara yang sudah berat, dan napas yang entah kapan mulai memburu. Sekarang darah pria dua puluh tujuh tahun itu sedang mendidih, walau di luar suasana hujan, dan AC di kamar masih menyala.


"boleh kan?" tanya Kavin kembali sembari menidurkan tubuh sang istri di atas ranjang. Mika hanya memejamkan mata disaat napas Kavin menerpa kulit wajahnya, "Aku mencintaimu."


Ungkapan cinta itu adalah, perkataan terkahir yang Kavin ucapkan, dan setelahnya suasana kamar berubah panas. Dingin yang diciptakan oleh pendingin ruangan, bahkan tak mampu mendinginkan suasana yang terjadi antara pasangan suami istri yang saat ini tengah memadu kasih, saling menindih, saling bertukar napas, hingga mereka merasa kalau malam ini mereka serasa terbang ke awang-awang.


...T.B.C...


...Maaf all jika adegan 21+nya enggak terlalu wow....


...Jujur, aku enggak bisa buat adegan begituan....

__ADS_1


...well maaf jika Feelnya enggak sampai. ...


...Ingat tiket vote yah😝...


__ADS_2