
Adzan Shalat Isa sudah sedari tadi terdengar. Malahan sekarang jam sudah menunjukkan pukul delapan tepat, membuat suasana motel yang ada di pesisir pantai Kuta nampak sangat berkilauan karena di sepanjang jalan paving blok terpasang beberapa lampu.
Di salah satu Motel, tepatnya di gerbang masuk salah satu motel. Terlihat Kavin sudah siap dengan kemeja berwarna biru dengan tiga kancing atas tidak saling bertautan, Sedangkan untuk bagian bawah. Dia menggunakan celana Levis berwarna hitam, dan dipadukan dengan sepasang sepatu berwarna coklat.
Dan itu sukses membuat aura ketampanan milik pria itu menyeruak.
Sekarang Kavin sedang duduk menunggangi sebuah motor beat yang mesinnya sudah sedari tadi menyala, "Gadis desa buruan! lo enggak udah dandan, karena itu percuma saja!" teriak Kavin sudah kesekian kalinya.
Iya, seperti yang dia katakan siang tadi. Kavin sekarang berniat mengajak Mika jalan-jalan, atau bisa dibilang kencan juga sih karena kebetulan ini malam minggu.
Setelah berteriak tadi. Kavin kembali melihat pantulan wajahnya dari kaca spion. Dia bergerak menyisir-nyisir rambut kecoklatannya dengan jemarinya, "Gadis des-"
cklek!
Bunyi pintu yang ditutup pelan, membuat ucapan Kavin terhenti, "Kau kenapa lama hah?" protes Kavin saat melihat Mika sudah keluar dari dalam motel.
"Padahal kau tidak ganti baju, tidak pakai make up, tapi ngabisin waktu di dalam lama bet," imbuhnya, dan itu langsung membuat Mika melakukan Isyarat tangan.
"Aku tadi mencuci piring terlebih dahulu Kavin."
__ADS_1
"Alasan aja kau. Buruan naik!" perintah Kavin, tapi Mika hanya berdiri diam, dan enggan untuk menaiki motor yang sedari tadi sudah siap melaju.
Kavin yang menyadari kalau Mika hanya berdiri mematung mulai berdecak, "Ck— ayok naik."
Mika menggelengkan kepala, dan gadis itu kembali melakukan Isyarat tangan, "Aku takut dibonceng Kavin."
Kavin yang melihat isyrat tangan itu kembali mengeluarkan decakan, "Ck— apa yang kau takutkan? Kau itu emang selalu tidak bisa mempercayai kehebatan yang aku punya, gadis desa," geram Kavin dengan kepala menoleh ke samping kiri, dan kedua tangan berada di pinggang.
Posisinya masih menunggangi motor, "Mau pergi enggak? Kalau mau buruan naik, kalau enggak yah harus dimau-mauin," imbuh Kavin, membuat Mika semakin menunjukkan ekspresi ragu-ragunya.
Mika bergerak melakukan isyrat tangan lagi, "Tapi Kavin beneran bisa bawa motor kan? Kavin enggak bakalan buat kita hampir jatuh seperti sore tadi kan?"
Iya, saat setelah Kavin berhasil menyewa motor. Mereka berdua hampir saja terjatuh, dan itu terjadi karena Kavin sengaja agar Mika berpegangan di pinggangnya.
"Kau itu kebanyak. isyrat tau enggak. Kau mau naik sendiri atau aku gendong naik ke atas sini," tawar Kavin, dan Mika yang mendengar itu spontan langsung bergerak naik, "dari tadi kek. Sekarang pegangan yang bener. Jangan kayak tadi sore, kalau mau selamat sampai tujuan," imbuh Kavin, dan Mika langsung menganggukkan kepala.
Kedua tangannya mulai bergerak menempel di punggung Kavin, dan itu berhasil membuat kesabaran Kavin menghilang, "Astagfirullah haladzim. Tau namanya pegangan yang bener enggak?" Kavin sampai-sampai melakukan istighfar diawal kalimatnya.
Mika memiringkan kepalanya, dan satu alisnya terangkat, 'apa caraku pegangan ini masih belum benar kah?' tanya Mika dalam hati.
Kavin yang masih belum melihat gerakan Mika yang mengubah cara pegangannya mulai mengerang marah. Pria dua puluh tujuh tahun itu kembali menarik kedua tangannya dari stang motor.
__ADS_1
"Mana tangan kau," pinta Kavin yang sudah memposisikan tangannya ke belakang diikuti gerakan kepalanya yang juga sedikit menoleh ke belakang.
Mika yang mendengar itu langsung memperlihatkan kedua tangannya, "Sini kan tangan kirinya," pinta Kavin sembari mengangkat tangan kirinya.
Mika yang melihat itu, langsung menyelipkan pergelangan tangannya di tangan kiri Kavin. Setelah mendapati tangan kiri Mika. Kavin langsung mengarahkan tangan itu melingkar di pinggang kirinya, "Ini namanya pegangan yang benar," tutur Kavin sembari meraih tangan kanan Mika, dan melakukan hal yang sama dengan satu tangan itu.
Sekarang posisi pegangan Mika iyalah memeluk pinggang Kavin, membuat si songong itu bersorak girang dalam hati. Inilah kenapa dia tadi lebih memilih menyewa motor dari pada mobil. Karena jika Kavin menyewa mobil. Mika tidak akan melakukan hal ini.
"Puluk pinggangku lebih erat, agar keselamatan kita terjamin. Ingat jangan sampai pegangan yang kau lakukan lepas. Jika, lepas maka rumah sakit akan menyambut kedatangan kita." Mika yang mendengar penuturan panjang lebar Kavin langsung mempererat pelukan di pinggangnya.
"Kau jangan berpikir yang aneh-aneh yah. Aku membiarkanmu memelukku, karena ini demi keselamatan kita. Lagian aku tidak merasa senang, karena kau memelukku. Jadi, jangan coba-coba berpikir seperti itu." Mika hanya menganggukkan kepala pasrah, karena dia sudah lelah mendengar ocehan Kavin yang tidak ada hentinya.
Kavin yang melihat raut wajah terpaksa Mika hanya bisa bersorak girang dalam hati, "Kita jalan yah." Setelah mengatakan itu, Kavin mulai menarik tuas gas motornya, membuat Motor beat itu bergerak.
Namun, dalam kecepatan yang sangat-sangat lambat, "Jika kau lelah. Kau bisa sandarkan kepalamu di punggungku," tutur Kavin dan setelahnya dia menaikkan laju motor beat itu, membuat Mika menempelkan kepalanya ke punggung Kavin karena rasa takut mulai menyerang gadis itu.
...T.B.C...
...Maafkan jika ada taypo, Karen aku nulis cerita ini jam setengah satu gays....
...Ingat Hadiah, Like, Vote, dan Komentar yah....
__ADS_1