Gadis Bisu Pemikat Hati

Gadis Bisu Pemikat Hati
128. Kebahagiaan Yang Abadi Dan Akhir.


__ADS_3

Jerit tangis sendu memenuhi kediaman keluarga Bagaskara. Puluhan manusia berbaju serba hitam berkumpul di dalam rumah dengan raut wajah sendu.


Dulu— tiga bulan lalu mereka semua menjadi saksi pengucapan akad nikah dari anak tertua keluarga Bagaskara dan sekarang mereka juga yang menjadi saksi kepergian istri dari anak tertua itu.


Iya, seluruh kolega bisnis Kavin semuanya datang untuk melayat, mengucapkan kata-kata duka dan kata-kata terkesan untuk menyemangati.


Namun, biar begitu Kavin hanya diam. Duduk bersila di sisi sang istri yang hanya menampakkan wajah memuatnya sedangkan sekujur tubuhnya sudah terbungkus kain kafan.


Tidak ada satupun ucapan atau setetes air mata yang laki-laki itu keluarkan, tapi percayalah. Kedua mata laki-laki itu memerah sangat merah.


"Berapa orang? Istri saya dikeroyok berapa orang dok?"


"Maksud Tuan?"


"Istri saya dianiayakan? Dilihat dari kondisi tubuhnya yang dipenuhi lebam. Sudah jelas-jelas dia meninggal karena di bunuh."


"Lebam? Tidak ada lebam di sekujur tubuhnya dan dia meninggal bukan karena di aniaya, tapi karena bunuh diri."


"Bunuh diri? Apa anda buta, hingga tidak melihat wajah istriku yang dipenuhi lebam?"


"Tapi hasil pemeriksaan medis tidak menyatakan si korban mendapatkan penganiayaan, Tuan."


Kavin semakin menajamkan tatapan matanya ke arah wajah damai istrinya saat dia mengingat percakapannya dengan sang dokter beberapa jam yang lalu.


Sungguh, Kavin masih tidak percaya dengan ucapan dari dokter itu walau dalam laporan memang benar tidak ada yang mengarah ke penganiayaan. Tetapi, dari mana luka yang ada di sekujur tubuh istrinya?


Memikirkan itu Kavin merasa dirinya tidak berdaya. Dia punya banyak uang, tapi dia tidak bisa menggunakannya untuk menyelamatkan sang istri. Jangankan menyelamatkan, mencari tahu penyebab istrinya meninggal saja dia tidak bisa.


Padahal dia sudah meminta detektif terkenal untuk memecahkan kasus ini, tapi ke manapun dia melapor hanya penolakan yang didapatkan.


"Tidak ada hal aneh di rumah ini. Jadi, ini murni bunuh diri,"


Kavin memejamkan mata saat perkataan polisi tadi pagi, terngiang-ngiang di otaknya dan mengganggu pikirannya.


Ingin rasanya Kavin berteriak dan mengutuk negeri ini, tapi apalah daya karena itu akan menjadi percuma.


Toh biarpun dia mengutuk, mencaci dan memaki. Istrinya tidak akan bisa hidup lagi, tidak bisa menemaninya saat lembur lagi, membuatkan kopi lagi, dan bahkan menemaninya ke kantor lagi.


Kavin kembali berteman dengan kesepian lagi, hidupnya kembali tertarik ke dalam kegelapan. Padahal baru saja dia mendapatkan cahayanya, tapi itu tidak bertahan lama.


Dia tidak bisa menjaganya agar cahaya yang awalnya redup dan dari hari ke hari tambah terang, malah mati di tengah jalan. Tiga bulan— rumah tangganya hanya bisa berjalan hingga tiga bulan.


Padahal di setiap sepertiga malam. Mereka selalu berdoa agar rumah tangga mereka bertahan lama. Setelahnya mereka akan sedikit berbincang-bincang membicarakan masa depan, tapi sekarang semua itu tidak berarti lagi.


Masa depan yang mereka bicarakan itu sudah menjadi abu-abu dan Kavin terjebak di gelapnya kegelapan hidupnya sebelum dia bisa sampai ke ambang warna abu-abu itu.


Kavin masih memejamkan mata. Posisi duduknya yang tadi bersila mulai dia tegakkan pun tangannya mulai bergerak memeluk lututnya dan laki-laki itu menenggelamkan wajahnya di celah-celah paha kanan dan kirinya.


"Aku tidak berguna," gumam Kavin yang diakhiri oleh isak tangis dan itu mengundang sepasang mata kedua orang tuanya untuk melihat ke arah anak laki-laki paling besarnya.


Rama yang sedari tadi memeluk istrinya yang menangis tersedu, mulai bergerak untuk ke sisi anaknya, "Nak," Rama berbisik dengan suara yang serak sembari merangkul pundak anaknya yang bergetar.


"Aku tidak berguna. Aku pria yang tidak berguna." Kavin semakin mengeluarkan racauan pun isakan tangisnya tidak bisa dia tahan untuk tidak keluar.

__ADS_1


"Siapa bilang anak Papa ini tidak berguna? Kau anak Papa yang paling baik. Jangan menyalahkan diri atas meninggalnya istrimu." Kavin hanya menggelengkan kepalanya mendengar suara serak Papanya yang mencoba membuat dirinya untuk tetap tegar.


Bukan hanya Papanya saja, tapi sudah banyak orang yang berkata seperti itu dan Kavin tidak peduli akan semua perkataan toxic itu.


Baginya, karena dia istri yang sangat dia cintai meninggal, "Jika saja aku tidak pergi, mungkin saat ini aku masih bersama Mika. Duduk berdua di kantor dengan dia yang menyuapiku." Lagi-lagi Kavin menyesali kepergiannya ke Australia.


Kata-kata penyesalan itu sudah sepuluh kali terucap di bibir Kavin, dan mungkin semua orang yang mendengarnya mula jengah. Kavin bergerak untuk merubah posisinya menjadi bersimpuh tepat di sisi kepala Mika.


Laki-laki itu langsung mengelus sayang pipi pucat bersih yang di sana terukir senyum yang sangat manis, "Sayang, bangun. Aku ada kabar gembira. Kamu tahu di Australia sana, aku mendapatkan dokter yang katanya bisa membuatmu bicara. Jadi, bangun, aku mohon bangunlah untukku."


Kavin mulai mercau tidak jelas. Semua orang yang menyaksikan hal itu hanya bisa menatap iba kepada laki-laki yang umurnya terbilang masih duda, tapi harus rela menyandang status duda karena istri tercintanya memilih untuk pergi meninggalkan dirinya dan berserah diri ke semesta.


"Nak." Kavin menulikan pendengarannya. Laki-laki yang sedari tadi menahan diri untuk tidak bersedih lagi itu terus meracau seperti seseorang yang sudah kehilangan akal.


Iya, Kavin lagi-lagi kehilangan akal dan alasan untuk hidupnya. Kenapa tuhan begitu setia untuk mempermainkan takdir kebahagiaannya.


Apa tuhan masih belum cukup mengambil Mama Kavin hingga dia begitu egoisnya kembali mengambil wanita yang teramat dicintai laki-laki itu?


***


Hening menyelimuti suasana tempat pemakaman umum. Tidak ada yang terdengar selain suara Isak tangis Kavin yang sedari tadi tidak ingin mereda.


Mungkin kalian akan mengira Kavin itu orang yang sangat lemah, dan itu memang benar adanya. Dia memang lemah dan hanya mencoba pura-pura menjadi kuat dari sikap dinginnya sebelum bertemu dengan Mika.


Sebelum bertemu dengan Mika, Kavin itu orangnya dingin. Dia tidak cerewet pun tidak pernah menunjukkan ekspresinya, tapi semua itu berubah setelah bertemu dengan Mika.


Kavin mulai bisa tersenyum saat dia bersama dengan wanita itu, Kavin juga bisa merasa bahagia saat dia saling bernada gurau dengan wanita itu, dan Kavin juga merasa sedih saat hendak meninggalkan wanita itu.


Terlebih lagi saat dia melihat semua orang yang sok memamerkan kesedihan mereka, begitu terlihat seperti seorang penjilat. Padahal Kavin tahu benar gimana pandangan yang mereka berikan untuk Mika.


Pernah dulu dia membawa Mika untuk pergi ke sebuah pesta yang diadakan oleh kolega bisnisnya bernama— pak Licard yang sekarang tengah menunduk bersama sang istrinya untuk meletakkan bunga tepat di atas gundukkan tanah kubur istrinya.


"Semoga dia diterima di sisi, Tuhan." Kavin yang mendengar itu hanya terkekeh dalam hati, karena orang yang tadi berbicara seperti itu sangat jelas terlihat sedang menjilat.


'aku harap istrimu juga menyusul,' jawab Kavin dalam hati dengan raut wajah yang datar.


"Dia wanita yang sangat baik," timpal istri Tuan Licard yang terdengar jenaka ditelinga Kavin.


Pasalnya dulu, wanita itu jelas-jelas menunjukkan ketidak sukaannya kepada Mika, tapi seperti awan kelabu yang perlahan menutup bias cerah cahaya mentari di siang ini, ucapan seolah merasa kehilangan terlontar keluar dari dalam mulut wanita bermuka dua itu.


Ingin Kavin berteriak dan berkata enyah dari hadapanku, tapi itu hanyalah keinginan. Dia tidak mau merusak pertemuan Papanya hanya karena perkara seperti ini.


"Kenapa tuhan begitu sangat tidak adil?" gumam Kavin bertanya kepada setumpuk tanah yang saat ini berada dihadapannya dan kata-kata itu juga terlontar berbarengan dengan munculnya suara gemuruh.


Semua orang yang melihat perubahan cuaca itu langsung berpamitan satu persatu dan mereka juga tidak akan pernah lupa untuk kembali membisikkan kata-kata penyemangat untuk Kavin.


"Nak, ayok," Rama berucap sembari mencoba membantu anaknya untuk berdiri dari duduknya yang bersimpuh.


"Kenapa tuhan tidak begitu adil kepadaku?" Kavin tidak menjawab, tapi malah laki-laki itu meracau pun dengan kedua pandangan yang mulai kabur, karena air hangat mulai berkumpul di pelupuk matanya kembali.


Rama yang mendapatkan sikap acuh dari anaknya hanya bisa menghela napas. Laki-laki paruh baya itu memilih untuk menggenggam jemari istrinya yang sedari tadi tidak berhenti menjatuhkan air matanya.


"Mungkin, Kavin membutuhkan waktu yang lama dini sini." Rama langsung mengayunkan langkah untuk pergi meninggalkan area pemakaman umum bersama sang istri, dan juga satu anak laki-lakinya.

__ADS_1


"Yang kuat Vin. Gue tahu lu orang yang tegar," Agler berucap dengan wajah yang menunjukkan raut sendu.


"Iyah, masih banyak wanita diluar sana yang menginginkanmu." Zaly menimpali dan Agler yang mendengar itu langsung menatap tajam kearah wanita itu seolah ingin memperingatinya.


"Kami pergi dulu," pamitnya dan jujur. Kavin tidak benar-benar mengindahkan perkataan mereka semua.


Sekarang laki-laki itu fokus melihat tumpukan tanah basah yang ada di hadapannya, "Kenapa dia tidak adil?" Kavin masih melontarkan pertanyaan kepada gundukan tanah itu dengan tatapan mata penuh benci.


"Apa gunanya selama ini aku berdoa? Apa gunanya selama ini aku melakukan ibadah? Apa gunanya semua itu jika pada akhirnya dia tidak mengabulkan permintaanku untuk menghidupkan Istriku lagi, hah?!" Kavin mulai meracau dengan tangan yang mulai bergerak mengganggam tanah basah yang ada kecoklatan yang ada di hadapannya itu.


"Apa kau benar-benar ada?" tanya Kavin sembari mendongak ke atas langit up dia tadi juga melempari tanah kuburan istrinya ke udara.


"Jika kau benar-benar ada, kenapa permintaanku tidak kau kabulkan? Aku berdua siang sang malam padamu, aku bersujud siang dan malam padamu, tapi apa ini? Apa yang kau lakukan ini egois!" Kavin mulai menyalakan tuhannya.


Laki-laki itu mulai kehilangan akalnya.


"Kau egois! Kau mengambil semua yang berharga untukku. Pertama kau mengambil Mamaku, dan sekarang kenapa kau juga mengambil istriku. Dia wanita yang aku sayangi, dia wanita yang ingin aku jaga, dan kau malah memanggilnya ke sana." Kavin berteriak kepada langit yang tertutup awan mendung. Dia mencurahkan segala kekesalannya.


"Itu egois namanya! Aku mohon kembalikan istriku ke sini. Biarkan aku membahagiakannya lebih lama lagi," Kavin menundukkan kepalanya dan bersaman dengan itu butiran air hangat terjatuh dari pelupuk matanya.


"Kembalikan dia kepadaku, kembalikan dia kepada-"


"Hai, kenapa kamu berteriak seperti itu, mas?" Kavin membulatkan mata kala dia mendengar suara asing tapi terkesan bersahabat dengan gendang telinganya.


"Kenapa kau menyalahkan dia atas ini semua, hem?" Kavin menoleh ke kanan dan kiri saat suara asing itu begitu terayun dengan sangat merdu ke gendang telinganya.


Hingga kedua matanya terkunci saat dia mendongak dan mendapati wajah bercahaya milik sang istrinya yang tengah menambahkan tangan di atas langit sana.


"Mi— Mika," panggil Kavin dengan nada bicara yang gagap.


Sedangkan wanita yang melayang di atas sana dengan pakaian serba berkilauan itu semakin menyunggingkan senyum pun tangan kanannya semakin melambai.


"Mika jangan tinggalkan aku, sayang. Bawa aku bersamamu." Kavin berucap sembari merentangkan satu tangannya ke atas.


Sedangkan ruh yang sedang melayang itu hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari terus menyunggingkan senyum.


"Mas, harus tetap berada di sana karena jalan yang akan mas tempuh masih panjang," Kavin hanya bisa memejamkan mata kala suara merdu itu menusuk gendang telinganya.


"Bangkitlah dan lanjutkan hidup. Aku mencintaimu. Aku akan menunggumu di tempat kebahagiaan yang abadi ini." Berbarengan dengan itu rintikan air hujan turun dari awan mendung yang menyelimuti langit di atas sana.


Kavin yang mendengar itu langsung saja membuka matanya dan cahaya yang tadi dia lihat sudah hilang entah kemana.


Melihat itu Kavin Kavin hanya menyungging senyum ironi. Si matanya mulai semakin keluar dengan sangat deras dan langsung menyatu dengan hujan yang turun rintik-rintik, "Aku mencintaimu dan akan selalu begitu. Terima kasih atas semua kebahagiaan yang kamu berikan. Aku tahu ini sangat sulit aku terima, tapi melihat kamu yang tadi bahagia, aku akan mencoba untuk mengikhlaskan walau nyatanya pedih." Kavin bangkit dari duduknya. Dia memutar tubuhnya membelakangi kuburan sang istri.


"Seperti yang engkau katakan. Aku harus memulai kehidupan yang baru. Jadi, aku akan mencoba sedikit bertahan di sini hingga waktu pemanggilanku tiba. Tentu saja tanpamu."


Kavin melangkah dengan punggung yang coba dia tegakkan, walau sebenarnya sangat sulit untuk dia lakukan karena jujur. Mengikhlaskan itu tidak semudah saat tadi dia ucapkan.


Namun, seperti yang tadi dia katakan. Dia harus mencoba mengikhlaskan, melanjutkan hidup kembali, walau itu akan sangat sulit dia lakukan.


Terlebih ada satu kebenaran yang belum terungkap dari kematian dari istrinya ini.


...THE END...

__ADS_1


__ADS_2