Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Nikahkan Kami


__ADS_3

"Kalau begitu, bisakah kau mempersatukan kami lagi? Tanpa ada kesalahpahaman seperti yang diyakini oleh Nara selama ini?" Tantang Gladio. Pria tua ini rupanya licik juga. Memanfaatkan Arkha demi urusannya dengan Kanaya yang tidak bisa pria itu selesaikan sendiri.


"Apa ada jaminan kalau anda akan merestui hubungan kami?" Bukannya takut atau bagaimana. Arkha malah menantang balik kakek kekasihnya itu.


Di dalam dunia bisnis seperti yang mereka jalani seperti ini, tidak ada perjanjian yang hanya tersirat oleh lisan saja. Karena membalikkan situasi dalam keadaan tertentu sudah biasa mereka lakukan. Maka dari itu, Arkha mengambil langkah lebih cepat untuk mengantisipasi hal yang dapat memberatkan dirinya, bahkan bisa dibilang akan merugikan dirinya.


Bukannya marah atau tersinggung dengan ucapan pria muda yang ada dihadapannya saat ini. Gladio malah terkekeh melihat ketanggapan Arkha dalam menganalisis keadaan kedepannya.


"Haha ... pantas saja kau menjadi pengusaha muda paling sukses di kota ini dengan umurmu yang masih terbilang sangat bocah," ucap Gladio disela tawanya. "Ternyata kau cerdik juga, anak muda." Lanjut Gladio yang masih tertawa.

__ADS_1


Dia tidak salah memilih lawan untuk menguji perasaan pria muda ini. Pantas saja ada hal yang janggal, pada saat dirinya mendengar kalau pria yang tengah mebjalin kasih dengan cucunya ini malah mepublishkan hubungan dengan wanita lain. Sudah pasti pria ini telah mempersiapkan balasan yang tepat untuk lawannya tersebut.


"Saya anggap itu sebuah pujian," balas Arkha dengan tersenyum ramah.


"Lalu, restu yang bagaimana yang kau inginkan dari pria tua sepertiku ini, Arkha Al-Fatih Maerran?" Tidak heran bagi Arkha jika pria tua ini mengetahui nama lengkapnya. Karena kebanyakan orang tahu nama Arkha dengan sebutan Arkha Elajar.


"Restui kami dan nikahkan kami secepatnya," jawab Arkha menatap lekat ke arah mata Gladio. Dia benar-benar serius dengan ucpannya.


Mendengar hal itu, Gladio sedikit merasa kaget. Bagaimana bisa pria ini meminta sesuatu yang sangat sulit untuk ia kabulkan. Meskipun sudah melihat keseriusan pria ini terhadap cucunya, namun Gladio juga membutuhkan persetujuan dari cucunya terlebih dulu. Dia tidak mau memaksakan kehendaknya lagi pada Kanaya. Sudah cukup baginya hidup berpisah dengan cucunya tersebut.

__ADS_1


"Apa kau bercanda? Dengan Nara menikah denganmu, itu artinya dia akan mengikutimu kemana pun kau pergi. Lantas, untuk apa aku meminta bantuanmu untuk menyatukan kami kalau pada akhirnya kami tetap tidak bisa hidup bersama?" Gladio terkekeh dengan permintaan Arkha.


Jika hal itu ia turuti, maka semuanya akan sama saja. Tidak akan ada yang berubah. Cucu yang ia tunggu-tunggu selama ini kepulangannya, malah akan dibawa pergi oleh pria yang akan berstatus sebagai suaminya. Tidak! Gladio belum siap menerima itu semua. Ia ingin menghabiskan waktunya untuk bersama cucu satu-satunya tersebut. Momen yang sangat ia tunggu-tunggu selama ini.


"Ya, Sudah. Kalau memang Tuan keberatan dengan dua syarat yang saya berikan, maka Tuan sendiri sudah pasti tahu jawabannya. Jadi, janhan salahkan jika anak kami lahir nanti tidak mengenali Kakeknya," Arkha dengan sengaja berucap seperti itu.


Karena ia tahu, orang seperti Gladio tidak akan melewatkan sedikit pun info seseorang jika memang menyelidiki. Terutama pada saat dirinya menjebak Kanaya di kamar hotel. Pasti pria tua itu juga mengetahuinya. Apalagi Kanaya jugs pernah tinggal satu atap bersama dirinya.


Bibir Arkha tersenyum menyeringai, pada saat melihat mimik wajah Gladio berubah mengeras.

__ADS_1


__ADS_2