
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kanaya sedikit gugup dan takut. Namun rasa takut lah yang lebih dominan Kanaya rasakan sekarang ini saat melihat Keanu yang berdiri di ambang pintu.
Soalnya Kanaya tahu apa yang sedang terjadi antara Arkha dan Keanu. Pria itu lah yang sangat tega mengkhianati Arkha, sahabatnya sendiri hanya karena rasa sakit hati.
Sedangkan Keanu melangkah mendekat ke arah Kanaya dengan langkah yang pelan. Ada sedikit keraguan di dalam diri Keanu untuk tetap menyampaikan perasaannya. Karena ia tahu jawaban seperti apa yang akan Kanaya katakan. Namun, jika tidak ia sampaikan akan terasa mengganjal di hati. Sudah cukup lama Keanu memendam rasa ini. Semakin Keanu pendam, rasa itu akan semakin berkembang dengan seiring berjalannya waktu.
"Kay, ada yang ingin aku bicarakan kepadamu," lirih Keanu di saat sudah berada di dekat Kanaya.
Sementara orang yang merias wajah Kanaya, keluar dari kamar Kanaya. Karena tahu diri jika mereka membutuhkan waktu untuk bicara berdua saja.
"Ada apa? Katakan saja," balas Kanaya tanpa berniat menatap wajah Keanu secara langsung. Kanaya memilih menatap mantan bosnya itu dari balik cermin.
__ADS_1
"Bolehkah aku mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini kepadamu?" tanya Keanu dengan sedikit hati-hati. Takut-takut jika wanita ini akan mengusir dirinya sebelum mengungkapkan perasaannya. Keanu hanya ingin berdamai dengan hatinya. Ingin merasa lega dan tidak penasaran lagi.
Kanaya sedikit merasa ragu untuk mengiyakan keinginan Keanu. Takut-takut jika nanti pria itu akan berulah. Sedangkan saat ini hanya ada mereka berdua di kamar Kanaya.
"Apa? Kau tahu bukan? Jika aku tidak memiliki banyak waktu," putus Kanaya yang pada akhirnya memberikan Keanu waktu untuk berbicara kepada dirinya.
Keanu menarik napasnya dalam, lalu ia hembuskan dengan pelan. Mengulang kegiatan itu beberapa kali hingga dirinya merasa tenang dan siap untuk menyatakan perasaannya kepada Kanaya.
Namun, keadaan berubah hening seketika setelah pengungkapan perasaan Keanu dengan kalimat yabg sangat singkat. Percuma saja ia merangkai kata dengan begitu indahnya jika sudah tahu seperti apa jawabannya nanti. Setidaknya sekarang ini perasaan Keanu menjadi lebih lega setelah mengatakan perasaannya kepada Kanaya.
"Aku berterimakasih karena kamu mau memberikan perasaanmu itu kepadaku. Tapi kamu pasti juga tahu jawaban apa yang akan aku katakan, bukan?" tanya Kanaya lalu berdiri dari duduknya untuk kemudian menghadap ke arah Keanu.
__ADS_1
Keanu tersenyum melihat Kanaya yang begitu cantik dengan balutan gaun pengantin yang simpel, dan menonjolkan bahu putihnya. Serta riasan wajah yang lembut namun terlihat sangat cantik.
"Ya, aku tahu," jawab Keanu singkat. Kemudian Keanu berjalan ke depan menuju dimana Kanaya berdiri sekarang ini. "Bolehkan aku memelukmu sebentar? Anggap saja ini sebagai hadiah untuk perpisahan kita," pinta Keanu menatap penuh harap kepada Kanaya.
Kanaya nampak ragu, namun melihat Gladio yang datang secara tiba-tiba dan berdiri di samping pintu sembari menyandarkan tubuhnya di pinggiran pintu, Kanaya memberanikan dirinya. Merentangkan kedua tangannya ke arah Keanu.
"Kita masih bisa berteman, Kea. Seperti hubungan kita sebelumnya," ucap Kanaya sambil maju ke depan menyambut pelukan Keanu.
Keanu nampak memejamkan matanya. Andai saja dia menyatakan perasaannya lebih dulu daripada Arkha, mungkin saat ini yang berdiri di samping Kanaya adalah dirinya. Kembali ke takdir. Kita tidak bisa menolak takdir yang sudah digariskan untuk kita sebelumnya. Kita hanya bisa menerima dan menjalaninya dengan hati yang lapang.
"Khem!" dehem Gladio di ambang pintu hingga menyadarkan mereka berdua dari lamunan. "Apa sudah selesai sesi haru birunya? Bolehkah saat ini kita berganti dengan bunga yang bermekaran?" tanya Gladio menatap intens ke arah mereka. Entah kakek tua itu dapat perumpaan dari mana seperti itu. Membuat Kanaya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita turun ke bawah. Arkha pasti sudan tidak sabar ingin segera mengesahkan hubungan kalian. Apalagi melihat dirimu dengan balutan gaun pengantin seperti ini. Kau bagaikan bidadari yang kesasar ke bumi, Kay," puji Keanu yang mengikuti perumpaan aneh seperti Gladio.