
"Maaf," lirih Arkha lalu meniupnya sebentar. "Lain kali kalau ngomong itu dipikir dulu. Jangan asal nyeplos. Aku mau mgajak kamu datang ke acara pernikahan temanku nanti malam. Jadi, usahakan pas waktu makan siang nanti kamu udah siap. Jika tidak, aku yang akan membuatmu keluar dari sana." Lanjut Arkha sambil mengusap kembali kening Kanaya yang memerah.
Kanaya sedikit bingung, kenapa sikap Arkha akhir-akhir ini berubah lembut kepadanya. Pria itu berubah menjadi sedikit lebih manis, terkadang juga sangat peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh Kanaya.
Setengah hari ini, pikiran Arkha tidak bisa terpokus pada pekerjaannya. Di kepalanya selalu ada bayang-bayang Kanaya. Seperti apa wanita itu jika memakai gaun pilihannya nanti. Karena selama ini Kanaya hanya mengenakan pakaian kasual. Kaos yang kebesaran dan dipadukan dengan celana jeans panjang. Benar-benar bukan style wanita pada jaman sekarang. Apa lagi ini di negara barat, bukan di Indonesia.
"Aarghh! Aku bisa gila kalau seperti ini terus!" Arkha menjambak rambutnya dengan kedua tangannya. Tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. "Apa aku memang sudah benar-benar bisa melupakan Shanaz? Ah, tapi itu tidak mungkin. Tidak mudah menghapus bayangan orang yang bersama kita untuk waktu yang cukup lama. Tapi kenapa akhir-akhir ini bayangan wanita ceroboh itu selalu mengganggu pikiranku? Aku harus bagaimana, Josh? Kau tau sendiri, kan? Kalau aku selama ini hanya berpacaran dengan Shanaz saja, meski aku diperebutkan oleh banyak wanita." Arkha ingin memastikan perasaannya, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
Joshep tidak bisa berkata-kata lagi pada atasan, sekaligus temannya tersebut. Sudah berapa kali ia katakan pada Arkha, jika pria berusia dua puluh empat tahun ini sedang jatuh cinta.
"Kha, sudah aku katakan berapa kali. Kamu bukan seorang remaja yang baru mengenal cinta. Kamu pasti lebih tahu, apa yang hatimu rasakan dibanding orang lain. Pertimbangkan lagi, sebelum kau menyesal dikemudian hari. Karena kau pasti tidak mungkin akan jatuh ke dalam lubang yang sama lagi, kan?" Joshep menasehatj Arkha sebagai seorang teman, bukan lagi sebagai asisten.
Arkha menelaah lagi perkataan Joshep. Apa yang dikatakan temannya itu ada benarnya juga. Jika dia bergerak terlalu lamban, maka dia harus siap kehilangan wanita ceroboh itu. Karena di sekitar wanita ceroboh itu ada seorang pria yang juga menaruh hati pada wanita itu.
"Baik, kalau begitu aku akan jemput dia sekarang," putus Arkha setelah memikirkan apa yang harus ia lakukan. "Kosongkan jadwalku selama dua minggu ke depan. Aku akan mengurus masalahku dan kembali ke tanah air." Begitu mudahnya Arkha mengatakan itu semua kepada Joshep, tanpa melihat ekspresi Joshep seperti apa saat ini.
__ADS_1
"Enggak, aku cukup serius kali ini. Aku akan mengikuti apa yang kau sarankan tadi." Arkha berkata seolah tidak ada yang salah dengan ucapannya.
"Apa kau sadar dengan kalimat yang kau ucapkan, Tuan Arkha Al-Fatih Maerran?" Tanya Joshep sambil menekankan kalimatnya.
Kesabaran Joshep kali ini hampir habis dalam menghadapi atasannya yang memiliki sifat tingkat kebucinan akut, jika sudah menyukai seseorang. Tentu saja tidak ada yang mengetahui sifat Arkha yang satu ini. Hanya orang terdekatnya saja yang tahu.
"Kau ada pertemuan penting dengan beberapa relasi bisnis di berbagai kota, dalam satu bulan ke depan. Harap kau ingat itu, Kha!" Tegas Joshep.
__ADS_1
"Kau bisa menggantikanku. Mudah, bukan?" Balas Arkha begitu enteng. Kemudian Arkha beranjak dari duduknya, bersiap untuk menjemput Kanaya di restoran. Meninggalkan Joshep dengan amarah terpendam pria itu.
Maapken ya, Gues. Kalo nama Arkha berubah di cerita ini. Karena jujur, aku lupa nama panjangnya🤭