
"Apa maksud dari ucapanmu, Nara?" Tanya Gladio tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kanaya.
Bukannya menjawab, Kanaya malah semakin terisak. Wanita itu terus tetap berada di posisinya. "Arkha sedang berkelahi dengan Aldirck, Kek. Tadi Aldirck datang ke apartemen Nara, dan pria bajingan itu berusaha memperkosa Nara. Namun, Arkha datang tepat waktu dan menyelamatkan Nara, Kek," ungkap Kanaya di sela tangisnya.
Ia merasa jijik, karena Aldirck sudah berhasil menyentuh bagian dalamnya, meskipun hanya dengan tangannya saja. Ingin sekali Kanaya patahkan tangan pria itunyang telah berani menyentuh dirinya.
Mendengar hal itu, emosi Gladio langsung naik dengan pesat. Pria tua itu tidak akan membiarkan orang yang telah berani menyentuh cucu kesayangannya.
"Berani-beraninya bocah sialaan itu melecehkan cucuku." Geram Gladio. Rahangnya mengeras, serta tatapannya menajam ke arah depan.
__ADS_1
"Rudy, kau hubungi anak buahmu dan suruh mereka segera pergi ke apartemen cucuku. Jangan biarkan bocah bajingan itu lolos." Perintah Gladio kepada pria yang mengantarkan Kanaya tadi.
"Baik, Tuan." Sahut Rudy menganggukkan kepalanya.
"Dan jangan libatkan polisi dalam hal ini. Brantas tuntas kelompok yang dipimpin oleh bocah bajingaan itu. Siapa suruh telah mengganggu ahli waris keluarga Burrack."
Amarah Gladio rupanya kali ini tidak main-main. Pria tua itu benar-benar ingin menghancurkan Aldirck hingga sampai ke akar-akarnya. Cukup dulu dirinya ditipu oleh pria itu dengan sikap manisnya yang akan membantu dirinya memperbaiki hubungannya dengan Kanaya. Namun nyatanya pria itu malah memperdaya Kanaya dan menipu cucunya habis-habisan. Meskipun dirinya bisa saja langsung membalas perbuatan Aldirck, dulu. Namun Gladio tidak ingin semakin dibenci oleh Kanaya. Maka dari itu Gladio tidak ingin ikut campur. Akan tetapi tidak untuk yang satu ini. Pria bajingaan itu benar-benar mengibarkan bendera perang dengannya.
Sedangkan Lilliana yang sedari tadi memperhatikan ayah dan keponakannya itu, ikut menangis karena haru. Kini dirinya bisa merasa lega, setidaknya dengan kembalinya Kanaya ke rumah ini ia bisa melindungi keponakannya itu. Semua itu Lilliana lakukan untuk menebus kesalahannya kepada adik dan iparnya. Karena dulu dirinya tidak bisa melindungi mereka.
__ADS_1
Kemudian Lilliana melangkah mendekat le arah ayah dan keponakannya itu. Meskipun dirinya kelak bukan menjadi ahli waris dari keluarga Burrack, Lilliana tidak akan mempermasalahkan itu semua. Karena memang yang lebih berhak mendapakannya adalah adiknya, Arshen yang sudah meninggal. Sehingga kini Kanaya lah yang berhak mendapatkan semuanya itu.
"Selamat datang kembali, Illonara," ucap Lilliana di saat sudah dekat dengan Kanaya dan Gladio.
Kanaya menoleh ke asal suara, dan mendapati bibinya yang sudah berdiri di sampingnya. "Bibi, maafkan Nara yang selama ini egois," Kanaya langsung menghambur ke pelukan Lilliana. Dan tentu saja dengan senang hati Lilliana menyambut Kanaya. Memeluk erat keponakannya itu dengan penuh kerinduan.
"Tak apa, Sayang. Bibi lah yang salah selama ini. Yang tidak mengerti perasaanmu dan malah selalu memaksamu untuk pulang. Sehingga membuatmu menjadi benci kepada kami," Lilliana menyesalkan caranya dulu yang mengajak Kanaya pulang dengan cara yang kasar. Sehingga membuat Kanaya menjadi bencj kepadanya dan menyalahkan dirinya atas meninggalnya kedua orang tua Kanaya.
Kanaya dan Lilliana saling berpelukan, membuat Gladio senang karena kini anggota keluarganya berada di sisinya semua.
__ADS_1
"Kalau begitu, kita harus segera menyusul Arkha," ucap Gladio kemudian. Membuat Kanaya dan Lilliana mengurai pelukan mereka.