Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Posisi Yang Sulit


__ADS_3

Kanaya tidak bersuara lagi. Suaranya tercekat di tenggorokan. Apalagi pada saat tangan Arkha menyentuh lehernya yang putih dan mulus dengan gerakan sangat lembut. Membuat tubuhnya meremang seketika.


"Maunya dimana?" tanya Arkha berbisik.


Lalu tidak lama kemudian, ia mengalungkan sebuah kalung indah di leher Kanaya. Membuat wanita ini tercengang tidak percaya. Sikap yang ditunjukkan Arkha kepadanya, sangatlah begitu manis, menurutnya.


"Kak," lirih Kanaya setelah mendapatkan suaranya kembali.


"Huust! Kamu terlihat lebih cantik saat memakai ini," ucap Arkha membenarkan letak kalung yang baru saja ia pasangkan di leher Kanaya.

__ADS_1


Kemudian Kanaya memegang kalung tersebut dengan bermotifkan bintang dan di dalamnya terdapat sebuah bulan sabit.


"Bukankah ini terlalu berlebihan untuk kamu berikan padaku?" tanya Kanaya, meskipun ia sangat menyukai kalung itu. Seolah pria ini sangat tahu apa yang ia suka. Namun, Kanaya tidak berani beranggapan seperti itu. Takut jika nanti ini hanya sebuah kebetulan semata.


"Jangan pernah mencoba untuk melepasnya. Meskipun hanya satu menit saja," ancam Arkha sembari membalikkan tubuh Kanaya agar menghadap tepat ke arahnya.


Kini mereka saling menatap dalam diam. Saling menyelami manik mata mereka, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga pada akhirnya Arkha memutus kontak mereka terlebih dulu. Lalu apa yang Arkha lakukan selanjutnya membuat Kanaya berkali-kali menutup mulutnya yang terbuka. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang ini. Bahkan, para penjaga butik berteriak histeris saat Arkha tiba-tiba saja berjongkok tepat di depan Kanaya.


"Nay," Arkha tidak menghiraukan pandangan orang lain terhadapnya. Ia juga tidak mendengarkan kalimat yang Kanaya katakan padanya.

__ADS_1


Arkha meraih tangan Kanaya, lalu ia kecup punggung tangannya dengan sangat lembut. Sekali lagi membuat para penjaga butik dan perempuan lain yang melihat adegan itu merasa tersipu sendiri serta berteriak pada Arkha. Memberikan semangat pada pria itu.


Sedangkan Kanaya merasa bingung harus berkata apa lagi pada Arkha. Karena pria itu tidak akan menghentikkan tindakannya sebelum tujuannya tercapai.


"Nay," panggil Arkha kembali. "Maukah kamu menjadi istriku? Membesarkan anak kita bersama-sama?" ucap Arkha menatap penuh Kanaya. Tidak sedetik pun pria itu mengedipkan matanya. "Aku tidak ingin pisah dengan anakku, Nay," lanjut Arkha saat Kanaya akan menarik tangannya darinya.


Arkha beranggapan kalau Kanaya pasti akan menolak dirinya. Karena ia tahu, jika wanita ini masih belum bisa membuka hatinya untuk orang baru. Maka dari itu, Arkha mengucapkan kalimat yang berbeda dari kebanyakan orang saat mengajak kekasihnya untuk menikah. Karena kasusnya dengan kasus kebanyakan pasangan lain sangatlah berbeda.


Arkha yakin, dengan dirinya mengungkapkan kalimat seperti itu, Kanaya tidak mungkin bisa menolak dirinya. Pasalnya kini pengunjung butik yang memperhatikan mereka semakin bertambah. Dalam hatinya, Arkha tersenyum penuh kemenangan. Para pengunjung itu seolah menunggu Kanaya menjawab pernyataan dirinya.

__ADS_1


Sedangkan Kanaya diam membisu di tempatnya. Bingung mau menjawab seperti apa. Karena kalimat pernyataan merupakan jebakan baginya. Bagaimana tidak, dalam pernyataan kalimat pria ini, menyatakan kalau memang dirinya tengah hamil dan mereka menantikan anak itu.


Tidak ada pilihan bagi Kanaya. Mau menolak, nanti dia dibilang sebagai ibu yang egois. Karena tidak memikirkan kebahagiaan anak yang tengah dikandungnya itu jika berpisah dari ayahnya. Mau menerima, ia tidak mencintai pria ini. Bagaimana bisa hidup dalam misi yang sama, sementara rasa mereka berbeda.


__ADS_2