Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Calon Menantu


__ADS_3

Setelah tiba, Arkha dan Kanaya istirahat sebentar kemudian Arkha mengajak Kanaya ke pusat pembelanjaan terbesar di kota ini. Ia ingin mengajak Kanaya berkeliling di sana. Agar wanita itu terbiasa dengan kebiasaan orang di kota ini.


"Apa kamu mau membeli baju?" tawar Arkha dengan nada suara lembut. Pria itu terlihat begitu perhatian dengan Kanaya.


"Ah, enggak. Kita, kan di sini nggak lama," balas Kanaya. Karena Arkha pernah mengatakan jika mereka di sini hanya sementara.


"Ya udah, kalau begitu aku yang milih. Karena kita nanti juga akan menghadiri sebuah pesta. Kita akan memakai baju pasangan," putus Arkha. Lalu menarik lembut tangan Kanaya menuju sebuah butik yang ada di gedung tersebut.


"Kenapa harus pasangan? Jika selera kita tidak sama," tanya Kanaya.


"Karena tradisi di sini seperti itu. Jika kita datang ke sebuah acara bersama, kita harus mengenakan baju pasangan," jelas Arkha yang semuanya bualan semata. Nyatanya, tidak semua pasangan mengenakan barang yang pasangan juga.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Arkha, Kanaya hanya bisa menganggukkan kepala. Lucu juga jika semua pasangan mengenakan barang yang sama. Pikir Kanaya. Karena ini merupakan hal yang baru ia ketahui.


"Kapan acara itu? Aku tidak sabar ingin melihat setiap orang mengenakan barang yang sama," ucap Kanaya nampak antusias. Karena ini merupakan pengalaman pertamanya.


Hal itu sukses membuat Arkha mengulum senyumnya. Wanita itu tidak tahu saja, jika Arkha sudah merencanakan sesuatu yang akan membuat Kanaya shock. Namun, sebelum itu ia harus membicarakan rencana itu kepada kedua orang tuanya terlebih dulu. Ia harus meminta pendapat mereka yang akan tiba nanti sore dari Surabaya.


"Mungkin lusa, atau malah bisa lebih cepat dari yang sudah direncanakan," jawab Arkha.


Kemudian mereka memilih baju pasangan itu di butik tersebut. Setelah mendengar alasan dari Arkha. Kali ini Kanaya nampak lebih antusias memilih baju yang dia inginkan dari sebelumnya. Tentu saja juga harus cocok dengan Arkha.


"Kak, kenapa motifnya sama semua di mataku?" bisik Kanaya mendekat ke arah Arkha. Bahkan terlalu dekat, karena Kanaya berbisik tepat di depan kuping Arkha seraya menjinjit. Membuat pria itu sedikit terperanjat kaget. Tidak biasanya wanita ini mendekati dirinya lebih dulu.

__ADS_1


"Biar aku saja yang memilih, jika memang kamu bingung," tawar Arkha setelah berhasil menetralisirkan degupan jantungnya.


"Enggak. Nggak perlu. Aku tidak yakin jika kamu yang milih," ucap Kanaya menolak tawaran Arkha. Kemudia ia melangkah pergi meninggalkan Arkha.


Kanaya nampak serius memilih baju yang akan ia kenakan di acara nanti. Memakai baju saat mengahdiri acara pesta dengan motif yang unik, membuat Kanaya tidak sabar menunggu waktu itu segera datang.


Sedangkan Arkha nampak tersenyum melihat Kanaya yang cepat sekali berubah mood-nya dan kesal padanya. Ia memang sengaja membawa Kanaya ke sebuah butik yang khusus menyediakan baju batik di butik tersebut. Ia ingin melihat reaksi wanita bule itu seperti apa. Ternyata memang sesuai dugaannya.


Kanaya berkeliling di butik itu, karena merasa tidak ada yang cocok dengannya, kemudian ia meminta bantuan pada penjaga butik.


"Permisi," sapa Kanaya pada pegawai butik. Tentu saja dengan menggunakan bahasa inggris. "Apa ada gaun yang cocok denganku? Tapi jangan terlalu terbuka di bagian depan," Kanaya memberitahukan seperti apa yang ia inginkan. "Oh, ya. Aku mau motifnya yang seperti itu," tunjuk Kanaya lagi dengan motif batik bunga lily.

__ADS_1


Sedangkan Arkha yang melihat itu hanya menggeleng kepala. Ternyata, dimana saja tempatnya jika menemani seorang wanita berbelanja di sebuah Mall, akan sangat membosankan. Lalu ia memutuskan untuk menunggu Kanaya di sofa yang ada di dekat jendela butik tersebut.


Sembari menunggu Kanaya, Arkha melakukan panggilan pada orang tuanya yang ada di Surabaya. Arkha berpesan pada mereka, untuk tidak kaget jika dirinya membawa calon menantu untuk mereka.


__ADS_2