
Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih delapan belas jam, akhirnya pesawat yang di tumpangi oleh Arkha dan Kanaya mendarat dengan sempurna di bandara Soekarno-Hatta. Arkha keluar dari bandara tepat pada pukul empat pagi. Tidak lupa tangannya menarik lembut tangan Kanaya. Wanita itu nampak begitu letih setelah menempuh perjalanan jauh. Karena ini merupakan yang pertama bagi Kanaya datang ke Indonesia.
Arkha menuntun Kanaya menuju mobilnya. Karena kepulangannya di majukan satu hari, dan Arkha tidak menghubungi keluarganya terlebih dulu. Jadi, Arkha memutuskan untuk menghubungi sahabatnya terlebih dulu, dan meminta Revald untuk menjemput dirinya di bandara.
"Maaf, menyuruhmu pagi-pagi begini untuk menjemputku," ucap Arkha setelah sampai di depan Revald. Ia tidak enak telah merepoti Revald.
Namun, ucapannya tidak ditanggapi oleh Revald. Sahabatnya itu terlihat melongo mengamati wanita cantik yang tengah berdiri tepat di samping Arkha. Seolah tidak mau memalingkan wajahnya dari wanita itu. Hingga tepukan keras yang Arkha berikan pada bahu Revald, mampu menyadarkan dia dari lamunannya.
"Sudah, jangan diliatin terus!" Arkha mengibaskan tangannya di depan wajah Revald lalu menarik Kanaya agar lebih dekat lagi ke sisinya.
__ADS_1
"Yaelah, Kha. Liat doang, nggak akan berkurang juga," keluh Revald bercanda. "Ada kloning-nya nggak, Kha? Kalau ada, aku mau dua. Nggak usah banyak-banyak. Jangan lupa dikaretin yang warna merah," candanya lagi dan langsung mendapat tonyoran kecil dari Arkha.
"Ya, kali, nasi pecel!" Ucap Arkha di balas cengiran oleh Reclvald. Sementara Kanaya hanya diam menyimak obrolan dua pria yang tidak ia mengerti.
Kemudian mereka segera meninggalkan area bandara. Arkha meminta Revald untuk mengantarkan ke sebuah hotel bintang lima yang ada di Jakarta. Ia tidak memilih langsung pulang ke kadiaman keluarga Elajar. Karena ingin memberi kejutan kepada Tanisha, besok.
Selain itu, ia ingin memperkenalkan terlebih dulu kepada Kanaya tentang budaya yang ada di negara ini. Agar wanita itu tidak kaget nantinya jika bertemu dengan kedua keluarga besarnya.
Bukan Arkha namanya jika tidak bisa membuat lawan bicaranya terkena serangan jantung mendadak. Lalu langkah selanjutnya yang pria jahil itu lakukan, mendekat ke arah Revald seraya membisikkan kalimat yang dapat membuat sahabatnya itu kaget bukan main.
__ADS_1
"Asal kamu tahu, kita udah tinggal satu atap di LA." Bisik Arkha kemudian melangkah masuk ke dalam hotel Queen Snow, meninggalkan Revald yang berdiri mematung. Terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Arkha padanya.
Setelah melakukan chek-in, Arkha menarik Kanaya menuju kamar mereka. Ia sengaja memesan satu kamar, karena wanita itu pasti masih belum terbiasa berada di sini. Selain itu juga agar ia bisa menerangkan apa saja yang boleh untuk Kanaya lakukan, dan apa saya yang dilarang saat berada di dalam keluarga besar Elajar. Apalagi nanti orangtua kandungnya juga berkunjung ke Jakarta.
Arjun dan Dina, merupakan orangtua kandung Arkha dan Yutasha. Orangtua Arkha sekarang ini tinggal di Surabaya, kota kelahirannya. Karena papanya Arkha sudah pensiun, maka beliau memutuskan untuk kembali ke Surabaya dan membuka toko roti di sana.
"Kenapa tidak meminta dua kamar saja?" protes Kanaya sesaat setelah mereka masuk ke dalam kamar dengan ukuran yang tak kalah luas dari apartemen Arkha di LA.
"Buat apa harus terpisah, jika raga kita sudah pernah menyatu," jawab Arkha seraya mengedipkan salah satu matanya ke arah Kanaya. Menggoda wanita itu merupakan hal yang membahagiakan baginya saat ini.
__ADS_1
Sementara Kanaya menatap jengah ke arah pria yang selalu melontarkan rayuan kepadanya.