Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Cara Yang Salah


__ADS_3

Ucapan Yutasha bagai titah yang tidak bisa Erlangga abaikan begitu saja. Karena menurutnya juga ini pilihan yang baik untuk keduanya. Membiarkan Kanaya hidup dengan kemauannya sendiri, sementara Arkha biar sadar akan apa yang telah ia perbuat selama ini.


"Kakk... Aku nggak bisa tanpa Kanaya, Kak...! Tolong aku," pinta Arkha dengan nada suara yang pilu.


Baru kali ini Yutasha melihat adiknya memohon sampai seperti ini. Namun, ia harus tegas. Semua ini juga untuk kebaikan bersama. Agar adiknya sadar dengan langkah yang telah dipilihnya itu salah.


"Tapi caramu salah, Arkha!" Sarkas Yutasha.


"Aku mencintai Kanaya, Kak. Aku nggak bisa tanpa dia," Arkha masih terus berusaha untuk membujuk kakaknya.


Melihat istrinya yanga akan meledak lagi emosinya, Erlangga segera menari lembut tubuh Yutasha hingga jatuh ke dalam dekapannya. Berusaha menenangkan sang istri agar mereda emosinya. Setelah di rasa reda, Erlangga segera mengajak Yutasha untuk pulang ke rumah dan meninggalkan Arkha dalam penyesalannya.

__ADS_1


Sebelumnya, Erlangga sempatkan untuk memberi nasehat kepada adik iparnya tersebut. "Intropeksi lah terlebih dulu. Pikirkan sebelum bertindak. Kakak yakin, kamu tahu apa yang musti kamu lakukan demi kebaikan wanita itu. Hargailah pilihannya," setelah mengucapkan kalimat itu, Erlangga keluar dari kamar hotel yang Arkha tempati. Menyusul istrinya yang lebih dulu keluar.


Sepeninggal Yutasha dan Erlangga, Arkha berdiam diri di ranjang. Lalu matanya menangkap ponsel Kanaya yang terletak di atas nakas. Dengan segera, Arkha mencoba menghubungi orang terdekat wanita itu. Memindai satu per satu nama yang ada di kontak. Tidak banyak nomor yang tersimpan di ponsel wanita itu, hingga cukup mudah bagi Arkha untuk menganalisa mana teman Kanaya melalui percakapan singkat yang ada di chat.


Dengan kesadaran yang tersisa, Arkha berganti pakaian yang sudah lusuh untuk kemudian membawa langkahnya pergi ke luar kamar. Ia berniat mencari Kanaya di bandara. Mengingat wanita itu tidak tahu menahu tentang kawasan di kota ini. Takut-takut jika Kanaya akan bertemu dengan orang jahat. Ia juga tidak lupa menghubungi Joshep, untuk segera menghubungi dirinya jika sudah menemukan wanita itu.


Sedangkan di sisi lain, terlihat seorang wanita tengah menyeret kopernya dan berhenti dipinggir jalan berniat untuk menghentikan taxi. Tidak berapa lama, taxi pun datang. Wanita utu masuk dan mengatakan kepada sopir agar mengantarnya menuju bandara.


"Ke bandara, Pak. Kalau bisa tolong lebih cepat ya, Pak." Pinta Kanaya pada sopir itu.


Sopir itu menganggukkan kepala, lalu melajukan taxi-nya dengan kecepatan penuh. Suasana jalan masih sedikit sepi, karena waktu juga masih pagi.

__ADS_1


Kanaya ingin menghubungi Monica, meminta bantuan sahabatnya itu agar mencarikan kos baru untuk ia tempati. Sehingga jika dirinya sudah sampai, tinggal menempatinya saja. Namun, pada saat tangannya merogoh ke dalam tas, ia tidak menemukan benda yang sedang ia cari.


"Bukankah sudah aku masukkan ke dalam tas semalam?" gumam Kanaya sembari terus mencari ponselnya. Mengingatnya kembali setelah pertengkarannya dengan Arkha, ponselnya memang masih berada di atas nakas dan belum ia masukkan ke dalam tas.


"Astaga... Apa itu artinya ponselku masih berada di kamar hotel itu?" Kanaya menepuk jidatnya.


Wanita itu menyalahkan dirinya sendiri yang memang selalu ceroboh dalam melakukan sesuatu hal. Bagaimana bisa ia melupakan benda sepenting itu. Lantas dengan cara apa sekarang untuk menghubungi Monica, sementara ia tidak hapal betul nomor Monica.


"Yang penting ke bandara dulu saja, deh. Pulang dan langsung ke tempat Monica," putus Kanaya selanjutnya yang tidak mau ambil pusing dengan permasalahan yang berawal dari kecerobohannya sendiri.


Di sisi lain, ada seorang pria yang meminta bantuan kepada pria paruh baya, nampun penampilannya masih terlihat segar dan bugar. Pria muda itu menjelaskan masalah yang sedang ia hadapi, dan memohon bantuan agar pria paruh baya itu mau menolong dirinya.

__ADS_1


"Blockade area bandara sekarang juga!" Titah pria paruh baya tersebut.


__ADS_2