Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Membulatkan Tekad


__ADS_3

Setelah mendengar permintaan dari ayahnya, Liliana menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan Kanaya. Karena dari terakhir dirinya bertemu dengan keponakannya itu, dia sedang bersama seorang pengusaha muda. Maka dari itu, Liliana menyuruh orang-orangnya untuk menyelidiki pengusaha muda tersebut.


"Kali ini Tante benar-benar akan membawamu pulang, Nara. Karena kesehatan Kakekmu semakin hari semakin menurun. Takut-takut jika menunggumu untuk pulang lebih dulu, orang itu akan mengacau keluarga kita lagi. Cukup dengan kehilangan adikku dan istrinya saja. Aku tidak akan membiarkan hidupmu juga akan dirusak lebih lama lagi. Semoga saja orang yang bersamamu saat ini adalah orang yang baik dan bisa melindungimu. Dengan begitu, kami akan tenang melepas semua apa yang memang seharusnya menjadi milikmu dari dulu," gumam Lilian setelah menghubungi orang suruhannya.


Sementara itu Kanaya sedang merajuk kepada seorang pemuda yang kini tengah menyeret kopernya dan koper dia sendiri. Sudah dibuat penasaran, namun ujungnya tidak diberitahu juga. Membuat Kanaya benar-benar ingin membunuh pria ini. Apalagi pria itu menyuruh dirinya untuk berpakaian seperti ini tanpa penjelasan yang pasti.


Turun dari pesawat, sudah ada yang menjemput mereka. Kanaya pun mengikuti langkah Revald yang seolah tidak asing dengan negara asal Kanaya. Pria itu juga langsung saja menuju sebuah mobil berwarna hitam dan ada seseorang yang berpakaian serba hitam juga di kedua sisi mobil tersebut. Sampai-sampai membuat Kanaya merasa heran. Siapa sebenarnya sahabat kekasihnya ini.

__ADS_1


"Bisa jelaskan semuanya sekarang?" tanya Kanaya setelah mereka masuk ke dalam mobil jemputan tadi. Tercetak jelas rasa penasaran di wajah gadis ini.


Revald menghela napas panjang. Rupa-rupanya wanita ini tidak melepaskan dirinya sebelum mendapatkan jawaban yang membuatnya merasa puas. Lantas Revald kemudian mematikan layar ponselnya, membenarkan posisi duduknya tepat menghadap ke arah Kanaya.


"Aku beritahu garis besarnya saja. Ini semua rencana Arkha untuk mengikuti permainan dari lawannya. Dia berpura-pura menjadi kekasih dari seorang wanita yang mungkin kamu sudah pernah mendengarnya sebelumnya. Dia terpaksa melakukan itu agar pihak lawan lengah dan sekutunya akan mencarimu," jelas Revald yang hanya setengahnya saja.


Melihat itu Revald dibuat geram oleh wanita di sampingnya ini. Untung saja dia adalah kekasih sahabatnya, jika bukan pasti malas dirinya akan menjelaskan sesuatu yang memang rumit menurutnya.

__ADS_1


"Tinggal menurut saja apa susahnya, sih?" Kesal Revald kemudian menceritakan mulai dari awal hingga akhir. Tanpa ada yang ditutupi sedikit pun sejauh yang dia tahu. Karena ini juga menyangkut tentang kehidupan pribadi wanita ini.


Nampak sekali Kanaya mencerna semua perkataan yang diucapkan oleh Revald. Di sini dia paham, jika ketulusan Arkha kepadanya memang benar-benar nyata adanya. Lalu kenapa dirinya sempat meragukan cinta pria itu? Sedangkan pria itu saat ini sedang berjuang untuk bisa bersanding dengan dirinya.


Lantas tanpa disuruh pun buliran bening mengalir membasahi pipi mulusnya. Revald yang melihat itu terkesiap kaget. Karena wanita di sampingnya ini tiba-tiba saja menangis, meraung tanpa ia ketahui apa penyebabnya. Perasaan dirinya tidak ada kata yang salah terucap.


"Ka-kamu kenapa Nay?" tanya Revald sedikit panik. Jika Arkha mengetahui kekasihnya menangis akibat ulahnya, bisa-bisa kepalanya akan digantung di Monas, nantinya.

__ADS_1


__ADS_2