
Di sepanjang perjalan menuju bandara, Kanaya mengunci rapat mulutnya. Wanita itu rupanya sangat dendam pada Arkha. Orang yang dengan seenak hatinya mengubah walpaper di layar ponselnya yang sebelumnya ia isi dengan foto Ji Chang-Wook, seorang aktor yang berasal dari negara Korea Selatan dengan paras yang mampu melelehkan setiap mata memandangnya.
Bukan hanya itu yang dipermasalahkan oleh Kanaya sekarang ini. Namun, foto pengganti walpaper-nya itu lah yang membuat wanita itu melakukan puasa bicara kepada Arkha. Sudah berapa kali ia hapus foto itu, akan tetapi pada saat membuka menu lain ia akan menemukannya lagi.
Lantas, apa yang dilakukannya kepada Arkha tadi pada saat ia baru bangun dari tidurnya kemudian berteriak? Ya. Kanaya memukuli tubuh Arkha tiada henti, sampai pria itu menangkap tangannya dan menghentikannya.
"Apa kamu akan tetap berpuasa bicara kepadaku?" tanya Arkha yang selalu memperhatikan sikap Kanaya.
"Aku mau di sini saja," balas Kanaya. "Kenapa kamu selalu memaksaku untuk ikut bersamamu? Sampai aku harus bertemu dengan keluargamu juga. Kenapa kamu nggak melepasku saja!" Protes Kanaya setelah berdiam sekian lama.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menjadi orang yang bertanggung jawab," ucap Arkha. "Bukankah sudah aku katakan padamu, jika aku tidak akan membiarkan anakku hidup di jalanan dan kekurangan," lagi-lagi Arkha membual tentang kehamilan yang sedang dialami Kanaya.
Kanaya memutar bola matanya, jengah mendengar selalu itu saja yang menjadi alasan Arkha untuk mencegahnya pergi dari sisi pria itu. Sementara hubungannya sampai sekarang dengan pria itu belum ada kejelasan. Dirinya hanya menjadi pasangan kontrak bagi pria itu, pikir Kanaya. Untung saja pria itu tidak mengapa-ngapain dirinya.
"Ya, ya, ya~~" jawab Kanaya seraya memalingkan wajahnya dari Arkha. Bosen mendengar alasan yang selalu sama.
Arkha terkekeh senang melihat Kanaya yang kesal kepadanya. Lalu ia memberikan sebuah peringatan pada wanita yang saat ini tengah duduk di sampingnya.
Kanaya nampak tidak mempedulikan itu. Kalau dengan cara itu dia bisa terbebas dari Arkha, maka akan dia lakukan. Tetapi sebelum membulatkan niatnya, ia kembali menciut setelah pria itu kembali bersuara.
__ADS_1
"Jika kamu ingin segera menikah denganku, maka katakan saja yang sejujurnya pada keluargaku tentang kita," ucap Arkha kemudian sembari tersenyum miring. Seolah tahu apa yang sedang ada di pikiran wanita ini.
"Kok bisa begitu?" tanya Kanaya langsung menghadap tepat ke arah Arkha. Penasaran, bagaimana bisa hanya tinggal satu atap saja langsung dinikahkan.
"Peraturan di Indonesia sangatlah berbeda dengan di sini. Khususnya di keluargaku, jika kita ketahuan tinggal di dalam satu ruangan, meskipun itu hanya semalam. Maka hari berikutnya kita akan langsung dinikahkan. Hal itu dilakukan untuk menghindari masalah yang akan timbul di kemudian hari. Juga karena keluargaku mayoritas muslim. Jadi masih menjunjung tinggi norma-norma agama yang mereka anut," jelas Arkha. Kali ini dia tidak membual semata.
Setelah mendengar penjelasan dari Arkha, Kanaya semakin takut bertemu keluarga Arkha. Bukan karena sifat mereka, tetapi lebih ke keluarga Arkha yang seandainya mengetahui kalau dirinya dan Arkha pernah tidur bersama. Mereka pasti akan berakhir dinikahkan secara paksa. Membayangkan itu, Kanaya bergidik ngeri sendiri.
Tanpa Kanaya tahu, ada seseorang yang tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi yang wanita itu tampilkan. Begitu juga dengan Joshep yang melihat reaksi Kanaya dari kaca yang ada di depannya. Sekuat mungkin berusaha menahan tawanya. Ia tidak meragukan lagi kecerdikan yang dimiliki atasan sekaligus temannya itu dalam hal melumpuhkan nyali lawannya.
__ADS_1
Melihat Joshep memperhatikan Kanaya dari balik kaca, Arkha sengaja berdehem sedikit lebih keras.
"Perhatikan jalannya," ucap Arkha. Joshep menggeleng kepala melihat temannya itu bersikap posesif pada apa yang sudah dia kudeta menjadi miliknya.