Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Harap-Harap Cemas


__ADS_3

Tanpa terasa dua bulan sudah dirinya menikah dengan Kanaya. Dan ternyata permintaan ijinan untuk pulang ke Indonesia kepada kakek Gladio, tidak semudah yang Arkha dan Kanaya bayangkan. Pria lanjut usia itu melarang Kanaya untuk mengikuti sang suami pilang ke negara asalnya. Apa lagi di saat Kanaya hamil seperti ini. Gladio tidak ingin sampai terjadi apa-apa kepada ahli warisnya nantinya. Baru juga bisa berbaikan dengan Kanaya, kejamnya pria muda ini ingin memisahkan dirinya dengan cucu tersayangnya.


Segala macam bujuk dan rayuan Arkha kerahkan untuk membujuk kakek Gladio agar memberinya ijin membawa Kanaya pulang ke Indonesia. Meskipun tanpa ijin dari kakek Gladio, Arkha tetap bisa membawa pulang istrinya. Karena sekarang dia yang lebih berhak atas Kanaya. Namun, Arkha ingin menghargai Gladio sebagai kakeknya Kanaya.


Perdebatan itu terus berlanjut, hingga di sinilah dirinya saat ini. Berada di ruangan keluarga kediaman Burrack. Berhadap-hadapan dengan Gladio seorang. Sementara pria lanjut usia itu bersikap acuh kepadanya. Menganggap Arkha tidak ada di ruangan ini.


"Ayolah, Kek... jangan seperti ini," ucap Arkha yang melihat Gladio tidak merespon dirinya dan malah membaca majalah yang ada di pangkuan tangannya.


Sedangkan Revald yang baru saja datang dari kantor, tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Memilih untuk bergabung dengan mereka. Pria ini tidak peka jika sedang terjadi perang dingin di sini.

__ADS_1


Setelah resmi menjadi anggota keluarga Burrack, Revald langsung disuruh memimpin perusahaan cabang milik keluarga ini. Sementara perusahaan induk masihlah dipimpin oleh Philip. Padahal Gladio berharap Kanaya bisa menggantikan Philip memegang perusahaan induk. Meskipun semua kepemilikan sudah beralih kepada Kanaya sepenuhnya. Tentu saja, Revald mempunyai bagian tersendiri di tambah dari kepemilikan yang dimiliki oleh Lilliana dan Philip. Semua kepemilikan mereka juga sudah dialihkan kepada Revald.


"Ada apa sih? Kok serius banget kelihatannya?" tanya Revald yang memang tidak tahu menahu yang terjadi di sini.


"Dia ingin kabur membawa cucuku," sahut Gladio dengan nada yang datar dan tidak menatap ke arah Arkha. Tatapannya masih terfokus ke arah majalah yang sedang dia baca.


"Kabur bagaimana, Kek. Kita hanya meminta ijin kepada Kakek untuk pulang dan menetap di Indonesia. Itu sebagai bentuk rasa hormat kami kepada Kakek," balas Arkha yang tidak terima dengan tuduhan Gladio kepada dirinya. Bagaimana mungkin ini bisa disebut kabur, sementara dia dan Kanaya hanya ingin pulang ke tanah air.


Tinggal beberapa bulan di sini, membuat sedikit banyak Revald tahu kebiasaan orang di negara ini. Ia pun juga begitu nantinya, jika di saat istrinya hamil. Revald akan memboyongnya balik ke Indonesia sementara. Agar ia bisa merepotkan keluarga Arkha lagi.

__ADS_1


Namun, tunggu dulu. Kenapa dirinya malah berpikiran sangat jauh, di saat dia belum mempunyai calon pendamping saat ini.


"Ijinkan saja dia, Kek. Lagian di sini sudah ada Revald. Dan jika Kakek rindu pada Nara, Revald akan bawa Kakek ke sana," ucap Revald. Ia yakin jika ucapannya kali ini akan didengar oleh kakek Gladio. "Apa Kakek mau mengekang Nara kembali dan membuat gadis yang sudah tidak gadis itu membenci Kakek lagi? Tidak kan? Maka dari itu, sebelum hal itu terjadi turuti saja kemauan Nara. Toh di sana banyak keluarga Arkha yang akan memperhatikan kehamilan Nara, daripada dia berada di sini," jelas Revald kemudian dengan alasan yang selogis mungkin.


Gladio meletakkan majalah yang sedari tadi dia pegang. Lalu menatap ke arah Revald dengan wajah santai pria itu. Membuat Revald dan Arkha saling bertukar pandang. Hal apa lagi yang akan dikatakan oleh pria lanjut usia ini. Sementara mereka tahu, jika sesuatu itu selalu saja ada timbal baliknya. Arkha dan Revald harap-harap cemas menunggu Gladio membuka mulutnya.


~Bersambung~


Ada karya baru nih gaeeess... jangan lupa dukung juga ya😘

__ADS_1



__ADS_2