Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Rindu


__ADS_3

Mendengar hal itu, Arkha bergidik ngeri jika sampai kakaknya tahu yang sebenarnya. Apalagi tahu kalau dirinya memanfaatkan keadaan Kanaya untuk menjerat wanita itu dan pembalasan dendam pada mantannya.


"Kalau begitu, jangan sampai ketahuan, dong. Tolong dibantu ya cantik, prok prok prok," ucap Arkha mengedipkan sebelah matanya, lalu bertepuk tangan menirukan gaya pesulap yang cukup menghibur di negara ini.


"Pak Tarjo, kali!" Kesal Tanisha kembali memukul bahu Arkha. "Udah, jangan bercanda terus. Sana buruan disuruh keluar itu gadis bule-mu. Kasihan, kan kalo dikasih anggur terus," ucap Tanisha.


"Hah? Dikasih anggur?" Arkha berpura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Tanisha.


"Di anggurin, Arkha!" Seru Tanisha pada Arkha. Karena kesal dengan pria yang kelewat jahil ini. Arkha tertawa keras melihat Tanisha yang kesal padanya.


"Hust! Nggak boleh teriak gitu, Kak. Kasihan mereka yang ada di dalam sini," ucap Arkha seraya mengusap lembut perut Tanisha yang besar. "Pasti mereka setiap hari bosan mendengar teriakan Mamanya. Mungkin kalau boleh memilih, mereka nggak mau berada di dalam perut malaikat pencabut nyawa," lanjut Arkha dengan nada suara yang lirih. Lebih terdengar tengah berbisik pada Tanisha.

__ADS_1


"Arkha...!!" Teriak Tanisha. Ingin rasanya dirinya menendang pria itu, jika saja tidak mengingat kondisnya sendiri yang tengah mengandung bayi kembar di dalam perutnya. "Sabar ya, Sayang. Kalian jangan bersikap kayak Uncle, ya," ucap Tanisha mengusap perutnya.


Sedangkan Arkha semakin tertawa melihat sikap Tanisha, terlebih lagi ucapan wanita itu. Pasti akan sangat menyenangkan jika memang Kanaya mengandung anaknya. Setiap hari akan menjadi hal yang sangat mendebarkan baginya. Namun nyatanya, ia harus menunggu lebih lama lagi. Karena ia hanya bualan semata yang bilang jika Kanaya hamil.


Kemudian Arkha berjalan menuju mobilnya, berniat menjemput Kanaya untuk kemudian mengenalkannya pada Tanisha.


"Ayo, turun," ajak Arkha sesaat setelah membuka pintu mobil tepat di samping Kanaya.


"Bolehkah aku kembali ke hotel saja? Aku merasa canggung berada di sini," pinta Kanaya. Dia belum terbiasa dengan suasana baru di sini.


Sebelum mereka melangkah menuju ke arah Tanisha yang menunggunya di teras, Arkha menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Kanaya. Mendekatkan wajahnya ke wanita bule tersebut.

__ADS_1


"Ingat, jangan mengatakan yang sebenarnya tentang kita di hadapan mereka kalau tidak ingin segera menikah." bisik Arkha selaligus merupakan ancaman bagi Kanaya. Lagi-lagi dirinya tidak punya pilihan lagi.


Setelah mengatakan itu kepada Kanaya, Arkha melanjutkan langkahnya dengan setia menggandeng tangan Kanaya. Kanaya mengikuti langkah Arkha dengan perasaan was-was. Takut-takut jika keluarga Arkha memandang dirinya tidak suka. Apalagi anggapan orang di negara ini tidak lah sama dengan orang di negaranya yang terbilang cukup cuek.


"Waaahhh ... pintar juga kamu cari calon istri!" seru Tanisha saat Kanaya sampai di depannya. "Kak Yuta pasti suka banget liat yang bule-bule begini. Apalagi sekarang dia juga lagi hamil muda," tutur Tanisha lagi mengejutkan Arkha.


"What! Kak Yuta hamil lagi?" tanya Arkha mengulang perkartaan Tanisha.


"Kenapa kamu yang panik? Dia hamil juga ada suaminya. Jangan bilang kalau cewek bule ini juga tengah--" ucapan Tanisha terhenti pada saat mama Karina keluar dari dalam rumah.


"Kapan kamu sampai, Sayang?" tanya Mama Karina pada Arkha. Menaruh piringnya di atas meja untuk kemudian menghambur ke pelukan Arkha. "Kenapa nggak hubungi Mama dulu?" Karina menatap wajah Arkha sebentar lalu memeluknya kembali.

__ADS_1


Kanaya yang berdiri tepat di samping Arkha tak bergeming sama sekali. Ia merasa iri kepada pria ini sekarang. Bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga, merupakan hal yang tidak mungkin pernah ia dapatkan lagi. Sekaligus suatu hal yang ia rindukan.


Jangan lupa dukung cerita ini dengan cara kasih like dan juga gift, ya😘


__ADS_2