Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Maunya Kamu


__ADS_3

Arkha terus menggoda tubuh Kanaya, hingga pada akhirnya ia sampai ke bagian akhir. Menatap wanitanya dengan kilatan pemangsa. Mulanya hanya ingin menjahili kekasihnya itu. Namun, pada akhirnya dirinya sendiri tidak bisa mengendalikan insting pemangsanya pada saat melihat penampilan Kanaya yang seperti sekarang ini.


Baju yang terangkat ke atas, hingga memperlihatkan pahaa bagian atas, dan juga dua buah benda yang tadi ia mainkan tercetak jelas dari kain tipis yang Kanaya kenakan. Jangan lupakan rambut yang acak-acakan serta ekspresi wanita itu nampak seperti kucing yang minta diusap oleh majikannya. Membuat seleranya semakin meningkat.


"Kemudian selanjutnya....," Arkha sengaja menggantung kalimatnya. Setelah itu tangannya turun ke bawah, mengusap lembut pahaa Kanaya yang tidak tertutup oleh apapun. Dari bawah lalu mengarah ke atas, hingga sampai pada tempat yang paling sensitive. "Sayang, boleh ya? Aku pingin banget," erang Arkha yang sudah sampai di ujung jurang.


Merasa ada yang aneh, dan ini tidak benar. Kanaya segera sadar dari buaian yang Arkha berikan kepadanya. Meskipun dirinya juga menginginkan hal yang sama, tetapi ini tidak benar menurutnya. Cukup satu kali mereka melakukan kebodohan. Kanaya tidak akan mengulang hal itu hingga nantinya akan muncul nyawa baru di antara mereka sebelum menikah. Ia ingat betul ucapan Arkha mengenai status anaknya nanti jika hadir sebelum mereka sah menjadi suami istri. Kanaya tidak mau itu terjadi pada anaknya hanya karena kesalahan yang mereka buat.


"Stop, Kak!" Pekik Kanaya para saat tangan Arkha mulai membelai bagian sensitive nya. Lalu mendorong tubuh Arkha dengan sepenuh tenaga, hingga posisi mereka menjauh. "Aku tidak mau hamil diluar nikah." Tegas Kanaya lagi. Kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut.


Melihat penolakan dari Kanaya, membuat Arkha sadar dengan apa yang baru saja ia perbuat pada kekasihnya itu. Hampir saja dirinya mengulang kesalahan yang pernah diperbuat.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Aku lepas kendali," sesal Arkha meraup wajahnya kasar. Bagaimana bisa dirinya lepas kendali seperti ini. Memang, kenikmatan dunia itu tidak mudah untuk disangkal. Sekuat apapun iman mereka, jika sudah dihadapkan dengan hidangan yang sangat lezat, maka mereka tidak akan pernah bisa untuk menghindar. Menghirup aromanya saja sudah membuat orang terlena, apalagi jika menyicipinya.


Kanaya meraih tangan Arkha. Ini bukan sepenuhnya salah kekasihnya itu. Jika dirinya juga tidak meresponnya, maka hal ini tidak akan sampai lepas kendali seperti ini.


"Maaf, Kak. Bukannya apa, aku hanya tidak mau anak kita hadir sebelum kita sah menjadi suami istri. Bukannya kamu sendiri yang bilang, jika statusnya nanti akan berbeda dengan anak yang lain?" Dengan hati-hati Kanaya menjelaskan kenapa dirinya menolak. Lalu Arkha mengangguk, membenarkan apa yang diucapkan oleh Kanaya benar adanya.


"Maafkan aku," ucap Arkha sembari mengusap lembut kepala Kanaya. "Kita akan menikah secepatnya, Sayang." Lanjut Arkha kemudian memeluk tubuh Kanaya yang berbalut selimut.


Kanaya mengangkat wajahnya, guna melihat tepat ke arah Arkha. "Tidak semudah itu, Kak. Kamu tahu sendiri bukan, jika kita menikah maka aku membutuhkan seorang wali yang berasal dari keluargaku. Sementara kamu tahu sendiri, rumitnya hubunganku dengan keluargaku," lirih Kanaya diakhir kalimatnya. Nampak sekali jika wanita ini sebenarnya merindukan keluarganya. Namun, ada sebuah benteng yang membatasi mereka.


"Kakek? Cicit?" Kanaya tidak mengerti apa yang sedang diucapkan oleh Arkha.

__ADS_1


"Aahhh... Itu kemarin aku bertemu dengan Kakekmu. Dia memintaku untuk memperbaiki hubungan di antara kalian. Lalu aku meminta imbalan dari permintaannya," jelas Arkha yang belum selesai dengan ceritanya.


"Imbalan apa?" Kanaya nampak sangat penasaran. Lalu membenarkan posisinya yang tengah berada dalam dekapan Arkha.


"Aku meminta restunya untuk hubungan kita. Tentu saja, mulanya Kakek menolak dengan tegas karena tidak mau terpisah denganmu lagi. Namun, aku berkata kalau sampai beliau tidak memberi restu, aku mengancamnya jika beliau tidak akan bisa melihat cicit yang tengah kamu kandung sekarang ini," ungkap Arkha dengan tersenyum kecil. Mengingat dirinya menjahili kakek dari Kanaya.


"Bisa-bisanya ya, Kak! Kamu ini kalau jahil itu liat-liat lawannya, dong. Masa iya Kakek kamu jahili seperti itu. Bagaimana jika dia beneran nagih cicit sama aku? Aku musti apa?" Kanaya menggeleng kepala melihat kekasihnya ini yang jahilnya tidak ketulungan.


"Ya... Kita tinggal kerja keras aja untuk mewujudkan keinginan Kakek," jawab Arkha santai di sertai senyum menggoda.


"Itu mah maunya kamu." sahut Kanaya kesal sembari memukul dadaa Arkha. Arkha pun semakin terkekeh.

__ADS_1


Podium 1 & 2 tolong inbox atau chat aku. Yang belum menang, kita adain give away lagi bulan depan. Makasih atas partisipasinya😊



__ADS_2