
Lima belas menit sudah, Arkha menunggu Kanaya di ruang tamu. Tidak biasanya wanita itu berdandan lebih dari sepuluh menit. Bahkan, biasanya wanita itu tidak memerlukan waktu yang lama, karena memang dia sudah cantik dari sananya.
Arkha nampak gusar, karena Kanaya belum juga keluar dari dalam kamarnya. Kemudian ia memutuskan untuk menyusul wanita itu. Dengan langkah lebar, Arkha menuju kamar Kanaya. Ia buka handle pintu sedikit pelan tanpa mengetuknya terlebih dulu.
"Nay, kenapa kamu lama banget? Kita hanya menghadiri sebuah pesta pernikahan. Bukan pesta dengan pejabat negara," protes Arkha seraya melangkah masuk.
Betapa terkejutnya Arkha pada saat mengangkat kepalanya, dan melihat ke depan. Di mana Kanaya tengah kesulitan mengikat tali di belakang gaun yang dia kenakan. Itulah sebabnya dia tidak kunjung menemui Arkha di bawah.
"Kamu, sih! Milih gaun seperti ini. Mana bisa aku memakainya sendiri." Elak Kanaya tidak terima diprotes oleh Arkha.
Karena memang dirinya kesulitan mengikat tali gaun tersebut. Sudah berulang kali Kanaya mencoba, tetapi tetap saja selalu gagal. Hingga ia hampir menyerah dan memakai gaun yang ia punya sendiri. Tentu saja gaun yang dia punya tidak akan sesuai kriteria Arkha. Karena sesungguhnya Kanaya menyukai hal yang simpel. Bukan yang susah seperti ini.
__ADS_1
"Eh, tunggu! Kenapa Tuan bisa masuk ke dalam kamarku? Perasaan pintunya tadi aku kunci, deh. Lalu Tuan lewat dari mana?" Kanaya ingat betul jika ia mengunci pintu kamarnya.
Arkha tersadar dari lamunannya, setelah mendengar kalimat yang diucapkan Kanaya. Bagaimana bisa wanita itu lupa dengan tindakan yang dia lakukan sendiri. Nyatanya pintu kamar ini tidaklah terkunci. Itulah mengapa Arkha bisa masuk dengan mudah.
"Di cek lagi jika ingin berganti pakaian. Sudah terkunci apa belum. Dasar, wanita ceroboh." Arkha menyentil kening Kanaya dengan pelan. Tidak seperti sebelumnya yang sedikit menggunakan kekuatannya. Sehingga menyebabkan permukaan kulit di bagian kening Kanaya memerah.
Kanaya mengusap keningnya yang terasa panas. Sementara tangan yang satunya lagi menutupi tubuhnya bagian depan. Karena jika ia lepas, gaun itu akan jatuh dengan sangat anggunnya ke dasar lantai.
Arkha menggrlengkan kepalanya cepat, guna menyadarkan akal sehatnya. Jika ia teruskan bukan lagi terlambat, tetapi gagal untuk datang ke pesta tersebut. Kemudian Arkha memegah bahu Kanaya. Membuat wanita itu memasang sikap waspada kepada Arkha.
"Kenapa nggak minta bantuan padaku? Jadi kita tidak akan telat seperti ini." Arkha kemudian meraih tangan Kanaya, lalu mengambil alih tali gaun tersebut. Membalikkan tubuh Kanaya, menghadapkan tubuh wanita itu ke arah cermin yang ada di kamar Kanaya.
__ADS_1
Kanaya tak bergeming sekalipun. Dia memperhatikan wajah Arkha dari balik cermin yang ada di hadapannya. Pria itu dengan telaten mensimpulkan tali gaun dari satu sisi, ke sisi lainnya. Hingga tidak membutuhkan waktu yang lama, Arkha menyelesaikan tugasnya.
"Mana mungkin aku meminta bantuan pada pria, saat aku mengenakan baju yang terbuka seperti ini." Cicit Kanaya dengan wajah kesal.
Ekspresi Kanaya yang seperti itu, membuat ide jahil Arkha muncul kembali. Lantas ia menggoda wanita ceroboh ini.
"Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Nay," bisik Arkha sambil menaruh dagunya di bahu Kanaya. Menolehkan wajahnya ke kanan, sehingga mengakibatkan hidungnya menempel pada permukaan kulit leher Kanaya. Lalu menghembuskan napasnya pelan, namun juga kuat. Berniat menggoda wanita ini. Arkha ingin tahu, seberapa kuat pertahanan wanita ini. Meskipun ia sendiri sudah dapat memprediksikan jawaban atas keraguannya.
Tubuh Kanaya terasa membeku seketika. Ingkn melayangkan protes, tetapi bibirnya terasa begitu kelu. Napasnya juga tidak beraturan, karena saat ini Arkha semakin mengusapkan hidungnya dengan gerakan pelan, kemudian berbisik lagi kepadanya.
"Sudah berapa kali aku bilang, Nay. Jangan panggil aku, Tuan. Panggil aku dengan sebutan Sayang, Nay," ucap Arkha.
__ADS_1
Lalu mengakhiri kejahilannya itu dengan menggigit kecil telinga Kanaya, serta menghadiahi Kanaya dengan sebuah tanda kepemilikan di permukaan leher Kanaya yang dengan mudah terjangkau oleh mata.