Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Kesal


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan menuju tempat pesta diselenggarakan, tak hentinya Kanaya mengumpat kesal pada Arkha. Sementara tersangka yang membuat Kanaya seperti itu, hanya terkekeh sambil menatap lurus ke depan. Suatu hiburan baginya melihat Kanaya yang seperti ini.


Wanita itu sedari tadi terlihat panik, berusaha menutupi bekas perbuatan Arkha terhadap lehernya. Ia sudah berusaha menutupinya dengan foundation, tapi gagal. Karena Arkha merebut benda tersebut.


Tujuan Arkha membuat tanda di leher Kanaya bukan tanpa alasan. Ia ingin memperlihatkannya pada Shanaz, jika dirinya tidak lagi memikirkan wanita yang menorehkan rasa sakit di dalam hatinya.


"Udah, nggak usah marah-marah begitu. Toh, ini juga untuk kepentingan peran kita nanti," Dengan santainya Arkha berucap seperti itu. Tanpa melihat ekspresi lawannya yang kini cemberut kepadanya.


"Apa yang akan mereka pikirkan nanti tentangku?" Lirih Kanaya.

__ADS_1


Kanaya tidak bisa membayangkan, jika memang ada kerabat dari ayah-nya di sana. Kanaya memejamkan matanya, menyiapkan dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan datang kepada dirinya.


"Tenang saja. Aku akan mengatasi semua itu," ucap Arkha. Seolah mengerti apa yang membuat Kanaya menjadi gelisah seperti ini. "Yang harus kamu lakukan adalah selalu berada di sampingku. Ingat, panggil aku dengan sebutan sayang, bukan Tuan. Oke?" Lagi-lagi jiwa suka merintahnya keluar.


Hingar bingar suasana di dalam aula terlihat begitu kentara. Dengan konsep bertabur mawar putih, membuat suasana pesta pernikahan pada malam ini begitu sempurna. Para tamu yang datang juga bukan dari kalangan biasa. Banyak artis ataupun model dari brand ternama di kota ini.


Kondisi seperti ini bukanlah hal yang asing lagi, karena yang menjadi pasangan Shanaz memang berasal dari golongan kolongmerat. Bahkan ada beberapa pejabat negara yang hadir di pesta tersebut.


"Biar terlihat romantis," bisik Arkha. Hal itu sukses membuat Kanaya tersipu. Bukan karena kalimat yang diucapkan oleh Arkha. Melainkan lagi-lagi pria itu mencuri cium pada pipi mulusnya.

__ADS_1


Dengan jantung yang berdetak tidak ber-irama, Kanaya mengikuti langkah Arkha yang pelan. Karena mungkin pria itu mengikuti ritme langkahnya yang sedikit agak kesulitan. Pasalnya Kanaya sekarang menggunakan sepatu dengan tinggi delapan centi meter.


Pilihan Arkha memang selalu sukses membuat Kanaya kesulitan. Mulai dari gaun, hingga sepatu. Lalu sekarang ia harus terus menempel pada pria itu, dengan alasan Arkha tidak mau sampai Kanaya kabur darinya malam ini.


Padahal nyatanya Arkha hanya tidak mau jika sampai Kanaya dilirik oleh pria lain. Karena penampilan Kanaya malam ini bisa menggusur ke-pamoran sang mempelai wanita. Wajah cantik yang dimiliki Kanaya, serta memiliki tatapan yang menenangkan, membuat Kanaya menjadi incaran mata para lelaki yang ada di pesta malam ini.


Contohnya saja saat ini, padahal Kanaya berada di sisinya. Tetapi masih saja ada lelaki yang tidak tahu diri, ingin mengajak Kanaya untuk turun di lantai dansa, dan berdansa dengan pria asing tersebut.


"Hai, Nona. Sudikah kau berdansa denganku?" Pinta pria asing tersebut sembari membungkukkan setengah badannya ke arah Kanaya, serta satu tangan dia taruh di depan dadaa.

__ADS_1


Arkha begitu geram melihat sikap pria asing tersebut yang tidak menghargai keberadaannya. Andai saja mereka saat ini bukan berada di tempat yang ramai, dan di tambah Arkha sedang berbincang dengan partner bisnisnya, pasti ia sudah melayangkan pukulan mautnya.


"Aroma Nona harum sekali. Saya menyukai aroma vanila seperti ini," ucap pria asing itu tanpa meminta ijin meraih tangan Kanaya yang bebas, lalu mengecupnya sedikit lebih lama.


__ADS_2