
Asik bercengkerama dengan teman masa kecilnya, mengulang kembali kenangan mereka yang terbilang sebentar. Karena Lena hanya menjadi tetangga Kanaya selama dua tahun. Lena terpaksa pindah karena kakeknya yang tengah sakit pada saat itu.
Tanpa terasa, hari sudah petang. Kanaya memutuskan untuk pulang sendiri. Padahal Lena menawarkan bantuan untuk mengantar Kanaya pulang ke rumahnya. Bukan tanpa alasan Kanaya menolak tawaran Lena. Namun, ia tidak ingin Lena tahu kalau dirinya tengah tinggal dengan seorang pria. Apalagi mengetahui permasalahan yang sedang ia hadapi. Kanaya ingin memastikan terlebih dulu.
Sebelum sampai ke apartemen milik Arkha, karena penasaran dan selama ini Kanaya tidak pernah mengetes tentang kehamilannya sendiri. Ia memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di sebuah apotek yang terletak di sebelah apartemen Arkha.
Kanaya nampak ragu pada saat ingin mengutarakan keinginannya masuk ke dalam apotek ini. Penjaga apotek itupun menyadari gelagat Kanaya yang ragu.
"Ada yang bisa saya bantu, Miss?" tanya penjaga apotek itu dengan sangat ramah kepada Kanaya di sertai senyum yang menghias di bibir penjaga tersebut.
Awalnya Kanaya ragu ingin mengatakan keinginannya, akan tetapi rasa ingin tahu tentang kebenaran dirinya lebih besar dari itu. Apalagi memang tamu bulanannya belum juga datang.
"Em... Itu. Saya mau beli alat test kehamilan," ungkap Kanaya dengan suara yang lirih dan ragu.
__ADS_1
Penjaga apotek itu nampak tersenyum kepada Kanaya yang terlihat malu-malu saat mengatakan keinginan pelanggannya tersebut. Melihat Kanaya yang masih terbilang sangat muda, penjaga apotek itu merasa sedikit iba kepada Kanaya. Namun, tidak dapat dipungkiri. Dengan negara yang bebas ini, tidak sedikit dari kaum muda, bahkan masih remaja yang melakukan hubungan di luar nikah.
"Mau yang bagaimana, Miss?" tanya penjaga itu kembali.
Kanaya nampak berpikir, bingung ingin menjawab seperti apa. Karena memang ini merupakan pengalaman pertamanya membeli barang seperti itu.
"Terserah. Pokoknya yang akurat saja," jawab Kanaya.
Kemudian penjaga apotek itu mengambilkan tiga macam benda dengan fungsi yang sama lalu memberikannya kepada Kanaya. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Kanaya segera membayarnya dan keluar dari apotek tersebut.
Pada saat membuka pintu apartemen, aroma masakan yang menyeruak di indra penciumannya begitu tercium sangat tajam. Penasaran apa yang sedang Arkha lakukan di dalam dapur, Kanaya langsung melangkahkan kakinya ke dapur.
Benar saja dugaannya. Tuan penculiknya itu sedang memasak sesuatu yang entah belum ia ketahui nama masakan itu. Sejenak Kanaya memperhatikan gerakan Arkha yang luwes dalam menggunakan peralatan masak. Sudut bibirnya terangkat, ada saat melihat Arkha yang tidak pandai membersihkan peralatan itu kembali.
__ADS_1
"Tuan sedang memasak?" tanya Kanaya mendekat ke arah Arkha. Sebelimnya telah menyimpan terlebih dulu tasnya di atas sofa.
Mendengar suara Kanaya, Arkha menoleh ke belakang. Senyuman manis ia perlihatkan untuk menyambut kedatangan wanita itu.
"Mandilah terlebih dulu, baru kita makan malam bersama." Perintah Arkha seraya mendorong tubuh Kanaya menjauh dari area dapur.
"Tapi aku ingin membersihkan peralatan yang habis Tuan gunakan," ucap Kanaya berusaha membalikkan tubuhnya. Namun, kalah tenaga dengan Arkha.
"Dengarkan perintahku, atau aku cium?" Ancam Arkha. Tentu saja Kanaya lebih memilih mendengarkan perintah Arkha dan segera pergi ke kamarnya.
Arkha menggelengkan kepalanya melihat Kanaya yang langsung berlari setelah mendengarbancaman darinya. Pada saat Arkha ingin membalikan badan dan kembali ke dapur, terdengar suara dering ponsel yang berasal dari dalam tas Kanaya. Karwna penasaran siapa yang menghubungi Kanaya, Arkha mengambil ponsel dari dalam tas wanita itu.
Mata Arkha membulat saat membuka tas Kanaya. Ia mendapati ada alat test kehamilan di dalam tas wanita itu. Dengan menahan degupan di dadaanya, Arkha mengambil alat test tersebut.
__ADS_1
"Ternyata kau sudah curiga," ucap Arkha kemudian dengan segera menyembunyikan alat tersebut. Ia tidak peduli lagi dengan dering ponsel milik Kanaya. Yang ia pedulikan, bagaimana caranya agar menjerat wanita itu tanpa bisa kabur darinya.