Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Sabotase


__ADS_3

Pada akhirnya Kanaya lebih memilih untuk pulang saja. Toh, mau jalan-jalan dia juga tidak punya teman di sini. Dari pada tersesat nanti, pikirnya. Revald pun menuruti apa yang diinginkan kekasih sahabatnya tersebut. Biar bagaimana pun, ia juga ikut andil dalam menjaga Kanaya di saat Arkha berada di luar negeri.


"Ya sudah, kalau begitu aku balik ke kantor dulu. Jangan kemana-mana sebelum aku datang. Bisa-bisa kepalaku dipisahkan dari tubuhku, nantinya," ucap Revald dari dalam mobil. Ia hapal betul tabiat sahabatnya itu. Sementara Kanaya sudah keluar dan berdiri di depan pagar.


"Iya," jawab Kanaya seraya menganggukkan kepalanya. Paham akan pesan yang Revald katakan. Kanaya tetap berdiri di depan pagar, sampai mobil yang dikemudikan sahabat kekasihnya itu menghilamg dari radar pandangannya.


Suasana rumah yang mulanya rame, hanya dengan kehadiran Arkha di sisinya, kin nampak begitu sepi. Padahala belum ada satu jam dia terpisah dengan pria jahil itu. Namun, serasa ada yang hilang dari hidupnya.

__ADS_1


"Cieh! Padahal dulu kau begitu berusaha untuk menghindar. Tapi kenapa sekarang merasa ada yang pudar," gumam Kanaya menertawakan dirinya sendiri mengingat awal bertemunya dengan Arkha. Hingga sampai dirinya menyebut Arkha dengan sebutan Tuan penculik. Karena memang ia pikir pria itu ingin menjual organ tubuhnya.


Dari pada merasa kesepian dan perasaannya tidak enak, Kanaya memutuskan untuk menyibukkan diri dengan membuat berbagai macam olahan kue dengan bahan yang tersisa di dapur. Menaruh tasnya di atas meja, mencuci tangannya lalu meraih kain apron yang tergantung di sisi kanan lemari pendingin. Tangannya mulai menguleni bahan-bahan yang ia campur, tepung, telur, gula dan pengembang roti. Tentu saja Kanaya tidak lupa untuk menambahkan perasa pada adonan kue, serta pewarna sesuai apa yang ia ingiinkan.


Tanpa terasa menyibukkan diri di dapur hampir lima jam. Kanaya kemudian berjalan menuju kamarnya untuk kemudian membersihkan diri. Cara seperti ini ternyata berhasil juga untuk mengusir rasa bosannya. Padahal ini masih belum genap satu hari tanpa Arkha di sisinya. Namun rasanya sudah sangat lama sekali mereka tidak bertemu. Lalu bagaimana jika Arkha di sana selama satu tahun? Kanaya tidak berani membayangkan semua itu.


"Bagaimana bisa seperti ini?" tanya Arkha pada Joshep yang dengan setia berdiri di sebelahnya. Saat ini mereka tengah berada di lift khusus untuk petinggi perusahaan ini.

__ADS_1


Belum genap satu minggu ia meninggalkan perusahaan ini, sudah ada masalah yang lumayan cukup serius. Tiba-tiba saja diketahui ada orang yang men-sabotase ide dari perusahaan ini. Rencananya ide itu untuk peluncuran produk baru mereka. Namun ternyata ada orang tidak bertanggung jawab membocorkan pada pihak lawan. Otomatis tim desain mereka harus bekerja ekstra lebih keras lagi untuk menyusun pengiklanan peluncuran produk baru mereka.


"Belum diketahui dari mana orang ini bisa menyusup ke bagian perencana, Tuan. Tiba-tiba saja tim pengiklanan mengabari kalau ide yang kita berikan sudah dipakai oleh pihak lawan," terang Joshep.


"Kalau begitu pakai rencana B. Hubungi manajer model yang kita bicarakan waktu itu. Jangan katakan ini pada pihak perencana maupun tim desain. Kamu langsung saja hubungin kepala tim pengiklan yang kita pakai. Karena kita akan melaksanakan syuting itu secara rahasia," tutur Arkha.


Kemudian tak berapa lama pintu lift terbuka. Mereka segera menuju ke ruangan CEO, yang tak lain adalah ruangan Arkha.

__ADS_1


__ADS_2