Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Begitu Menikmati


__ADS_3

Arkha tidak bisa menahan rasa geramnya lebih lama lagi. Pria asing ini bersikap melebihi batas, menurutnya. Lalu langkah selanjutnya yang Arkha ambil ialah meraih pinggang Kanaya, untuk kemudian ia rapatkan ke sisinya.


"Gimana Sayang? Apakah kamu mau berdansa dengan Tuan, ini?" Arkha bertanya dengan nada yang lembut kepada Kanaya. Lalu tangannya yang bebas menyibakkan rambut Kanaya ke arah belakang dengan sengaja. Tentu saja tindakannya itu menyebabkan tanda yang Arkha buat, terlihat begitu jelas.


Sedangkan Kanaya yang diperlakukan seperti itu, segera menarik tangannya dari pria asing tersebut. Lalu segera menutupi lehernya dengan tangan. Kanaya bergidik ngeri melihat wajah Arkha yang tersenyum ke arahnya. Karena dibalik senyuman lembut itu, pasti pria ini menyimpan sejuta rencana.


"Sayang, kamu belum menjawab ajakan Tuan ini. Kamu mau apa enggak?" Tanya Arkha kembali. Kali ini tangan Arkha menyentuh perut rata Kanaya, mengusapnya dengan gerakan lembut. "Tapi ingat, jika memang kamu mau berdansa dengan Tuan ini. Jangan terlalu capek, kasihan dia," lanjut Arkha seraya tetap mengusap perut Kanaya.


Benar saja, apa yang dipikirkan Kanaya memang benar. Jika pria ini selalu mempunyai rencana yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

__ADS_1


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menerima ajakan anda. Karena sepertinya kekasih saya takut jika saya kecapek an dan akan mempengaruhi anak kami," ucap Kanaya kepada pria asing tersebut. Ia lebih memilih mengikuti permainan Arkha, daripada pria itu akan bertingkah lebih tidak terduga lagi.


Arkha tersenyum puas mendengar jawaban yang dilontarkan Kanaya. Lalu ia mengecup kening Kanaya di depan semua orang. Hingga membuat pria asing tadi yang mengajak Kanaya, pergi tanpa berpamitan terlebih dulu. Pria asing itu merasa sangat malu. Dia pikir Kanaya hanyalah pasangan sementara Arkha untuk diajak datang ke acara seperti ini. Karena hal seperti itu sangat lumrah di kota ini.


Pria yang memiliki kedudukan, atau dari kalangan atas. Selalu membayar seorang wanita untuk menjadi pasangan mereka di sebuah acara. Bahkan tidak sedikit dari mereka berakhir di sebuah kamar hotel. Mereka juga biasa bertukar pasangan jika saling menguntungkan.


"Bisa tidak jangan cium-cium seperti itu?" bisik Kanaya menahan geramnya. Karena Arkha selalu mengambil keuntungan darinya.


Sejenak, mereka melupakan keberadaan orang yang yang berbincang dengan mereka tadi. Karena mereka kini sibuk saling menatap, menyampaikan protesnya melalui tatapan tersebut. Hingga pada akhirnya orang itu bersuara.

__ADS_1


"Waaahh ... jadi sebentar lagi kamu juga mau menjadi seorang Ayah?" tanya Stevhano penuh dengan antusias. Ada binar bahagia yang nampak dari mata orang tersebut. Sedangkan pasangan orang itu terlihat masam.


Arkha menoleh ke arah orang yang tengah bertanya kepadanya. Kemudian ia menyunggingkan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia lupa, jika ada mantan tunangannya di sini. Lalu, dengan gerakan lembut Arkha kembali merapatkan posisi Kanaya di sisinya.


"Tentu saja," jawab Arkha.


Arkha kembali mengecup lembut kening Kanaya hingga membuat wanuta itu merasa jengah. Namun, Kanaya berusaha sekuat mungkin untuk menekan rasa geramnya pada Arkha.


"Sayang ... jangan bersikap seperti ini di depan pengantin baru. Aku malu," ucap Kanaya begitu manja sambil mencubit pinggang Arkha dengan sangat keras, tetapi dengan wajah yang tersenyum manis ke arah Arkha.

__ADS_1


Arkha menatap Kanaya dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Kanaya. Yang Kanaya tahu, pasti dia akan mendapat sesuatu yang lebih mengejutkan setelah ini. Tinggal beberapa hari dengan Arkha, sedikit banyak Kanaya mengetahui sifat Arkha yang tidak mau dikalahkan. Pria itu akan membalas setiap perbuatan yang dia terima.


"Apa maksud dari perkataanmu, Kha?" sahut seseorang yang sedari tadi hanya memilih diam dan menyimak.


__ADS_2