
Satu jam lamanya Arkha menunggu Kanaya mencari gaun sesuai keinginan wanita bule tersebut. Membuatnya jenuh, lalu berinisiatif ingin menyusul Kanaya ke bagian terdalam butik itu. Namun, belum sempat dirinya beranjak dari duduknya, wanita yang sedari tadi ia tunggu berjalan pelan ke arahnya. Seketika tatapan Arkha terkunci pada wanita itu.
Kanaya berjalan pelan ke arah Arkha. Wanita itu nampak begitu anggun, dengan rambutnya berwana coklat itu ia sanggul. Tidak lupa menyisakan sedikit anak rambut yang dibiarkan tergerai. Hal itu semakin menonjolkan leher Kanaya yang putih dan mulus.
Dengan potongan gaun yang meng-ekspose bagian bahu, namun tetap tertutup di bagian depannya. Panjang rok yang hanya sebatas bawah lutut, membuat penampilan Kanaya begitu sempurna. Meskipun wanita itu tidak mengenakan make up di wajah bule-nya.
"Bagaimana? Apa ada yang kurang?" tanya Kanaya sembari memutar tubuhnya. Memperlihatkan ke arah Arkha, apa ada yang aneh pada penampilannya kali ini.
Arkha diam tidak merespon sama sekali. Menatap Kanaya tanpa mengedipkan matanya. Pria itu terhanyut dalam pesona Kanaya yang semakin terpancar. Cukup lama Arkha memperhatikan Kanaya, ia baru tersadar setelah Kanaya menepuk pelan bahunya. Membuatnya terkesiap, dan langsung mengalihkan pandangannya. Mencoba mengatur kembali ketenangan dirinya yang sempat menghilang.
__ADS_1
"Ya, ada apa?" Tanya Arkha sebisa mungkin bersikap tenang. Nyatanya saat ini degupan jantungnya semakin cepat. Karena Kanaya berada terlalu dekat dengannya.
"Isshh! Ditanya dari tadi juga," kesal Kanaya.
Sejujurnya ia sudah tidak tahan ingin melepas gaun yang tengah ia pakai. Karena terlalu ketat menurutnya di bagian atas. Sedangkan dirinya tidak terbiasa memakai baju yang seberti itu, meskipun suka baju yang terbuka. "Bagaimana kalau yang ini? Bagus nggak? Aku juga sudah memilih kemeja dengan motif yang sama dengn baju yang aku pakai ini," tanya Kanaya. Ia juga memilihkan setelan until Arkha. Tentu saja motif dan warnanya juga sama.
Arkha nampak mengamati penampilan Kanaya yang tiada cacatnya di matanya. Lalu berjalan memutari Kanaya hingga membuat wanita itu merasa risih.
"Bentar dulu," cegah Arkha. "Ada yang kurang dari penampilanmu," ucapnya lagi. Arkha memegang dagunya seraya menatap intens Kanaya. Kemudian tangannya terangkat, menyentuh leher Kanaya lalu menyibakkan anak rambut yang mengarah ke depan.
__ADS_1
"Jangan bercanda di sini. Aku sudah merasa lapar," lirih Kanaya seraya menatap memohon pada Arkha. Membuat Arkha gemas dengan sikap wanita ini.
Karena kini hampir semua penjaga butik memperhatikan mereka, dan hal itu membuat Kanaya tidak nyaman. Ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian selama ini. Namun, semenjak berada di sisi Arkha, ia menjadi sering diperhatikan oleh orang lain. Padahal dengan susah payah ia berusaha untuk berpenampilan biasa saja, agar tidak menarik perhatian orang lain.
"Jangan bergerak," bisik Arkha tepat di sebelah telingannya. Membuat Kanaya membeku seketika. Tidak berani bergerak sedikit pun. Ia hafal betul tabiat pria ini.
"Jangan di sini, Kak." Desis Kanaya mengingatkan Arkha. Karena yang ia tahu dari Arkha, bahwa budaya di negara ini tidak lah sama.
Arkha tersenyum mendengar peringatan Kanaya. Lantas, ide untuk menggoda wanita ini muncul lagi. Dengan seringai di bibirnya, Arkha menaruh dagunya tepat di bahu Kanaya. Dengan posisinya yang berada di belakang Kanaya. Tangannya meraih sesuatu di dalam sakunya.
__ADS_1
"Terus maunya dimana?" Goda Arkha dengan nada yang dibuat sensual. Membuat para pegawai butik mengalihkan pandangan mereka. Antara malu sendiri dan penasaran langkah apa selanjutnya yang akan dilakukan oleh pelanggan mereka.