Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Yang Sebenarnya


__ADS_3

Melihat Kanaya yang hanya diam seraya menunduk, Arkha menyudahi candanya dengan Tanisha. Membuat Tanisha menatap Arkha bingung lalu mengangguk paham setelah Arkha menunjuk ke arah Kanaya dengan dagunya. Kemudian Arkha berjalan menuju dimana Kanaya berada.


"Ada apa? Apa ada yang membuatmu merasa tidak nyaman?" Tanya Arkha begitu perhatian kepada Kanaya. Kanaya menggelengkan kepala tanpa berkata satu patah kata pun.


Bukan rahasia lagi jika Kanaya bersikap tertutup seperti ini kepadanya. Wanita ini memang suka memendam semuanya sendiri. Terkadang ada rasa bersalah dalam diri Arkha. Namun, ia tidak bisa mundur begitu saja. Ia sudah terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan Kanaya.


Setelah acara inti selesai, Arkha memohon pamit terlebih dulu dengan alasan Kanaya capek dan butuh istirahat. Sebelum dirinya sampai di mobil, ada sepasang tangan yang menarik dirinya. Lalu menyuruh Kanaya untuk masuk ke dalam mobil terlebih dulu.


"Jelaskan pada Kakak!" Ucap wanita yang menarik tangan Arkha barusan. Siapa lagi jika bukan kakaknya, Yutasha.

__ADS_1


Arkha menghela napas dan membuangnya dengan sangat kasar. Ia tahu ini pasti akan terjadi jika bertemu dengan kakaknya. Maka hal selanjutnya yang ingin ia lakukan jika bertemu dengan Yutasha, ialah mengakui semuanya. Sebelum kakaknya itu mengetahui berita bualan yang ia buat.


"Jelaskan yang mama, Kak? Aku sendiri bingung mau bercerita dari mana dulu," desah Arkha. Kini mereka duduk di samping kediaman Elajar.


"Apa Kanaya beneran hamil? Kakak tau tabiat kamu seperti apa. Apa bayi yang dikandung itu beneran anakmu? Atau selama jauh dari Kakak, kamu mengalami cukup banyak perubahan dalam hal tingkah lakumu yang mengikuti gaya orang barat? Apa kalian juga tinggal bersama? Kamu tidak melupakan norma-norma agama mu, kan? Apa perlu Kakak harus mengingatkanmu setiap hari?" Cecar Yutasha dengan berbagai pertanyaan. Seolah meragukan sikap Arkha selama ini yang tinggal jauh darinya.


"Naya tidak hamil, Kak. Aku hanya membual saja, agar wanita itu mau tinggal bersamaku," jelas Arkha.


Tentu saja hal itu mampu membuat Yutasha menggelengkan kepala, lalu memekik begitu kerasnya hingga ia sendiri mengusap dadaannya.

__ADS_1


"Astaga, Arkhaa...!! Apa yang kamu pikirkan? Bagaimana bisa menjerat wanita dengan cara seperti itu? Lakukanlah dengan benar. Bukan malah membohonginya dengan mengatakan dia hamil! Tapi tunggu dulu," Yutasha nampak memikirkan sesuatu. "Jika kamu mengatakan kalau dia hamil, apa itu artinya kalian memang pernah..." Yutasha menatap Arkha tidak percaya. Adiknya ini sudah berubah.


"Enggak, Kak!" Cepat-cepat Arkha mencegah pikiran kakaknya yang sudah pasti mengarah ke sana. Karena pikiran kakaknya ini sangatlah berbeda dengan kebanyakan orang. Terlalu jauh untuk mengimajinasikan setiap perkataan yang dia dengar. Dan akan menjadikan setiap cerita yang dia dengar itu ke dalam goreskan pena hingga menjadi sebuah Novel.


"Lalu bagaimana bisa kamu membuat cerita seperti itu, jika tidak ada sebab akibatnya," ucap Yutasha menatap lekat ke arah Arkha.


Mau tidak mau Arkha menceritakan semuanya kepada kakaknya sedetail mungkin tanpa ada yang dia tutupi. Ia juga mengatakan rencana yang akan ia laksanakan besok malam setelah keluarganya berkumpul semua. Ia serius dengan Kanaya dan ingin melamar wanita itu. Menjaganya dari kenangan masa lalu wanita itu yang sedikit banyak Arkha tahu.


Yutasha nampak mendengarkan dengan penuh cermat. Tidak menyela sedikit pun cerita adiknya tersebut. Sangking seriusnya membahas permasalahan itu, tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengarkan cerita mereka dengan sangat jelasnya.

__ADS_1


__ADS_2