
"Augh! Sakit, Sayang," rengek Arkha begitu manja kepada kekasihnya yang sedang mengobati luka akibat baradu fisik dengan Aldirck, beberapa waktu yang lalu.
Sedangkan Gladio menatap jengah kepada pria muda yang selalu mencari perhatian cucunya. Pria muda ini selalu saja mencari alasan agar cucunya selalu memperhatikannya, daripada memperhatikan dirinya.
Setelah kepergian Rudy, Gladio datang bersama dengan Kanaya dan juga Lilliana. Tentu saja Phillip lah yang mengantar mereka menuju tempat Kanaya yang baru ditempati beberapa hari ke belakang.
"Kamu kenapa nggak hati-hati sih, Kak. Jadinya sampai seperti ini, kan?" Kanaya nampak begitu sangat khawatir dengan keadaan Arkha yang terdapat luka di beberapa bagian tubuhnya. Dan juga memar di sudut bibirnya.
"Ini semua tidak sebanding rasa sakitnya, daripada saat melihatmu disentuh oleh pria lain, Sayang. Itu jauh lebih sakit," memang pria berdarah asia ini selalu tidak mengenal kondisi dan tempat dalam melancarkan rayuannya kepada sang pujaan hati.
Hal itu membuat Gladio geram sekaligus gemas. Pria muda ini selalu bisa mengambil kesempatan dari cucunya. Bahkan di depan dirinya, dia berani memeluk Kanaya. Lantas Gladio melangkah mendekat, lalu memukul bahu Arkha dengan sangat keras. Hingga membuat Arkha memekik sesungguhnya. Karena tempat itu yang terdapat memar yang sangat parah.
__ADS_1
"Nggak usah ambil kesempatan terus," geram Gladio setelah memukul Arkha.
"Jika ada kesempatan yang datang, jangan diabaikan, Kek. Begitulah aturan mainnya," balas Arkha dengan mengedipkan nakal sebelah matanya ke arah Gladio. Membuat Lilliana yang memperhatikan sikap mereka sedari tadi menahan senyumnya.
Setelah berhasil membuat Gladio geram kepadanya berkali-kali, Arkha kembali menatap Kanaya dengan sendu. "Sayang, sakiitt...," rengek pria yang terbilang sudah dewasa itu kepada Kanaya.
Kemudian mendapat sebuah pelukan dari kekasihnya. Hal itu mampu membuat Gladio semakin kesal saja dengan sikap licik kekasih cucunya tersebut. Apalagi di saat melihat senyuman seringai sari bocah tengiik itu. Membuat Gladio semakin ingin memukul Arkha kembali.
"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Tanya Phillip tiba-tiba yang berhasil mengalihkan perhatian semua orang kepadanya.
"Tentu saja secepatnya, Paman."
__ADS_1
"Aku tidak setuju!" Jawab Gladio dan Arkha secara bersamaan. Kemudian mereka saling tatap.
"Tidak bisa begitu, Kek. Bukannya anda sudah menandatangani sebuah perjanjian yang anda ajukan sendiri?" Ingat Arkha dengan sebuah janji Gladio yang akan merestui hubungannya denga Kanaya, jika berhasil membuat Kanaya berbaikan dengan Gladio. "Apa perlu aku tunjukkan kertas yang telah Kakek tandatangani?" Tanya Arkha selanjutnya dengan wajah yang sangat serius.
Untuk keberapa kalinya Gladio selalu dibuat kesal oleh Arkha. Sehingga pria itu kini memilih keluar dari apartemen Kanaya. Namun sebelum keluar, pria tua itu rupanya mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan semua orang. Termasuk Arkha sendiri.
"Kalau begitu dua hari lagi kalian harus menikah. Sesuai alasan yang kau berikan kepadaku dulu, dan jika hal itu tidak ada nyatanya maka aku yang akan memisahkan kalian dengan tanganku sendiri," ancam Gladio dengan tersenyum penuh arti menatap ke arah Arkha yang sekarang terdiam di tempatnya. Tidak bisa membalas ucapannya lagi, seperti yang sudah-sudah.
Kemudian baru pria tua itu melenggang pergi dari sana dengan senyum kemenangan. Meninggalkan Arkha dengan wajah terkejutnya. Gladio senang telah berhasil membalas kejahilan Arkha terhadap dirinya. Karena Gladio tahu, Kanaya tidaklah hamil. Meskipun mereka pernah melakukan hubungan kenikmatan.
"Sayang, kita harus segera membuatnya," ucap Arkha menatap frustasi ke arah Kanaya. Membuat Kanaya dan Lilliana tidak mengerti. Sedangkan Phillip hanya menggelengkan kepala melihat sifat asli dari CEO Elajar Corp. Sangat berbamding terbalik dengan apa yang dia lihat saat berada di perusahaan.
__ADS_1