
Di dalam sebuah kamar dengan nuansa putih berpadu dengan warna biru, terlihat seorang wanita yang tengah gelisah dalam tidurnya. Wanita itu bergerak penuh gusar dengan mata yang masih terpejam. Bulir-bulir keringat mulai muncul di area wajah dan leher. Raut wajah wanita itu nampak seperti sedang ketakutan. Tangannya menggenggam erat selimut yang tengah menutupi tubuhnya dari dinginnya malam ini.
"Tidak!" Pekik wanita itu namun dengan mata tertpejam. "Jangan lakukan itu!" Tambahnya lagi seraya kepalanya bergerak ke samping kanan dan kiri. Kakinya menendang dalam tempat tidurnya.
Wanita itu terus meneriakkan kata yang sama, juga dengan nada suara yang semakin keras. Membuat Arkha yang tidur di ruangan sebelah terbangun karena terusik dengan suara tersebut.
Setelah memutuskan membawa Kanaya untuk tinggal di apartemannya, Arkha merubah ruang kerjanya menjadi tempat tidurnya sekaligus. Karena Kanaya menempati kamarnya. Kebetulan juga di kamarnya terdapat pintu yang menghubungkan antara kamar dan ruang kerjanya yang terletak tepat bersebelahan.
Arkha mengerjapkan matanya, mempertajam kembali pendengarannya untuk memastikam asal suara yang mengusik tidurnya. Kesadarannya langsung kembali, pada saat mendengar suara itu berasa dari kamar yang di tempati oleh Kanaya. Tanpa menunggu lama, Arkha segera beringsut dari tempat tidurnya, melangkahkan kakinya lebar menuju pintu yang terhubung dengan kamarnya.
"Tidak!" Kanaya terlihat semakin ketakutan dalam tidurnya.
Arkha langsung berlari mendekati Kanaya setelah melihat wanita itu gelisah dalam tidurnya, serta berteriak dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Nay, ada apa?" tanya Arkha terdengar sangat khawatir. Karena melihat Kanaya mengeluarkan keringat yang terbilang tidak lazim untuk orang yang sedang tertidur.
"Nay, bangun, Nay." Arkha menepuk pelan pipi Kanaya. Namun, wanita itu tidak kunjung membuka matanya.
"Jangaaannn!!" Pekik Kanaya begitu pilu disertai butiran bening mengalir dari sudut matanya. Tangan Kanaya beralih pada tangan Arkha yang terus berusaha membangunkanya. Menggenggam begitu erat, seakan tidak mau dilepas.
Setelah meneriakkan itu, Kanaya membuka matanya dengan sempurna. Raut ketakutan masih tercetak jelas di wajah cantiknya. Deru napas yang memburu, serta degupan jantungnya yang tidak berirama, Kanaya bangun dari tidurnya.
"Aku takut," ucapnya setelah sadar dengan nada suara yang lirih. Memeluk lengan Arkha yang duduk di tepian ranjang.
"Mereka membunuh orangtuaku dengan cara yang kejam," lanjut Kanaya lagi dengan mata yang kembali mengeluarkan butiran bening mengalir di pipi mulusnya. Suaranya semakin terisak, ketika mengingat kejadian yang begitu mengerikan di dalam hidupnya.
Mendengar pengakuan Kanaya, membuat Arkha kaget bukan main. Namum, pria itu berusaha menjaga mimik wajahnya agar terlihat tetap tenang. Kemudian menarik Kanaya dalam dekapannya sampai wanita ini berangsur tenang.
__ADS_1
Ia sangat penasaran dengan kehidupan Kanaya sebelumnya. Apalagi setelah mendengar jika orangtuanya mati karena dibunuh. Ia akan mencari tahu hal ini lebih detail lagi. Tentu saja dengan bantuan Alexander, yang terbukti cara kerja pria itu tidak bisa diremehkan.
Di rasa sudah tenang, Arkha merebahkan kembali tubuh Kanaya dengan pelan. Membenarkan letk selimut yang dipakai wanita ini.
"Tidurlah, aku akan di sjni menemanimu," ucap Arkha.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku, sebelum aku tertidur kembali," pinta Kanaya menatap memohon pada Arkha. Arkha mengangguk pelan sebagai jawaban.
Kemudian Kanaya mulai memejamkan matanya kembali. Tangannya masih memegang erat lengan Arkha. Takut jika pria itu akan meninggalkan dirinya sendirian di kamar.
Cukup lama Arkha berada di samping Kanaya. Melihat wanita ini sudah terlelap, Arkha beranjak dari duduknya, melepas pelan tangan Kanaya di lengannya lalu mengecup singkat kening Kanaya seraya mengusap lembut kepala Kanaya.
"Aku berjanji akan menjaga dan melindungi dari orang yang berniat jahat kepadamu. Aku juga berjanji akan membantu permasalahanmu dengan keluarga Burrack," ucap Arkha. Lalu menegapkan tubuhnya berniat ingin melangkah keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Namun, langkahnya tercekat saat Arkha mendengar suara Kanaya yang tengah mencegahnya, serta ujung bajunya yang ditarik oleh wanita ini.
"Sudah aku bilang, jangan tinggalkan aku. Temani aku malam ini saja. Aku benar-benar takut," rengek Kanaya dengan mata kembali berkaca-kaca menatap ke arah Arkha. Mana bisa Arkha menolak permintaan dari wanita yang dia taksir.