Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Wanita Ceroboh


__ADS_3

"Tentu saja di kamarku." Jawab Arkha dengan santai tanpa menatap ke arah Kanaya lagi. Dia lebih memilih menikmati kopi yang tadi dibuatkan oleh Kanaya untuknya.


"Kak," ulang Kanaya lagi.


Arkha berpura-pura tidak mendengar panggilan Kanaya dan berdiam saja. Karena kesal tidak direspon, membuat Kanaya membalikkan langkahnya menuju ke arah Arkha kembali. Kanaya berdiri tepat di hadapan Arkha sambil berkacak pinggang.


"Apa maksudnya aku tidur di kamar kamu? Kita saling berbagi tempat tidur, begitu? Kalau memang iya, lebih baik aku tidur di sini saja." Tentu saja Kanaya tidak akan jatuh ke dalam kandang Macan. Cukup dia terjerat dalam permainannya saja.


Arkha menggelengkan kepala. Selalu saja dibuat pusing oleh tingkah wanita ini. Kemudian Arkha berdiri, meraih tangan Kanaya dan membawanya naik ke lantai atas. Tentu saja wanita itu tidak akan pernah diam. Dia selalu punya cara untuk memberontak ataupun melawan keputusan Arkha.

__ADS_1


"Kamu jangan macam-macam, Kak!" Bentak Kanaya saat mereka telah sampai di depan pintu kamar Arkha. Arkha hanya menghela napasnya.


"Ini udah malam, jangan buat aku tambah pusing lagi, Nay. Kamu tidurlah di kamarku, aku akan tidur di sofa. Karena di sini hanya terdapat satu kamar tidur." Jelas Arkha sambil memijat pelipisnya. Kepalanya terasa amat sakit kali ini.


Kanaya menoleh ke arah sofa yang mereka duduki tadi. Sofa itu terbilang kurang panjang jika untuk dibuat tempat tidur oleh Arkha. Kanaya tidak mungkin menikmati tidurnya, jika sang tuan rumah saja tidak bisa menikmati tidurnya. Maka kemudian Kanaya memutuskan, dirinyalah yang seharusnya tidur di sofa.


"Kamu tidurlah di kamarmu. Biar aku saja yang tidur di sofa. Karena sofa itu tidak muat untuk menampung badanmu yang tinggi. Tapi sebelum itu, bolehkah aku meminjam selimutmu? Karena pasti nanti akan terasa dingin di sana." Tunjuk Kanaya ke arah sofa dengan jemarinya.


"Kalau memang kamu yang ingin tidur di sofa, tidurlah di sana." Tunjuk Arkha ke arah sofa yang terdapat di dalam kamarnya. Sofa itu berukuran lebih panjang dan lebih lebar sedikit dari sofa yang berada di luar.

__ADS_1


Tanpa melayangkan protes lagi, Kanaya berjalan menuju sofa. Badannya terasa amat lelah hari ini. Ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdebat dengan Arkha. Maka detik selanjutnya, Kanaya merebahkan tubuhnya di atas sofa, lalu mulai memejamkan matanya. Menyelami alam mimpi yang sangat sayang untuk ditinggalkan.


Arkha memperhatikan setiap tingkah wanita itu. Lalu ia tersenyum geli saat melihat dengan mudahnya Kanaya terlelap begitu saja. Tanpa bantal, atau selimut. Sangat beebeda pada saat dia protes tadi padanya. Bahkan sekarang Kanaya tidak bersikao hati-hati, jika saja Arkha bisa menyerangnya begitu saja.


"Dasar, wanita aneh." Gumam Arkha.


Arkha melangkah menuju lemarinya, lalu membuka untuk kemudin mengambil selimut cadangan yang dia miliki. Lalu mengambil bantal yang terletak di atas kasur. Arkha berjalan kembali ke arah Kanaya, membenarkan posisi tidur wanita itu yang sudah terlelap, lalu menyelimutinya.


Satu kenyataan lagi yang Arkha dapat dari wanita ini. Wanita ini mudah sekali terlelap di manapun tempatnya, tanpa waspada. Jika sudah tidur, wanita ini tidak mudah terusik. Buktinya saat Arkha membantunya membenarkan posisi tidur Kanaya, wanita ini tidak merasa terusik sama sekali.

__ADS_1


"Wanita ceroboh." Arkha tersenyum memandangi wajah tenang Kanaya yang terlelap, lalu mengecup singkat kening Kanaya.


__ADS_2