Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Undangan Pernikahan


__ADS_3

"Jika kau tidak mau keluar, aku yang akan keluar dari ruangan ini." Sarkas Arkha.


Arkha melangkah keluar dari ruangannya sebelum mendengar jawaban dari Shanaz. Dia tidak mau terjebak lagi dengan wanita itu. Sebelum sempat meraih handel pintu, terdengar suara Shanaz yang berteriak padanya. Sehingga Arkha menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan ke arah Shanaz yang kini menatapnya penuh dengan rasa sesal.


"Aku ke sini hanya untuk mengantarkan undangan pernikahan kami, Kha." Ucap Shanaz dengan nada menyesal.


"Kau tenang saja. Aku pastikan akan datang di hari bahagiamu itu. Hari di mana kau selalu memimpikan sebuah pesta pernikahan yang megah. Aku harap Stevhano tidak mengecewakan keinginanmu itu." Arkha berusaha tegar. Dia harus segera move on dari wanita ini.


"Maafkan aku, Kha," wajah Shanaz menampilkan penyesalannya terhadap Arkha.


"Semua sudah terjadi, dan memang kita bukanlah jodoh yang sesungguhnya." Balas Arkha dengan nada datar. Nada yang tidak pernah ia suarakan saat bersama Shanaz, tapi itu dulu.

__ADS_1


Shanaz mengerjapkan matanya berkali-kali. Dia masih tidak percaya akan sikap Arkha yang berubah dengan cepat. Lebih-lebih sikap dingin yang tidak pernah ia lihat, kini diperlihatkan oleh Arkha.


"Jaga dirimu dan kandunganmu itu baik-baik." Ucap Arkha, kemudian tangannya membuka pintu lalu keluar meninggalkan Shanaz di dalam ruangannya sendirian.


Dada Arkha begitu sesak, saat tadi melihat air mata yang mengalir dari pelupuk mata wanita yang selama ini mengisi hari-harinya. Tapi rasa sesak itu berganti dengan rasa perih, ketika mengingat pengkhianatan yaang dilakukan oleh Shanaz.


Tidak mau berlarut dengan masa lalunya, Arkha memutuskan langsung segera berangkat menuju Restoran Ken-Ken, di mana para bawahannya sudah menunggu dirinya sedari tadi.


Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan Arkha untuk bisa sampai si restoran Ken-Ken, ini. Arkha keluar dari mobilnya, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran tersebut.


Saat hendak sampai di depan pintu restoran, mata Arkha menangkap seseorang yang sangat dia kenali. Seketika moood-nya berubah senang. Ide jahil pun melintas di otaknya. Entah kenapa, bertemu dengan wanita bermata kehijauan yang sampai saat ini belum berhasil ia ketahui namanya itu, membuat Arkha mempunyai hiburan tersendiri. Maka dari itu, sebelum menghampiri wanita tersebut, Arkha menggulung lengan kemejanya sampai batas bawah siku. Membuka dua kancing kemejanya bagian atas, lalu mengacak sedikit rambutnya yang tertata rapi.

__ADS_1


Kini, penampilan Arkha benar-benar seperti seorang berandal. Sangat sesuai dengan julukan yang wanita itu berikan kepadanya. Setelah di rasa sesuai, Arkha mulai melangkahkan kembali kakinya menuju wanita yang tengah membersihkan meja bekas dipakai pelanggan.


"Sudah aku bilang, kalau kita akan bertemu lagi, Nona," sapa Arkha sambil menarik kursi untuk kemudian ia duduki.


Wanita yang tengah sibuk membersihkan meja tersebut, terperanjak kaget ketika melihat melihat ada seseorang yang tiba-tiba saja duduk di tempat yang sedah ia bersihkan. Badannya reflek mundur dan hampir terjungkal ke belakang, jika saja pria itu tidak menarik lengannya hingga dirinya terjerembab dan jatuh ke dekapan pria itu.


"Apa kau sebegitu merindukan pelukanku, Nona?" Tanya Arkha dengan tersenyum jahil.


Kanaya mengangkat wajahnya, menatap pria yang tengah melingkarkan tangannya di pinggangnya. Tatapan mereka saling bertemu, seketika hening melanda mereka. Arkha menyelami netra kehijauan itu, yang memancarkan keteduhan, serta ketenangan di dalam dirinya.


Keduanya masih saling diam, menikmati keterkejutan dan ketenangan secara bersamaan, hingga ada sebuah suara yang mampu menyadarkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2