Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Melepasnya


__ADS_3

"Sayang ... kamu beneran nggak mau menungguku sampai pulang?" mohon Arkha kembali, karena belum puas dengan jawaban yang diucapkan oleh Kanaya.


Arkha memohon sambil bergelanyut manja di lengan Kanaya. Meninggalkan kesannya yang terkenal sebagai pria datar dan dingin. Namun, jika berhubungan dengan gadis bulenya, pria itu tidak meperdulikan apapun lagi selain mendapatkan apa yang ia inginkan dari wanitanya. Entah itu tatapan aneh dari orang di sekitar mereka. Arkha tak menghiraukan semua itu.


Sampai-sampai membuat Kanaya malu sendiri. Karena kini mereka menjadi pusat perhatian beberapa orang yang menunghu di ruangan itu. Semua itu akibat sikap Arkha yang seperti anak kecil. Bahkan, Gressya pun tidak akan bersikap seperti Arkha sekarang ini.


"Iya, iya. Aku akan menunggumu sampai kamu pulang. Asal kamu jangan lama-lama di sana. Karena aku sendiri tidak tau sampai mana batas sabarku menunggumu," ujar Kanaya pada akhirnya. Ia sudah cukup merasa malu akibat ulah Arkha. "Tapi ingat, kamu di sana juga jangan suka genit pada gadis-gadis yang lebih cantik dariku. Jika sampai itu terjadi, maka aku akan sungguh-sungguh memotong itumu lalu aku berikan ke wanita itu," ancam Kanaya selanjutnya dengan nada serta tatapan yang serius ke arah Arkha.


Arkha merasa senang, karena Kanaya sedikit mulai menyukai dirinya. Bahkan, wanita itu juga sudah berani melarang dirinya agar tidak dekat dengan wanita lain. Namun, ancaman yang diberikan kekasihnya itu bisa melenyapkan lehidupannya sekaligus. Lebih baik dirinya di tusuk atau dipukul, dari pada harus kehidupannya dilenyapkan.

__ADS_1


"Tidak bisakah ancamannya diganti dengan yang lain, Sayang? Itu rupanya agak sedikit menyeramkan," Arkha ngeri sendiri jika memang benar kehidupannya akan dilenyapkan oleh Kanaya, bila dirinya melakukan kesalahan sedikit pun. Ternyata wanita ini lebih menyeramkan jika sudah mengkudeta miliknya dan tidak mau berbagi.


Untuk kesekian kalinya Revald tertawa di tempatnya. Melihat Arkha yang tidak bisa berkutik di depan kekasihnya, merupakan hiburan untuknya. Pasalnya pria itu merupakan salah satu orang yang ditakuti oleh anggota mereka. Tanpa ampun dan tegas, itulah Arkha Al-Fatih Maerran. Namun, Revald melihat sangat berbanding terbalik dengam Arkha yang ada di hadapannya saat ini.


"Jika cinta dapat membuat cara kerja otak melemah dan terlihat bodoh, maka aku rela tidak dihinggapi virus yang bernamakan cinta," gumam Revald. Ia cukup ngeri sendiri jika sampai dirinya akan bernasib sama dengan Arkha.


"Alamat nggak bisa curi pandang dengan bule di sana," lirih Arkha kemudian yang mendapat sebuah cubitan keras di perutnya dari Kanaya.


"Awas saja jika sampai berani macam-macam!" Tekan Kanaya. Membuat Arkha terkekeh geli melihat sifat posesif kekasihnya tersebut.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pesawat yang ditumpangi Arkha lepas landas. Kanaya melepas kepergian Arkha dengan melambaikan tangannya, tersenyum ke arah pesawat yang mulai membelah awan tersebut. Meskipun Arkha tidak akan melihatnya. Cukup lama Kanaya menatap pesawat itu, hingga ada sebuah suara yang menyadarkan dirinya.


"Sudah puas, Nona? Kalau sudah puas, mari kita pulang. Karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini," ungkap seseorang yang berdiri tepat di sebalah Kanaya.


Kanaya pun megangguk, kemudian mengikuti langkah Revald di belakang pria itu. Tidak ada percakapan di antara mereka pada saat menuju ke area parkir. Dimana mobil yang dikemudikan Revald tadi tersimpan.


Sesampainya di dalam mobil, Revald membuka obrolan terlebih dulu dengan Kanaya. Bukan dirinya jika berdiam diri terlalu lama. Sifatnya kurang lebih tidak jauh dengan sahabatnya, Arkha.


"Mau pulang atau minta di antar ke mana dulu? Tapi aku nggak bisa menemanimu. Ada urusan di kantor," tanya Revald seraya menyalakan mesin mobil untuk kemudian ia ajak membelah jalanan ibu kota dengan cuaca yang terik seperti sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2