
Di sepanjang perjalan menuju supermarket, Kanaya memilih diam membisu. Bukan lagi gusar karena tidak punya pekerjaan lagi. Tetapi semua itu karena apa yang Arkha lakukan terhadap dirinya sore tadi. Pria itu benar-benar menguras amarahnya.
"Udah, dong. Jangan ditekuk begitu wajahnya. Kelihatan semakin cantik, loh!" goda Arkha sambil fokus pada kemudinya.
Saat ini mereka tengah menuju supermarket. Karena pada saat Kanaya mau memasak untuk makan malam, bahan yang ada di lemari pendingin hanya sisa telur ayam saja.
Kanaya tidak menghiraukan ocehan Arkha. Ia lebih fokus pada handphone di tangannya. Men-scroll media sosial yang lama tidak ia buka. Melihat postingan teman-teman masa sekolahnya yang tengah mengadakan liburan, membuat Kanaya sedikit iri.
Namun, rasa itu segera ia hapus. Buat apa iri dengan kehidupan orang lain, sementara ia tidak tahu yang sebenarnya tentang orang itu. Apa masalah yang tengah mereka hadapi. Sama halnya dengan dirinya. Ia selalu menampilkan sikap yang baik-baik saja, seolah tidak punya beban sedikitpun di dalam hidupnya. Nyatanya, hidupnya tak seindah senyuman bibir tipis miliknya.
__ADS_1
Kanaya tersenyum tipis, seraya menggelengkan kepala. Menyadari pikirannya yang kembali mengenang masa-masa dimana dirinya merasakan indahnya hidup ini, sebelum kedua orang tuanya tiada. Tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipi.
Menyadari wanita di sampingnya yang diam membisu, Arkha sempatkan untuk menoleh sebentar ke arah Kanaya. Betapa terkejutnya dia saat melihat pipi mulus Kanaya yang basah. Reflek, Arkha menginjak pedal rem secara mendadak. Mengakibatkan tubuh mereka terpental ke depan. Hingga handphone yang tengah dipegang oleh Kanaya jatuh. Untung saja kepala Kanaya tidak terbentur oleh dashboard mobil.
"Kamu kenapa sih, Kak? Kalau emang ngantuk, ya sudah, pulang saja. Aku bisa naik taxi sendiri," ucap Kanaya seraya mengusap dadaanya. Cukup kaget dengan tindakan Arkha yang mendadak mengerem mobil.
Melihat Kanaya yang kesal padanya, membuat Arkha menyengir lalu matanya beralih pada handphone Kanaya yang tergeletak di bawah, dan menampilkan beberapa wanita seumuran Kanaya temgah tersenyum menghadap kamera. Hati Arkha merasa lega seketika. Ternyata hanya kenangan masa lalu, atau wanita ini rindu ingin liburan bersama dengan teman-temannya.
"Emang kamu udah ngapa-ngapain aku," cibir Kanaya sembari mengambil handphone-nya kembali.
__ADS_1
"Mau diulang lagi?" entah kenapa Arkha tidak ada bosannya perihal menggoda Kanaya.
Suka saja melihat wajah wanita itu yang cemberut, marah, ataupun memaki dirinya. Hidupnya terasa penuh warna. Belum tahu saja jika setelah ini mungkin hidup Arkha penuh akan tantangan mengenai wanita itu. Hanya tinggal menunggu waktu saja, sebelum dirinya membongkar kenyataan yang selama ini wanita itu cari.
Semenjak mengetahui Kanaya keturunan keluarga Burrack, Arkha mulai mencari tahu kronologi meninggalnya orang tua Kanaya. Andre Akshen Burrack dan Grandy Verronica. Dia memperintahkan Alexander, tangan kanan Darren yang berada di kota ini untuk membantu dirinya.
Tentu saja Arkha meminta ijin kepada Darren terlebih dulu.
"Enggak!" Kanaya menolak tegas. Hal itu mampu membuat Arkha tertawa.
__ADS_1
Hidupnya terasa bahagia dengan adanya Kanaya. Kanaya datang di dalam hidupnya pada waktu yang sangat tepat. Di saat dirinya terluka dan membutuhkan penawar, Kanaya datang tanpa diduga. Mungkin takdir masih memihak padanya. Nyatanya, Kanaya mampu dengan cepat membuat Arkha melupakan masa lalunya. Kini giliran Arkha untuk membuat Kanaya jatuh hati kepadanya.