Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Menghabiskan Waktu


__ADS_3

Setelah menceritakan semuanya kepada Arkha, Kanaya merasas sedikit lega. Karena memang ia belum pernah cerita tentang masalah hidupnya selama ini kepada orang lain. Kecuali tentang asmaranya. Mengenal pria yang sangat pengertian kepadanya, membuat Kanaya bersyukur telah dipertemukan dengan Arkha. Pria asing yang mau bersusah payah untuk dirinya.


"Jam berapa besok kamu berangkat?" Tanya Kanaya yang membantu mengemasi barang-barang Arkha untuk kemudian di masukkan ke dalam koper.


Saat ini mereka berada di rumah Arkha. Karena besok Arkha bertolak ke LA, maka dari itu Kanaya menawarkan diri untuk membantunya berkemas. Sementara saat ini Arkha duduk di pinggiran ranjang, mengamati wanita bulenya itu yang tengah sibuk memilih baju mana yang akan ia bawa.


"Jam sepuluh pagi. Kenapa?" tanya Arkha balik.


"Tidak apa-apa. Hanya sekedar ingin tahu saja. Jika sudah sampai, jangan lupa untuk memgabariku," pinta Kanaya tanpa menatap ke arah Arkha. Lalu memasukkan baju yang terakhir. "Yups, semua sudah masuk dengan rapi," ucapnya lagi sambil menepuk nepuk koper milik Arkha. Setelah itu ia beranjak dari tempatnya untuk kemudian menyusul Arkha yang duduk di pinggiran ranjang milik pria itu.


"Apa kamu lapar? Mau aku huatkan makanan?" tanya Kanaya yang entah mengapa hari ini terlihat sangat berbeda dari sebelumnya di mata Arkha.

__ADS_1


"Enggak, Sayang." Balas Arkha seraya menggelengkan kepalanya. Lalu menarik tubuh Kanaya agar duduk bersebelahan dengan dirinya di tengah-tengah ranjang. Menyandarkan tubuh mereka ke kepala ranjang.


"Ada apa lagi?" tanya Kanaya pada saat Arkha semakin erat memeluk dirinya.


"Entah kenapa kamu sangat berbeda sekali hari ini," ungkap Arkha yang masih setia mengusap rambut Kanaya dengam penuh lembut.


"Berbeda? Berbeda bagaimana?" Kanaya memicingkan matanya ke arah Arkha sembari menjauhkan kepalanya. Menatap tidak mengerti pada pria itu.


"Tumben kamu bersikap manis dan sangat perhatian padaku hari ini, Sayang," ucap Arkha tiba-tiba yang membuat wajah Kanaya bersemu merah.


"Eng-enggak, biasa saja," elak Kanaya semakin menundukkan kepalanya. Cukup malu untuknya mengakui kalau semua yang dilayangkan Arkha kepadanya, memang benar adanya.

__ADS_1


Arkha tersenyum melihat Kanaya yang malu-malu seperti itu, nampak begitu menggemaskan di matanya. Terkadang ia berpikir, apakah dirinya akan kuat jika berada saling berjauhan dengan wanita bule ini. Ingin rasanya mengajaknya untuk pulang kembali ke negaranya. Akan tetapi ia masih takut jika kalau Kanaya akan berubah pikiran setelah berbaikan dengan keluarganya. Terlebih lagi jangan lupakan ada Keanu di sana. Yang siap mengambil Kanaya kapan saja.


Dari berita yang dia dengar terakhir kali. Bahwa pria itu meninggalkan restorannya dan kembali ke perusahaan. Memimpin kembali perusahaan keluarga yang sempat Keanu tolak. Dari yang Arkha tahu, sahabatnya itu memang tidak suka mengurusi hal-hal rumit yang ada di perusahaan. Maka dari itu Keanu lebih memilih untuk mendirikan sebuah restoran yang bernama Ken-Ken Restoran.


Arkha yakin, kembalinya Keanu ke perusahaan ada maksud lain dari pria itu. Arkha tahu betul bagaimana tabiat Keanu. Yang tidak mau berpusing mengurusi hal seperti itu.


"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, sebelum aku berangkat besok," ujar Arkha, setelah berpuas menikmati rona merah yang timbul di wajah Kanaya.


"Bukannya setiap hari kita selalu bersama? Lalu menghabiskan waktu yang bagaimana lagi? Aku selalu berada di sisimu semenjak menginjakkan kakiku di negara ini," sahut Kanaya. Dia begitu tidak mengerti apa yang sedang dimaksud oleh Arkha.


Lantas Kanaya menatap pria itu yang tak hanya diam saja dan malah menampilkan senyuman yang sulit dimengerti. Semakin di lihat, pria itu semakin tersenyum seraya mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


"Jangan bilang maksudmu menghabiskan waktu, itu tentang melewati malam bersama?" tebak Kanaya yang kemudian mengambil sikap waspada.


__ADS_2