
"Kamu mau apa, Tuan?" tanya Kanaya saat Arkha memajukan wajahnya.
"Mau ini," Arkha menarik pinggang Kanaya hingga posisi mereka tanpa spasi. Setelah itu Arkha melabuhkan bibirnya ke bibir Kanaya.
Kanaya terperanjat kaget dengan perbuatan Arkha terhadapnya. Pria itu menggoda dirinya dengan gerakan lembut. Hingga Kanaya tidak sadar mengikuti permainan yang di dominan oleh Arkha.
Cukup lama mereka saling memagut. Menikmati sensasi yang dihasilkan. Hingga kemudian Arkha menarik diri dengan pelan. Menempelkan keningnya pada kening Kanaya. Napas mereka masih saling memburu. Membuat wajah Kanaya kian terasa panas dan memerah karena malu dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Sarapan pagi yang membuat candu," ucap Arkha lirih. Menatap lekat netra kehijauan milik Kanaya.
Mendengar hal itu, membuat Kanaya semakin kesal dengan Arkha. Lantas wanita itu menatap tajam ke arah Arkha, serta mengumpat kesal. "Dasar, mesum!" pekik Kanaya kesal pada tindakan Arkha. Lalu sebelum keluar dari kamarnya, Kanaya sempatkan untuk menginjak kaki Arkha dengan keras.
__ADS_1
"Bibirmu rasanya manis, Nay!" teriak Arkha pada Kanaya yang sudah menuruni anak tangga.
"Dasar, gila!" balas Kanaya. Dia tetap terus melanjutkan langkahnya menuju ruang makan.
"Bahkan aku bisa melakukan hal yang lebih gila dari ini, Nay," gumam Arkha seraya mengelus bibirnya yang masih terasa jejak bibir Kanaya yang manis.
Pagi ini, Arkha ada pertemuan penting di kantor. Rencananya yang ingin mengajak Kanaya pulang ke Indonesia, terpaksa ia tunda. Karena Joshep tidak mendukung langkahnya. Selain itu jadwal yang sudah tersusun rapi untuk melakukan pertemuan dengan para klien di berbagai kota, tidak bisa Joshep rubah. Karena mereka tergolong orang yang sulit untuk diajak bekerja sama.
Namun, hal itu terlihat aneh di mata Joshep. Seorang Arkha Maerran me oh on kepadanya? Itu sangatlah muatahil bagi Joshep. Setelah kenal selama empat tahun dengan Arkha, Joshep tak sekalipun pernah melihat Arkha memohon pada orang lain. Dan hal itu kini terjadi kepadanya.
"Jangan bilang kau ingin menikahi Kanaya di sana, dan tidak akan kembali ke sini lagi," tebak Joshep. Siapa lagi kali ini yang bisa membuat seorang Arkha bisa bersikap seperti anak kecil jika sedang jatuh cinta, bila bukan Kanaya.
__ADS_1
"Siapa yang akan menikah? Aku hanya ingin mengenalkan Kanaya pada keluargaku saja," sanggah Arkha. Jika hal itupun terjadi, Arkha tidak akan menolaknya.
"Apa kau yakin jika Kanaya mau kau ajak ke Indonesia?" Joshep sedikit banyak tahu sifat dan sikap Kanaya yang kelewat jutek pada orang sekitar. Mana mungkin wanita itu mau dengan mudah mengikuti Arkha. Sedangkan Arkha selalu mengancam Kanaya, agar wanita itu mengikuti semua perintahnya.
Kalimat Joshep ada benarnya juga. Arkha belum mengatakan niatannya untuk mengunjungi keluarganya di Indonesia. Melihat tabiat wanita itu, akan sulit bagi Arkha untuk membujuk wanita itu.
Arkha sendiri tidak tahu mengapa dia sangat antusias mengajak Kanaya berkunjung ke Indonesia. Dirinya juga semakin mantap untuk tidak melepaskan wnaita itu. Apalagi setelah mendengar sedikit dari permasalahan yang sedang Kanaya hadapi. Arkha ingin selalu ada di samping wanita itu. Tidak akan mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Aku punya cara sendiri untuk membuat wanita itu menurut padaku," ucap Arkha dengan seringai terbit di bibirnya.
Hal itu semakin membuat Joshep pening. Pasalnya dia tidak bisa mengubah seenaknya saja jadwal dengan para orang-orang penting tersebut. Karena dirinya dan Arkha juga sangat susah melakukan janji bertemu dengan mereka.
__ADS_1
"Tidak ada pilihan lain lagi, Kha. Selesaikan pertemuan ini sesuai jadwal, baru setelah itu kau bisa pulang ke negaramu. Jika kau tetap bersikeukuh, maka aku tidak punya cara lagi untuk mencegahmu, selain melaporkannya pada Tuan besar," putus Joshep. Tuan besar di sini yang Joshep maksud adalah Erlangga Elajar. Pemilik perusahaan ini sekaligus kakak ipar Arkha. Dan Joshep ditugaskan oleh Erlangga, selain menjadi sekretaris Arkha, dia juga merangkap menjadi orangnya Erlangga.