
Sepuluh menit menunggu di ruang makan, akhirnya yang ditunggu keluar juga dari kamarnya. Wanita itu terlihat lebih segar dari sebelumnya, meskipun tanpa make up yang menempel di wajahnya. Kemudian ia menarik kursi di depannya, mempersilahkan wanita itu untuk duduk.
"Makasih," ucap Kanaya merasa aneh dengan sikap Arkha yang berlebihan malam ini.
Tidak hanya sampai di situ saja sikap Arkha yang aneh menurut Kanaya. Bahkan pria itu juga mengambilkan nasi goreng ke piringnya. Lalu menyodorkan gelas yang berisi air putih.
"Aku bisa sendiri, Tuan," ucap Kanaya mengambil alih sendok yang di pegang Arkha. Kemudian gantian dirinya yang mengambilkan nasi goreng ke dalam piring pria itu.
"Mau sampai kapa kamu memanggilku dengan sebutan Tuan, Nay?" Protes Arkha. Wanita ini selalu saja memanggil dirinya dengan sebutan yang tidak ia suka.
"Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa? Sayang? Tidak mungkin, kan?" Kanaya memberikan piring yang sudah terisi penuh oleh nasih goreng buatan Arkha.
__ADS_1
"Why not?" balas Arkha. Lalu memyendok nasi goreng yang ada di atas piringnya untuk kemudian ia masukkan ke dalam mulutnya.
Kanaya juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Arkha. Satu suapan, ia rasa makanan ini terasa asing di dalam mulutnya. Karena memang ini pertama kalinya Kanaya menyantap nasi goreng. Kemudian ia meyuapkan kembali nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Rasa lezat yang sungguh luar biasa meledak di dalam mulutnya. Lalu wanita itu mengulang kegiatannya tanpa jeda hingga membuatnya tersedak.
"Pelan-pelan saja makannya. Nasinya masih banyak," ucap Arkha seraya menyodorkan minuman ke arah Kanaya. Wanita itu menyambut minuman yang diberikan oleh Arkha, lalu meneguknya hingga tersisa setengah.
"Apa ini kamu yang memasaknya tadi?" Tanya Kanaya tidak percaya jika Arkha bisa membuat makanan selezat ini. Bahkan dirinya yang selama ini bekerja di restoran, belum pernah sekalipun melihat apalagi menyicipi makanan seperti yang di masak Arkha malam ini.
"Iya, lezat banget!" Seru Kanaya seraya memasukkan kembali nasi goreng itu ke dalam mulut. "Ajari aku cara membuatnya lain kali," pinta wanita itu berucap dengan mulut yang penuh.
Arkha tidak langsung menanggapi. Sudut bibir pria itu terangkat, membentuk sebuah senyuman penuh arti. "Tentu saja tidak gratis," balas Arkha menatap penuh arti ke arah Kanaya.
__ADS_1
"Dasar, perhitungan." Gumam Kanaya yang masih bisa terdengar oleh telinga Arkha. Pria itu terlihat tertawa.
"Tentu saja. Apalagi nanti dibayar dengan sebuah pelukan dari wanita cantik ini, misal? Kenapa ditolak?" ucap Arkha seraya mengangkat kedua bahunya. Membuat Kanaya tidak selera melanjutkan makanannya yang tinggal sedikit. Lalu meletakkan sendok dan garpunya di atas piring.
"Kalau begitu teruslah berkhayal, Tuan. Karena aku tidak mungkin melakukan itu. Lebih baik aku mencari tahunya sendiri lewat internet."
Jawaban Kanaya semakin membuatnya tertawa lebih leras lagi. Bagaimana bisa dirinya tertarik dengan wanita yang tengah berdiri di hadapannya ini, sembari membersihkan meja.
Setelah Kanaya selesai membersihkan area dapur yang ia buat berantakan sewaktu memasak, Arkha menarik lembut pergelangan tangan Kanaya agar wanita itu duduk di sampingnya. Kini mereka berada di ruang santai.
"Kenapa lagi sih, Tuan. Aku sungguh capek hari ini. Ingin segeea memanjakan tubuhku di atas tempat tidur." Rengek Kanaya. Memang seharian ini membuat dirinya capek fisik dan juga hati.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan." Kata Arkha dengan tatapan yang serius ke arah Kanaya. Membuat Kanaya menutup rapat mulutnya, agar tidak menyanggah perkataan Arkha yang akan berakibat fatal kepada dirinya.