Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Jangan Paksa Aku


__ADS_3

"Bagaimana ka--" Arkha tidak menyangka jika bualan yang ia karang akan secepat ini terbongkar.


Kanaya tersenyum sinis menatap Arkha yang terlihat terkejut seperti itu. Lalu ia berdiri dari tempatnya, mensejajarkan dirinya dengan Arkha yang berdiri tidak jauh darinya.


"Kenapa? Apa kau kaget karena aku mengetahui kebenarannya?" Ucap Kanaya seraya mengangkat alisnya. Seolah tengah meremehkan Arkha. "Apa kau belum puas bermain dengan hidup orang lain? Apa aku sebelumnya punya salah denganmu sehingga kau tega mempermainkan hidupku seperti ini, hah!" Perkataan Kanaya terdengar begitu sarkas di telinga Arkha.


Pria itu tak bergeming di tempatnya. Tidak tahuharus berkata seperti apa. Menjelaskan sekarang pun juga akan percuma. Karena wanita itu kini sudah berselimut kabut amarah.


Badan Kanaya bergetar menucapkan semua itu. Apa dosa dirinya di masa lalu hingga Tuhan menghukumnya dengan semua permasalahan yang ia hadapi selama ini. Apa dirinya kurang menjadi orang baik selama ini? Jika tahu akan seperti ini hidupnya, maka ia lebih baik memilih menjadi orang jahat saja sekalian. Karena menjadi baik pun juga percuma, takdir selalu memusuhinya.


Melihat itu Arkha merasa sangat bersalah kepada Kanaya. Karena balas dendamnya pada mantan kekasihnya dulu, membuat hidup seseorang hancur seperti ini. Ia tidakenyangka akan sebegitu fatal dampak yang ia perbuat pada Kanaya.

__ADS_1


Arkha melangkah ke depan lalu menarik lembut tubuh Kanaya yang bergetar karena menangis. Namun, dengan sangat kasar wanita itu menolak. Bahkan membentak dirinya dengan sangat keras. Satu sisi yang tidak pernah wanita itu perlihatkan selama ini.


"Jangan sentuh aku!" Bentak Kanaya menatap tajam manik cokelat milik Arkha. "Aku membencimu hingga sampai ke tulang-tulangku!" Lanjutnya lagi.


Ucapan Kanaya bagaikan bilah pisau yang menancap tepat ke ulu hatinya. Karena tindakannya yang bodoh itu membuat wanita yang kini menempati hatinya, berkata seperti itu. Rasa sakitnya melebihi pada saat Shanaz mengkhianati cinta mereka.


"Nay, aku punya alasan melakukan ini semua," lirih Arkha berusaha menarik tangan Kanaya dengan lembut. Namun, lagi-lagi wanita itu menghempaskan tangannya dengan sangat kasar. Seolah tidak sudi ia sentuh.


"Aku tidak membutuhkan semua penjelasanmu. Bagiku semua sama saja. Karena hidupku dengan mudahnya kau permainkan!" Ujar Kanaya yang terlanjur sakit hati dengan Arkha.


"Nay, kamu mau kemana, Nay? Kamu tidak mengenali kawasan di kota ini. Bagaimana jika ada orang jahat yang akan menghadangmu nanti," cegah Arkha dengan nada memohon. Ini di Jakarta, banyak sekali orang jahat yang berkeliaran di kota metropiltan seperti ini.

__ADS_1


Kanaya tidak bergeming. Wanita itu tetap meneruskan langkahnya untuk keluar dari kamar ini dan menghilang dari kehidupan pria brengseek seperti Arkha.


Dengan terpaksa Arkha menarik tangan Kanaya dengan kasar untuk menghentikan langkah wanita keras kepala tersebut. Tentu saja tindakan Arkha mendapat tatapan tajam dari Kanaya.


"Lepaskan!" Teriak Kanaya mencoba melepas tangannya dari genggaman tangan Arkha. Namun, hal itu sia-sia saja. Karena Arkha kini malah memdorong tubuh Kanaya hingga menempel ke dinding.


"Jangan menguji kesabaranku, Nay," desis Arkha dengan nada suara lirih. Kali ini ia tidak bisa bersikap sabar lagi dalam menghadapi wanita ini.


"Kau yang jangan mempermainkan hidupku, Arkha!" Teriak Kanaya begitu memekik di telinga. Wanita ini nampak menyerah dengan hidupnya.


"Aku tulus padamu, Nay. Itulah alasanku kenapa aku tidak bisa melepasmu begitu saja," ucap Arkha dengan bersunggung-sungguh.

__ADS_1


Namun, hal seperti itu tidak mempan pada Kanaya. Wanita itu malah memalingkan wajahnya dari Arkha. Membuat Arkha semakin geram dan gemas dengan sifat Kanaya yang merajuk seperti itu. Padahal nyatanya wanita itu marah sangat terhadap Arkha.


"Nay... jangan paksa aku untuk melakukan hal yang seharusnya aku lakukan dari dulu," desis Arkha seraya menangkup wajah Kanaya dan di arahkan tepat menghadap dirinya.


__ADS_2