
Di sepanjang perjalanan menuju hotel, Kanaya tidak sekalipun membuka suaranya. Wanita itu lebih memilih mematap ke arah luar jendela, yang menampilkan bangunan-bangunan tinggi di ibu kota ini. Tatapan Kanaya nampak kosong, tanpa terlihat sebuah kehidupan di sana.
Arkha menyadari hal itu. Ia dibuat pusing dengan sikap Kanaya hari ini. Wanita itu sering kali berubah mood-nya. Akan tetapi lebih banyak diamnya meski ia sudah berusaha mengajaknya bicara.
Sampai di dalam kamar hotel, Kanaya masih setia dalam puasa bicaranya. Wanita itu berjalan menuju lemari yang berisi pakaiannya lalu berjalan menuju kamar mandi. Hal itu tidak luput dari perhatian Arkha.
"Kenapa wanita itu seribet ini sih, sikapnya? Kalau memang ada yang tidak disuka, tinggal bilang saja. Jangan malah berdiam membisu seperti itu. Bikin semakin pusing saja," gumam Arkha dengan nada suara yang lirih. Tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Kanaya.
__ADS_1
Pada saat ia menunggu Kanaya yang sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi, Arkha duduk bersandar di kepala ranjang sambil melihat tabletnya yang menampilkan garfik perusahaan yang kini ia serahkan tanggung jawabnya kepada Joshep. Meskipun mengambil cuti, Arkha tetap meninjau perkembangan perusahaan yang serahkan kepadanya.
Fokusnya teralihkan disaat mendengar nada dering dari ponsel Kanaya yang tergeletak di sampingnya. Mulanya ia biarkan saja, karena tidak mungkin baginya menjawab panggilan itu. Namun, lama kelamaan suara dari ponsel Kanaya mengganggu fokusnya.
Kemudian Arkha mengambil ponsel itu, lalu berjalan menuju kamar mandi dan berniat untuk memanggil Kanaya. Sebelum itu, ia sempatkan melihat ke layar ponsel yang berada di genggamannya. Mencari tahu siapa yang tengah menelpon Kanaya malam-malam seperti ini.
Detik berikutnya rahang Arkha mengeras, tangannya meremat ponsel itu hingga retak. Amarah di dalam dirinya tidak bisa ia kendalikan. Dan pada saat itu juga, Kanaya keluar dari kamar mandi. Kanaya terperanjat kaget melihat Arkha yang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Lalu menelisik pria itu hingga ia dapati ponselnya yang sudah retak berada di tangan Arkha.
__ADS_1
Wanita itu kemudian berjalan melewati Arkha menuju lemari pakaiannya. Rasa geram di hatinya tidak bisa ia abaikan begitu saja. Pria itu sudah merampas kebebasan hidupnya hanya karena kesalahan yang pernah mereka lakukan. Jika begini hasilnya, lebih baik ia hidup menjadi gelandangan. Toh, akan sama saja. Setidaknya ia masih punya kebebasan untuk hidupnya sendiri. Bukan seperti hewan peliharaan seperti ini.
"Lebih baik aku pergi dari sisimu, daripada harus hidup penuh dengan kekangan," ucap Kanaya sembari memasukkan pakaiannya yang tertata rapi di lemari ke dalam sebuah koper kecil.
Mendengar kalimat yang diucapkan Kanaya membuat Arkha semakin meremas ponsel Kanaya yang ada di genggaman tangannya. Wanita ini sungguh menguji dirinya. Apalagi pada saat melihat Kanaya memasukkan semua pakaian wanita itu ke dalam koper, ia langsung bergegas menghampiri wanita itu.
"Apa yang kamu lakukan?" Sebisa mungkin Arkha menahan amarahnya.
__ADS_1
Kanaya menatap ke arah Arkha, lalu berkata dengan nada ketus. "Aku mau pergi dari sini. Aku nggak mau menjadi hewan peliharaanmu. Tenang saja, aku tidak akan menuntutmu untuk bertanggung jawab. Karena aku akan menggugutkan janin ini," kata Kanaya dengan nada tertahan. Ingin sekali memukul pria ini yang telah berani membohongi dirinya selama ini. "jika memang ada janin di dalam perutku," lanjutnya lagi dengan tertawa tertahan. Seolah menertawakan dirinya sendiri yang terlalu percaya perkataan pria asing yang tidak ia kenal sama sekali. Lagi dan lagi, dirinya kembali dipermainkan oleh takdir.
Tahan dulu, jamgan keburu esmoniš¤£