
Diruangan yang berukuran sepuluh kali delapan meter persegi, ada seorang pemuda yang terlihat frustasi. Pemuda itu melampiaskan rasa gusarnya itu pada setumpuk dokumen yang tertata rapi di depannya.
"Aargghh!" Teriak pemuda tersebut.
Hatinya kian terasa sesak saat mengingat bagaimana Kanaya yang selama ini ia sukai, berada di dalam dekapan pria lain. Pemuda ini sudah cukup sabar untuk menunggu Kanaya putus dengan kekasihnya. Ya, pemuda ini adalah Keanu. Seorang pria yang berkedok sebagai sahabat Kanaya, tapi nyatanya pria ini juga memiliki rasa pada Kanaya. Bahkan, Keanu selalu menanti hari di mana Kanaya akan putus dengan tunangannya, Aldirck.
"Aku yang sudah lama menemani Kay, tapi kenapa dengan mudahnya Arkha masuk ke dalam kehidupan Kanaya. Bahkan Arkha sudah melihat tubuh wanita yang selama ini aku dambakan." Keluh Keanu.
Dokumen-dokumen yang tadinya berjejer rapi di depannya sesuai urutan untuk ia bubuhi tanda tangan, kini dokumen-dokumen itu berserakan di lantai, bersamaan sengan teriakan Keanu.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan kau memgambil Kanaya dariku, Kha! Tidak akan!" Geram Keanu.
Dia tidak peduli lagi dengan persahabatan yang mereka jalin selama ini. Kali ini Keanu tidak akan mengalah lagi, seperti dulu pada saat mereka memperebutkan Shanaz.
Arkha, Shanaz, dan dirinya merupakan teman satu kampus. Mempunyai hobi yang sama, membuat mereka semakin dekat. Namun, pada saat rasa sayang dan ketertarikan tumbuh di antara mereka, hubungan mereka sempat mengalami kerenggangan beberapa bulan. Nampaknya kejadian itu akan terulang kembali. Saling bersaing, memperlihatkan kelebihan mereka masing-masing. Menunjukkan siapa yang paling pantas di antara mereka untuk berhak berada di samping Kanaya. Hingga Arkha lah yang berhasil menarik perhatian Kanaya.
"Nay, jangan buat aku semakin pusing lagi dengan sikapmu ini!" Arkha tidak tau harus bagaimana lagi menghadapi wanita keras kepala ini.
"Tuan, juga jangan memaksaku terus. Kita tidak mempunyai hubungan! Kenapa aku harus tinggal di sini bersama Tuan? Aku juga punya apartemen sendiri." Kanaya menolak dengan sangat tegas ajakan Arkha. Tidak ada lagi raut ketakutan terhadap pria itu.
__ADS_1
"Ini semua aku lakukan demi anakku. Mana bisa aku membiarkan dia kedinginan di luar sana." Sanggah Arkha. Dia masih tetap menggunakan kata 'anak' untuk menjerat Kanaya.
"Hei, Tuan! Kalaupun memang ada bayi di sini," ucap Kanaya sambil mengusap perutnya yang datar. Perut yang memang tidak ada janin yang tumbuh di dalam sana. "Dia tidak akan kedinginan. Yang ada hanya aku yang bisa merasakan semua itu." Jelas Kanaya tidak mau kalah.
Tidak mungkin baginya untuk tinggal bersama dengan seorang pria asing. Mungkin kalau semalam saja, itu namamya kesalahan, dan Kanaya bisa mentolerirnya. Tetapi jika untuk waktu yang ia sendiri tidak tahu, Kanaya tidak akan bertindak bodoh.
Arkha menjambak rambutnya sendiri. Wanita ini selalu bisa membuat darahnya naik. Jika terus seperti ini, maka dia benar-benar akan melakukan itu terhadap Kanaya. Karena memang sekarang di hatinya, ia benar-benar tidak mau melepaskan Kanaya.
"Apa memang aku harus mengulang lagi malam itu? Agar kau ingat apa yang kita lakukan pada malam bersejarah itu, Naya?" Arkha melangkah maju dengan pelan. Tatapan matanya tepat pada netra kehijauan wanita itu. Bibirnya tidak henti-hentinya menampilkan sebuah seringai yang semakin membuat lawannya menciut.
__ADS_1