Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Tamat


__ADS_3

Semua persiapan sudah dipersiapkan oleh Arkha. Ia tidak membiarkan Kanaya membantu nya sedikit saja. Arkha benar-benar memperlakukan Kanaya seperti seorang ratu yang terus dia manjakan di setiap kesempatan.


"Sayang, apa kamu juga akan membawa ini juga?" tanya Arkha seraya mengangkat bingkai foto yang berisi foto pernikahan mereka berdua.


Kanaya yang sedang menikmati camilan buahnya, menoleh ke arah sang suami yang sedari tadi sibuk mengemas barang-barang mereka. Kanaya merasa bahagia diperlakukan seperti ini oleh Arkha. Mungkin pertemuan dan awal hubungan mereka berjalan dengan tidak kesengajaan dan juga cara yang salah. Namun, pada akhirnya dirinya menerima kebahagiaan penuh dari pria yang dengan sengaja menjebak dirinya.


"Tentu saja enggak, Mas. Kita bawa memorinya saja. Kan bisa kita cetak nanti di sana," ujar Kanaya dengan mulut yang penuh oleh buah.


Melihat mulut istrinya yang penuh oleh buah, sehingga membuat pipi sang istri mengembang. Arkha tidak tahan untuk tidak menghampiri sang istri. Kanaya nampak terlihat begitu menggemaskan di mata Arkha. Lantas Arkha meninggalkan kegiatannya dan berjalan menuju sang istri yang tengah duduk di atas tempat tidur mereka.


"Kenapa semakin hari kau terlihat begitu menggemaskan?" bisik Arkha lalu langsung menyerang Kanaya dengan menciumi wajah sang istri. Tidak membiarkan Kanaya lolos dari ciuman bertubinya.


"Sayang... lepaskan aku. Anakmu sedang merasa lapar," pinta Kanaya seraya mendorong tubuh Arkha dan mempertahankan piring berisi buah itu di tangannya agar tidak jatuh ke atas tempat tidur.


Mendengar hal itu, Arkha segera melepaskan diri dari Kanaya. Menatap sang istri yang semakin kurus di usia kehamilannya yang memasuki usia dua bulan.

__ADS_1


"Apa tidak ada yang kau inginkan selain hanya makan buah ini, Sayang?" tanya Arkha yang sebenarnya begitu khawatir pada Kanaya.


Semenjak hamil istrinya ini tidak mau makan nasi atau apapun yang mengandung karbohidrat. Kanaya hanya bisa memakan buah-buahan saja. Dia akan memuntahkan semua makanan yang masuk ke dalam perut nya selain buah. Hal ini membuat Arkha khawatir, namun juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ini merupakan efek kehamilan Kanaya pada trimester pertama.


"Kamu sudah tahu jawabannya, Sayang," lirih Kanaya yang juga pasrah. dengan keadaan dirinya sekarang ini.


Kemudian Arkha menarik lembut tubuh sang istri dan membawanya ke dalam dekapannya. Sebelum itu Arkha memindahkan buah yang ada di pangkuan Kanaya ke nakas dekat tempat tidur mereka.


"Aku mencintaimu, Sayang. Aku akan terus membahagiakanmu dan juga anak kita, kelak," ujar Arkha di sela pelukannya. Ia tidak tega melihat Kanaya menderita seperti ini demi mengandung buah cinta mereka. Apa lagi diusia Kanaya yang masih terbilang sangat muda sekali. Namun, Arkha tidak menyesal telah bertemu dengan Kanaya dan banyak kejadian diluar akal sehatnya yang terjadi diantara mereka berdua.


"Kami akan sering berkunjung ke sini, Kek," Kanaya berusaha untuk menenangkan kakenya yang masih saja menangis.


"Kami akan kesini jika Kanaya sudah melahirkan," imbuh Arkha.Lalu menatap ke arah Revald. "Jaga Kakek dengan baik, Bro. Jangan biarkan dia emosi terlalu tinggi dan juga jaga pola makannya yang sudah sekali diingatkan," pesan Arkha kepada Revald.


"Kamu tenang saja. Dia juga Kakekku sekarang," balas Revald seraya memeluk sahabatnya tersebut. Seolah mereka tidak akan pernah bertemu kembali.

__ADS_1


Sementara itu Kanaya mendekat ke arah bibinya yang juga sedang menangis. Berat rasanya meninggalkan negaranya. Namun Kanaya juga tidak boleh egois yang hanya mementingkan dirinya saja. Apa lagi teringat perjuangan Bibinya yang selalu membujuk dirinya untuk segera pulang ke rumah. Namun Kanaya menolaknya dengan sangat tegas.


"Jaga diri kamu baik-baik di sana, Sayang. Kalau ada apa-apa segera hubungi Bibi atau Paman. Kami siap datang jika kamu merindukan kami," dengan susah payah Lilliana menyelesaikan kalimatnya disela isak tangisnya.


Mereka berdua menangis di dalam pelukan Gladio. Dari sini Kanaya tahu, sebesar apa keburukan yang mereka lakukan di masa lalu, sebesar apa kebohongan yang mereka ucapkan di masa lalu. Keluarga tetaplah keluarga. Yang selalu akan menyambut kedatanganmu dengan tangan yang lebar. Mereka akan memaafkan kesalahan serta keegoisan yang pernah kamu buat sebelumnya. Karena bagi mereka, keluarga itu di atas segala-galanya.


"Kami pamit," ucap mereka berdua secara bersamaan serta melambaikan tangan mereka ke arah keluarganya.


Pesanku untuk kalian. Bagi yang mempunyai keluarga masih lengkap, sayangilah mereka. Jangan menunda untuk berkata atau bertindak nanti. Sebelum kalian merasakan kehilangan yang teramat besar dalam hidup kalian. Karena keluarga itu tempat kita pulang. Karena keluarga tempat kita bahagia. Karena keluarga penyembuh luka yang paling ampuh. Karena keluarga di atas segala-galanya daripada sahabat. Karena keluarga adalah orang yang akan membelamu di saat kamu salah. Karena keluarga orang pertama yang akan merasakan sakit, di saat kamu tersakiti. Terimakasih.


Tamat.


Salam Sayang


~Lee Yuta~

__ADS_1


__ADS_2