
Setelah berhasil membawa Kanaya kembali, Arkha memutuskan untuk mengajak Kanaya tinggal di rumah orang tua kandungnya yang berada di perumahan sederhana di kota ini. Jauh lebih kecil memang, dari rumahnya sendiri. Namun, ia sudah berjanji bahwa tidak akan mengajak Kanaya untuk tinggal satu atap lagi dengannya.
Arkha tidak mau lagi memaksakan kehendakknya terhadap wanita itu. Ia ingin semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Senatural mungkin, meski ia tetap tidak akan membiarkan wanita itu didekati oleh pria lain.
Mobil yang mereka tumpangi, akhirnya sampai juga di halaman rumah orang tua Arkha. Rumah berwarna biru muda dan bergaya minimalis itu nampak bersih dan nyaman. Kanaya langsung suka saat pertama kali melihatnya.
"Ayo, kita masuk ke dalam. Mumpung orang tuaku belum pulang ke Surabaya," ajak Arkha kemudian mengulurkan tangannya ke arah Kanaya.
Mendengar orang tua Arkha yang belum pulang, membuat Kanaya sedikit kaget. Lantas, mau ditaruh di mana mukanya nantj jika harus bertemu dengan kedua orang tua pria itu. Sungguh, ia belum siap untuk hal ini. Ia juga tidak tahu harus bersikap seperti apa nantinya di depan mereka.
"Serius kamu nyuruh aku tinggal dengan mereka?" tanya Kanaya dengan nada ragu.
Arkha terkekeh melihat wajah Kanaya yang seperti itu. Antara ragu dan takut melebur menjadi satu. Sangat menggemaskan, menurutnya. Karena tidak tahan, ia tarik ujung hidung wanita bule tersebut.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, Sayang. Aku tahu kamu pasti bakalan tidak nyaman dan belum terbiasa," ucap Arkha setelah menarik ujung hidung Kanaya hingga berubah memerah. Karena merasa bersalah, ia kecup sekilas hidung itu. "Mereka akan pulang nanti sore. Karena mereka juga mempunyai usaha yang tidak bisa mereka tinggal terlalu lama, Sayangku," jelas Arkha sembari memanggil Kanaya dengan sebutan sayang. Tentu saja membuat pipi wanita itu merona.
Wanita mana yang tidak akan tersipu, jika di panggil dengan sebutan seperti itu dengan nada suara yang lembut. Serta jangan lupakan tatapan mata pria itu yang mampu menarik lawannya untuk jatuh ke dalam kuasanya.
"Kenapa malu seperti itu, Sayangku?" melihat Kanaya yang merona serta memalingkan wajah darinya, membuat Arkha semakin antusias untuk menggoda wanita yang sekarang resmi menjadi kekasihnya.
"Apa-an sih!" kesal Kanaya pada Arkha.
'Udah, kita sapa dulu mereka. Aku kenalkan secara resmi, kalau kamu adalah wanita pilihanku yang akan menjadi ibu untuk anak-anakku nanti," tak henti-hentinya Arkha melayangkan rayuan kepada Kanaya kembali.
Semenjak Kanaya menerima dirinya, meski wanita itu belum sepenuhnya mencintai dirinya. Hal itu sudah berhasil membuat Arkha senang tak terkira. Ia akan melepaskan apapun, asal bisa bersanding dengan wanita bule tersebut. Termasuk jabatannya yang sudah tinggi di perusahaan yang berada di kota LA. Karena Arkha di sini akan menjadi seorang bawahan Erlangga ataupun Darren sendiri. Bukan lagi direktur yang mempimpin sebuah perusahan.
Arkha mengajak Kanaya langsung masuk ke dalam rumah orang tuanya, lalu memberi salam kepada mereka.
__ADS_1
"Apakabar, Ma, Pa?" Sapa Arkha kepada orang tuanya seraya mengecup singkat punggung tangan mereka secara bergantian.
"Kabar baik, Sayang," balas mama Dina, mamanya Arkha.
Melihat hal itu, lantas Kanaya melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Arkha. Meskipun kikuk, karena di negaranya tidak ada adat yang seperti ini. Palingan mereka saling peluk untuk tanda sapa.
"Masya Allah, Pa...!" Seru Dina para saat melihat Kanaya yang tengah mengecup tangannya. "Memperbaiki keturunan banget, kalo yang ini, Pa!" Lanjut mama Dina. Tak hentinya memuji kecantikan yang dimiliki oleh Kanaya. Kemudian Dina memeluk wanita bule itu penuh erat. "Moga-moga saja cucu kita lahir dari rahim gadis bule ini, Pa." Doanya kemudian, tetap tidak melepaskan pelukannya pada Kanaya.
Sedangkan Kanaya tidak berani sedikit pun untuk bergerak. Melalui matanya, ia meminta pertolongan pada Arkha. Namun, pria itu sepertinya tengah pura-pura tidak melihatnya.
"Dia tidak akan mengerti yang Mama bicarakan, kan Pa? Walaupun mengerti juga, Mama tetap mau cucu dari gadis ini, Pa." Dina tidak berhenti begitu saja. Sampai suaminya menggeleng kepala melihat sikap istrinya yang berlebihan seperti itu.
"Tenang saja, Ma. Cucu Mama dalam proses pembuahan," seloroh Arkha kemudian segera menjauh dari mamanya, sebelum dihadiahi sebuah cubitan panas khas dari sang mama.
__ADS_1