
Suasana hati Arkha semakin memburuk setelah kedatangan Shanaz di kantornya. Di tambah lagi model yang dia incar susah sekali untuk dihubungi. Jika tidak segera dilaksanakan, takutnya keburu dengan waktu peluncuran produk mereka. Karena memang ada perubahan rencana, otomatis semua tim harus bekerja lebih ekstra lagi. Hingga tak ayal mengharuskan mereka lembur.
Arkha pulang sedikit larut, hingga tidak sempat menghubungi Kanaya. Maka setelah dirinya membersihkan diri, meski matanya terasa berat Arkha menyempatkan untuk menghubungi kekasih bulenya itu. Setidaknya rasa capek dan kesalnya akan menghilang begitu saja setelah melihat wajah cantik kekasihnya.
Mencari posisi yang nyaman, berbaring di tempat tidur sambil kepalanya bertumpu pada sebelah tangan, Arkha memulai panggilan video-nya kepada Kanaya. Sedikit lebib lama wanita itu tidak menjawab panggilan darinya. Hingga mengharuskan dirinya untuk melakukan panggilan kedua. Dan pada panggilan kedua itulah, barulah Kanaya menjawab panggilan darinya.
"Iya, ada apa? Kamu nggak ngantuk? Jam segini telepon?" Kanaya mencecar berbagai pertanyaan pada saat menjawab panggilan dari Arkha. Nampak wanita itu saat ini sedang berada di dapur. Membuat Arkha menyipitkan matanya, guna memperjelas pandangannya.
"Kamu ngapain jam segini di dapur, Sayang? Apa ada tamu yang datang sore ini?" Tanya Arkha begitu penasaran dengan kegiatan Kanaya yang di dapur.
__ADS_1
"Enggak ada. Hanya saja semnejak kamu nggak di sini, aku menghabiskan waktu dengan mencoba berbagai macam resep kue. Agar aku nantinya bisa membantu Mama," ungkap Kanaya sambil menaruh ponselnya di meja. Sedang dirinya melepas kain apron yang ia kenakan guna melindungi pakaiannya dari cipratan adonan kuenya.
"Sayang, kamu sedang ngapain lagi sih? Mana gambar kamu? Aku kan masih kangen," rengek Arkha karena tidak bisa melihat gambar Kanaya. Yang terlihat hanya langit-langit dapur saja. Tidak tahu saja wanita itu jika dirinya sangat merindukannya.
"Iya, iya. Aku sedang melepas kain apron yang aku pakai tadi, Sayang," jawab Kanaya. Kemudian mengambil ponselnya setelah mencuci tangannya. Lalu berjalan menuju sofa yang terletak di depan tv. Menyempurnakan duduknya, di rasa sudah nyaman Kanaya kembali mengarahkan layar ponselnya untuk menghadap tepat pada dirinya. "Kamu kok belum tidur, Sayang? Bukannya di sana sudah jam dua belas malam? Kamu nggak capek memangnya? Katanya ada masalah di kantor? Sudah beres?" Kanaya mencecar bermacam-macam pertanyaan kepada kekasihnya.
Entah kenapa, jauh dari pria itu membuat dirinya rindu akan berisiknya Arkha pada saat mengganggu dirinya.
"Enggak!" Kesal Kanaya Karena pertanyaannya tidak dijawab oleh kekasih jahilnya itu.
__ADS_1
Inilah salah satu yang membuat Arkha rindu dengan Kanaya. Wajah kesal wanita itu terlihat begitu cantik di matanya. Apalagi pada saat bibir wanita itu cemberut, ingin rasanya ia sesap kuat-kuat. Tanpa sadar, Arkha menggigit bibirnya sendiri.
"Haha iya, iya ... akan aku jawab," ucap Arkha tertawa geli melihat ekspresi wajah Kanaya. "Aku baru pulang, karena lembur. Masalah yang sedang dialami perusahaan memang cukup rumit. Namun, kami bisa mengatasi semua itu dengan rencana yang kami susun sebelumnya. Meski model itu belum menjawab ajakan dari perusahaan, tapj Joshep akan terus menghubungi manajer model tersebut. Apa sekarang sudah puas, Mrs Maerran?" Jelas Arkha panjang lebar.
"Kalau boleh tau, siapa model itu?" Tanya Kanaya begitu penasaran. Kini wanita itu membaringkan tubuhnya di sofa dengan bantalan tangannya sendiri. Sementara tangan yang satunya memegang ponsel yang dihadapkan ke arahnya.
"Dia pemenang top sepuluh model pada saat di Arsantanio model," jawab Arkha menatap lekat wajah kelasihnya itu dari layar ponselnya. Ingin sekali ia bertolak ke tanah air dan memeluk wanita yang mampu membuat lelahnya hilang seketika hanya dengan menatap wajah cantiknya.
"Laki-laki atau perempuan? Siapa namanya?" Entah kenaoa sikap Kanaya malam ini terlihat begitu menggemaskan di mata Arkha. Karena sedari tadi wanita itu selalu penasaran tentang kegiatan yang sedang Arkha lakukan akhir-akhir ini.
__ADS_1
Menghembuskan napasnya kasar, karena rasa penasaran sang kekasih. Akhirnya Arkha menjawab pertanyaan dari Kanaya, guna menghilangkan rasa penasaran wanita itu.
"Perempuan, Sayang. Dia seumuran denganmu," jawab Arkha membuat Kanaya semakin penasaran karena tidak langsung memberitahukan nama model itu.