Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Lantas Untuk Apa?


__ADS_3

Dinginnya pagi ini, merasuk sampai ke tulang Kanaya. Apalagi wanita itu tidak mengenakan apapun pada tubuhnya, hanya tertutup oleh selimut. Badannya terasa sedikit lelah, juga di bagian bawahnya terasa sedikit nyeri.


Mengesampingkan rasa semua itu, Kanaya membuka matanya dengan sempurna. Menatap ke samping, ada seorang pria yang tengah tertidur dengan sangat nyenyaknya. Ia tatap dengan lekat wajah pria itu. Tangannya terangkat ingin mengusap wajah pria itu, namun ia urungkan. Menarik napasnya sangat dalam, lalu ia hembuskan dengan lembut. Mencoba untuk mengatur perasaannya kembali.


Kanaya menggeleng cepat saat ingatan tadi malam dengan Arkha terlintas di kepalanya. Ia tidak akan menyesali perbuatannya, karena Kanaya pikir itu semua bayaran yang setimpal untuk ia berikan kepada Arkha.


Setelah puas menatap wajah Arkha yang baru ia sadari kalau pria itu sangat tampan, Kanaya beringsut turun dari ranjang untuk kemudian memunguti bajunya yang berserakan di lantai. Ia pakai satu per satu hingga tubuhnya tertutup sempurna oleh pakaian yang sedang ia kenakan.


Meraih tas yang semalam terlempar ke samping ranjang, lalu menarik koper yang terletak di dekat pintu. Kanaya menatap ke arah belakang, dimana pria itu masih terlelap dalam tidurnya.


Bibirnya mengulas senyum saat mengingat masa-masa dirinya menghabiskan waktu bersama pria itu. Bahkan rayuan pria itu yang setiap hari ia dengar.

__ADS_1


"Aku berharap, semoga kau menemukan orang yang baik. Dan semoga kita tidak pernah dipertemukan lagi, kecuali jika memang kita berjodoh." Lirih Kanaya lalu pergi dari kamar itu dengan langkah terseok-seok.


Bermodalkan uang yang ada di dalam dompetnya, Kanaya nekat pergi meninggalkan Arkha. Bahkan kalau perlu akan pergi dari kehidupan pria itu selamanya.


Suara alarm terdengar begitu nyaring di telinga Arkha. Rupanya wanita itu setiap pagi memasang alarm di ponsel yang terletak di atas nakas. Ia raih ponsel itu, sedikit mambuka matanya dengan malas lalu mematikan alarm itu setelah ia tahu masih pagi. Bibirnya mengulas senyum pada saat melihat keadaannya sekarang.


Dengan susah payah selama ini ia menahan agar tidak menyentuh Kanaya, akan tetapi wanita itu malah dengan terang-terangan mengajak dirinya terlebih dulu. Dan bodohnya ia menuruti semua itu. Arkha berjanji dalam hatinya, benar-benar akan bertanggung jawab kepada Kanaya yang telah ia renggut kesuciannya.


Tidak berselang lama Arkha keluar dan menuju arah dapur. Pikirnya wanita itu berada di sana dan sedang menunggu dirinya. Namun, nyatanya dapur itu masih terlihat gelap. Tidak ada tanda-tanda ada orang di ruangan itu.


Pikiran Arkha tiba-tiba panik. Takut-takut apa yang semalam sempat tertunda akan terjadi. Tanpa membuang waktu, ia membalikkan badan untuk kemudian kembali masuk ke dalam kamar yang ia tempati bersama Kanaya selama berada di Indonesia.

__ADS_1


Arkha menilisik kembali kamar itu. Memang ada yang hilang dari ingatannya terakhir kali dari kamar itu. Dengan langkah gusar Arkha melangkah menuju lemari yang dibuat menyimpan baju mereka.


Matanya membola seketika saat mendapati baju Kanaya habis tak tersisa di dalam lemari tersebut. Pilirannya berkecamuk saat tidak menemukan koper yang sempat dikeluarkan Kanaya semalam.


"Apa kau benar-benar pergi dariku, Nay?" Gumam Arkha dengan wajah penuh sesal. "Lantas yang semalam itu untuk apa? Apakah itu untuk salam perpisahan kita? Aarrgghh!!" Arkha sambil menjambak rambutnya sendiri.


Jika ia tahu kalau akan seperti ini pada akhirnya, ia tidak akan tergoda dengan Kanaya semalam. Ia akan berusaha menahan hasraatnya, yang terpenting wanita itu tidak pergi seperti sekarang ini.


"Aku bisa gila tanpamu, Nay," lirih Arkha terduduk di depan lemari. Menatap kosong ke arah lemari yang mwnjadi tempan menyimpan baju wanita itu. "Kanayaaaa!!" Teriaknya terdengar sangat pilu. Memukul lemari itu tiada henti untuk menyalurkan rasa penyesalannya.


Aku mohon, kalo baca itu jangan setengah². jangan keburu menghujat di tengah jalan, karena aku pasti ngasih penjelasan di part setelahnya. jika tidak suka, lebih baik jangan dibaca. Makasih untuk yang sudah hujat. aku memang bukan penulis, aku hanya menyalurkan imajinasi sesuai anganku.

__ADS_1


__ADS_2