
Mendengar Arkha yang bercerita kepada istrinya kemarin, membuat Erlangga tidak tahan untuk tidak menasehati adik iparmya tersebut. Maka, di sinilah mereka berada. Erlangga mengajak istrinya untuk melihat sendiri, apakah Arkha masih tetap nekat untuk tinggal satu kamar dengan wanita itu.
Menurut Erlangga, apa yang dilakukan Arkha memang salah. Jika memang benar-bemar menyukai wanita itu, seharusnya dia bisa menjaga wanita Kanaya. Karena begitulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria gentleman.
"Mas, apa kita tidak terlalu pagi untuk mengunjungi mereka seperti ini?" tanya Yutasha. Sesekali wanita cantik itu menutup mulutnya karena menguap.
"Enggak, Sayang. Ini sudah jam enam pagi. Tidak mungkin mereka belum bangun. Terkecuali jika semalam mer--" ucaoan Erlangga terpotong dikala sang istri memukul lengannya sembari melayangkan protes.
"Mas! Kalau ngomong itu dijaga," kesal Yutasha tidak terima jika adiknya dibilang yang tidak-tidak.
Sementara Erlangga tertawa melihat istrinya kesal dengannya di pagi seperti ini. Memang, kehamilan Yutasha yang kedua ini membutanya sedikit lebih pusing dari pada pas waktu hamil Gressya. Jika hamil Gressya dulu Yutasha selalu meminta dirinya berpakaian yang aneh-aneh. Kalau sekarang istrinya ini lebih suka mengajak diriya untuk traveliing, dan permintaannya itu selalu saja mendadak. Jika tidak dituruti pun dirinya yang akan repot. Karena pasti Yutasha menyuruhnya untuk tidur di kamar lain selama satu minggu. Hal inilah terkadang mengharuskan papanya, Darren Elajar. Menggantikan dirinya memimpin perusahaan di saat permintaan Yutasha terucap.
__ADS_1
"Ya, kan bisa saja, Sayang. Apalagi mereka tinggal di negara yang bebas, dan kemarin aku dengar mereka juga tinggal satu atap, kan?" tanya Eelangga. Karena tidak sengaja dirinya kemarin mendengar pembicaraan istrinya dan adik iparnya tersebut.
"Mas denger?" Yutasha terperanjak kaget.
"Iya, dan gadis bule itu juga mendengarnya lalu meminta aku untuk jadi penerjemahnya. Dia datang setelahku," Jelas Erlangga dengan santai.
"Lalu Mas jelasin?" Yutasha tidak percaya jika suaminya itu akan menjelaskan semuanya pada Kanaya.
Erlangga hanya tidak mau sampai adik iparnya mengambil langkah yang salah. Takutnya jika gadis bule itu mengetahui setelah mereka sah, malah akan meminta cerai. Erlangga sangat mengantisipasi hal ini. Maka di sinilah dirinya sekarang. Ingin membantu menyelesaikan semua yang diawali Arkha dengan cara yang salah.
Langkah mereka semakin cepat pada saat Yutasha tidak bisa menghubungi adiknya. Ada rasa khawatir, biasanya adiknya itu selalu mengangkat panggilannya kapan pun jika dirinya menghubungi Arkha.
__ADS_1
"Nggak di jawab Mas," ucap Yutasha pada Erlangga.
"Tumben, Sayang. Biasanya, kan dia nggak pernah sekali pun mengabaikan panggilan darimu," Erlangga juga ikut heran.
Tidak jauh lagi mereka sampai ke kamar yang ditempati Arkha. Mengetuknya berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Hingga Erlangga meminta kunci cadangan kepada pegawai hotel yang tengah melewati lorong tersebut. Kebetulan juga pegawai hotel itu membawa beberapa kunci cadangan kamar di lorong ini.
Setelah pintunya terbuka, betap terkejutnya mereka dengan keadaan Arkha saat ini. Pria itu nampak kacau sekali dan tengah bersimpuh di depan lemari. Mata Yutasha semakin membola, tidak percaya dengan suatu fakta yang ia tangkap.
Sedangkan Erlangga membantu Arkha untuk bangun dari tempatnya. "Bangun. Jangan jadi pria yang lemah. Inilah konsekuensi dari perbuatanmu sendiri yang memakai cara salah." ucap Erlangga seolah tahu apa yang tengah terjadi pada adik iparnya.
Plak!
__ADS_1
Erlangga terkesiap kaget pada saat istrinya tiba-tiba saja langsung menampar adiknya sendiri.