Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Sebuah Kesepakatan


__ADS_3

"Jangan bilang kalian benar-benar melakukan hal itu?" Tanya Gladio menahan geramnya. Tangannya mengepal erat, ingin ia layangkan ke wajah pria muda yang kini tersenyum ke arahnya.


"Maaf, Tuan. Mau menyangkal pun juga percuma, jika Tuan pasti sudah mengetahui jawabannya." Sahut Arkha dengan nada tenang.


Joshep menghembuskan napas panjang. Jika bosnya sudah seperti ini, lawan sekuat apapun pasti tidak akan bisa berkutik. Karena memang membalikkan keadaan dan menjadi penyerang, merupakan salah satu keahlian yang dimiliki oleh Arkha. Darren, sang komisaris Elajar Corp. Pun juga mengakui kelebihan Arkha yang satu ini.


Sedangkan Mario, bodyguard yang selalu mengawal kemana pun Gladio pergi terlihat menahan tawanya. Hingga ia berpura-pura mengusap hidungnya yang tak gatal, guna menutupi kalau dirinya sedang tertawa. Baru kali ini dirinya melihat tuan besarnya itu kalah telak dengan seorang bocah. Hingga mampu membuat mimik wajah tuan besarnya yang terkenal tak tersentuh apapun itu berubah mengeras. Padahal sejauh yang ia tahu, Gladio selalu bersikap tenang jika sudah berada di hadapan lawannya. Sangat berbeda dengan saat ini.


"Kau... benar-benar bajingaan cilik!" Sarkas Gladio sembari menggebrak meja. Matanya menatap tajam ke arah Arkha. Seolah ingin mengkoyak tubuh pria yang sudah berani merusak masa depan cucunya.


"Terimakasih, atas pujian Tuan Gladio," sahut Arkha yang lagi-lagi memancing amarah Gladio.

__ADS_1


Melihat tuan besarnya seperti itu, lantas Mario segera mendekat menenangkannya. "Tuan, ingat tensi Tuan. Jangan terpancing seperti ini. Nanti akan berdampak pada kesehatan Tuan," ingat Mario dengan sangat hati-hati. Takut-takut jika tuan besarnya itu merasa terainggung.


Gladio mengatur napasnya kembali. Benar apa yang dikatakan oleh Mario. Bisa-bisa tekanan darahnya akan naik dengan pesat. Dan hal itu tidak menutup kemungkinan dirinya kan terkena serangan setrok.


"Baiklah, kali ini aku akan menuruti permintaanmu tapi setelah kau berhasil membuat hubunganku dengan Nara bisa membaik. Lagi pula, aku juga tidak ingin terpisah dari cicitku," ucap Gladio pada akhirnya mengakui kekalahannya terhadap Arkha.


Mendengar hal itu, bibir Arkha terangkat ke atas mengulas sebuah senyuman. Langkah selanjutnya yang harus ia ambil adalah segera menyingkirkan lawannya. Karena jika dirinya dan Kanaya menikah, dampak paling besar yang akan terjadi pada perusahaan ini bukanlah suatu masalah lagi baginya. Ia akan menyerahkan jabatannya kepada Darren dan akan mulai menjalankan bisnisnya sendiri setelah menikah dengan Kanaya.


"Kau benar-benar bajingaan kecil yang licik," cibir Gladio menatap sinis ke arah Arkha. "Dan siialnya kau akan menjadi cucu menantuku," lanjutnya lagi. Dan Arkha hanya tersenyum tipis mendapat julukan yang baru lagi dari kakek kekasihnya tersebut.


Sebenarnya Gladio cukup tercengang dengan ketangkasan serta cara pria ini berpikir cepat tentang tindakan selanjutnya yang akan dia ambil pada saat dalam keadaan terdesak seperti tadi. Benar-benar seperti Arshen, putra bungsunya yang telah lama meninggal. Tidak lain dan tidak bukan adalah ayah Kanaya.

__ADS_1


"Baiklah, aku rasa pertemuan ini sampai di sini. Aku tidak ingin membuang waktu berhargamu itu dengan selingkuhanmu," ucap Gladio seraya beranjak dari duduknya.


"Kek, Kakek tahu sendiri jika ini hanya sandiwara belaka. Mana mungkin aku berpaling dari cucu Kakek yang cantik itu," sahut Arkha dengan menyebut Gladio sebagai kakek.


"Kakek? Cih! Kau belum resmi menjadi cucuku," tolak Gladio.


"Tapi tidak akan lama lagi anda akan menjadi Kakek saya juga," balas Arkha dengan senyum kemenangan pada saat melihat wajah kesal Gladio. "Oh, ya Kek. Tolong rahasiakan rencana pernikahan kami. Karena saya tidak mau menempatkan Naya dalam bahaya," pinta Arkha. Tentu saja Gladio tahu tentang itu.


"Percayakan saja pada pria tua ini. Kau segera selesaikan masalahmu itu, dan apa yang telah kau janjikan kepadaku." Setelah mengucapkan kalimat itu, Gladio membalikkan tubuhnya berniat keluar dari ruangan Arkha. Namun, sebelum sempat mencapai pintu, terdengar suara Arkha kembali.


"Hati-hati di jalan, Kakek." ucap Arkha sedikit teriak. Gladio menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Lalu segera keluar dari ruangan Arkha yang diikuti oleh Mario di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2