Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Tetap Saja


__ADS_3

Arkha mencoba berbagai cara untuk meyakinkan wanita yang kini duduk di hadapannya. Setelah bertemu di taman tadi, karena tidak enak menjadi bahan perhatian orang di sekitar taman, Kanaya mengajak Arkha untuk pindah ke cafe yang terletak tidak jauh dari taman.


"Apa ini juga ulahmu, yang tiba-tiba jadwal keberangkatan ditunda secara mendadak?" tanya Kanaya dengan tatapan penuh intimidasi pada pria yang kini duduk di depannya, seraya tidak pernah melepas tangannya dari tadi.


Arkha mengulas senyumnya, sebelum menjawab pertanyaan yang Kanaya lontarkan kepadanya. Serta tatapan wanita itu twrlihat begitu menggemaskan menurutnya.


"Bukan sepenuhnya ulahku. Tetapi ikut campur kuasa Papa angkatku," balas Arkha. Nyataya sama saja. Karena dirinyalah yang memohon pada papa angkatnya.


"Ck! Sama saja." Ketus Kanaya.


Setelah ia pikir, percuma saja dirinya pulang ke negara asalnya. Karena semua akan tetap sama saja. Dirinya akan sendirian, bahkan saat ini tidak ada orang yang menyemangatinya lagi seperti dulu, kekasihnya.


Kanaya akhirnya mencoba menerima perasaan Arkha, namun dengan satu catatan. Jika dirinya masih tidak bisa membuka hatinya kepada pria itu, maka pria itu harus melepas dirinya. Tidak ada lagi paksaan atau ancaman apapun.


Arkha pun juga menyetujuinya. Dia yakin kali ini akan membuat Kanaya jatuh cinta kepadanya dengan cara yang benar.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana kalau kita mulai lembaran baru dengan hidup di negaraku?" tawar Arkha begitu serius. Menatap lekat mata wanita pujaan hatinya tersebut.


Kanaya terkesiap mendengar itu semua. Tidak pernah terlintas dipikirannya jika ia akan menetap di sini. Lantas, dimana ia tinggal? Haruskah tinggal satu atap lagi dengan pria ini?


"Kamu gila, ya! Bagaimana bisa aku hidup di sini? Haruskah aku menjadi pengemis untuk biaya makanku?" Kanaya menggeleng cepat. "Meski aku sudah menerimamu, bukan berarti aku menuruti semua ucapanmu," tandas Kanaya kemudian.


"Kamu kekasihku sekarang. Maka aku yang akan membiayai semua kebutuhanmu," tekan Arkha. Bukan perkara yang sulit untuk membiayai Kanaya. Karena selama ini ia juga mempunyai tabungan sendiri.


"Jangan bilang kalau kita tinggal bersama?" Tebak Kanaya dengan tatapan memicing ke arah Arkha. Membuat pria itu tergelak.


"Tentu saja tidak!" Jawab Kanaya cepat. Membuat Arkha semakin terkekeh.


Kanaya menarik tangannya dengan cepat dari genggaman Arkha, kesal dengan pria yang kini sedang menertawakan dirinya.


"Aku tidak mau hidup jauh darimu, karena aku tidak bisa mengawasimu langsung," ungkap Arkha dengan wajah yang sendu. "Aku dipindah tugaskan ke Surabaya. Salah satu kota yang ada di Jawa Timur," jelas Arkha kemudian.

__ADS_1


Kanaya nampak bingung, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Arkha. Lantas wanita itu meminta penjelasan yang lebih perinci lagi.


"Maksudnya? Aku nggak ngerti yang kamu maksud. Bukannya selama ini kamu selalu bisa menemukan keberadaanku? Lalu kenapa sekarang bilang hidup jauh dariku?" Tanya Kanaya bingung.


"Intinya aku nggak akan balik lagi ke LA. Karena aku dipindahkan ke negara ini dan menetap di sini. Kamu juga harus tetap tinggal di sini, meskipun kita tidak bisa satu atap lagi. Kecuali jika kamu...," Arkha sengaja menggantung kata-katanya saat melihat wajah Kanaya yang serius mendengarkan penjelasan darinya.


"Jika apa?" Kanaya nampak tidak sabaran.


Arkha berdiri dari duduknya, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, lebih dekat lagi dengan wanita yang kini memundurkan tubuhnya. Takut-takut jika pria itu melakukan seperti yang sudah-sudah.


"Jika kamu aku nikahin," bisik Arkha diiringi tertawa tertahan. Karena berhasil menggoda wanita itu. Buktinya, wanita itu langsung memukul lengannya, menyalurkan rasa kesal wanita itu.


Sudah diperlakukan seperti itu berkali-kali oleh Arkha, namun tetap saja dirinya masih tertipu.


Maaf, baru sempat post. Soalnya seharian ini riweh nyiapin novel baru🤭. Nanti kalian bakalan dukung juga, kan? (ngarep banget inih) 😅

__ADS_1


__ADS_2