Gadis Jebakan

Gadis Jebakan
Ancaman


__ADS_3

Sepanjang pagi ini, wajah Kanaya berubah cemberut terus. Wanita itu rupanya sedang kesal dengan pria yang tengah duduk di sampingnya sambil menikmati pasta buatan dirinya. Sementara wajah pria itu terlihat sangat bahagia. Berbeda sekali dengan dirinya.


"Kamu kenapa sih, Sayang?" tanya Arkha di sela makan sarapan paginya.


Sedangkan Kanaya tidak menghiraukan pertanyaan dari kekasihnya tersebut. Ia lebih memilih diam dan menikmati makanan yang ada di hadapannya.


"Sayang, senyum dong. Masa iya aku mau berangkat kerja disuguhi oleh wajah cemberutmu seperti ini?" protes Arkha yang merasa tidak bersalah sama sekali.


"Hmm," senyum Kanaya kemudian. Namun tidak mengucapkan sepatah kata pun. Membuat Arkha bingung dengan sikap kekasihnya yang tiba-tiba saja berubah.


Bagaimana tidak kesal, jika dirinya juga diseret untuk mandi bersama di pagi yang sangat dingin ini meskipun mereka tidak benar-benar dalam keadaan polos di waktu yang bersamaan. Arkha dengan sengaja membasahi tubuh Kanaya terlebih dulu, sehingga mau tak mau Kanaya juga mandi dan mereka melalukannya di tempat yang terpisah.

__ADS_1


"Apa karena kamu mandi sepagi ini?" Tebak Arkha kemudian. "Hmm?" Arkha memajukan tubuhnya guna agar melihat lebih jelas lagi wajah kekasihnya yang cemberut tersebut.


"Kamu sih, Kak! Sudah tau aku nggak suka dingin malah diguyur sama air dingin," protes Kanaya dengan nada manja kepada Arkha. Padahal di dalam juga tersedia air hangat. Namun dengan jahilnya kekasihnya itu mengguyurnya dengan air dingin. Melihat itu, membuat Arkha beranjak dari duduknya.


"Ya udah, kalau begitu aku hangatin," ucapnya sembari memeluk tubuh Kanaya dari belakang.


"Udah, nggak usah modus lagi. Sana buruan habisin sarapannya dan segeralah berangkat kerja," ucap Kanaya dengan nada yang masih kesal.


Arkha beralih berdiri di samping wanita ini, lalu berjongkok di samping Kanaya. "Kamu ngusir aku, Sayang? Enggak kangen sama aku?" Arkha berucap sembari memasang wajah memohon serta mengedip-ngedipkan matanya. Mau tidak mau Kanaya tertawa dibuatnya.


"Betapa malang nasibku, punya kekasih yang galak banget," gumam Arkha lirih dengan posisi yang masih sama.

__ADS_1


Mendengar itu, membuat Kanaya menjadi geram. "Apa Kakak bilang? Galak? Aku?" tanya Kanaya dengan mata yang melotot tak percaya. "Ya udah, sana pergi! Nggak usah ke sini lagi." Kanaya beranjak dari duduknya. Ia merasa sangat kesal dengan kekasihnya itu. Bukannya memanfaatkan waktu di saat mereka bisa bertemu seperti ini, dan bermanja-manjaan. Namun pria ini malah menghancurkan ekspetasinya.


Arkha berusaha mengejar Kanaya yang lagi-lagi kesal dengan ulahnya. "Iya, iya Sayang. Calon istriku ini manis, kalem, baik hati, tapi tidak suka menabung," godanya lagi. Tentu saja Arkha langsung mendapatkan sebuah cubitan keras dari Kanaya sampai-sampai pria itu mengaduh kesakitan.


"Dasar, kamu itu. Jahilnya enggak bisa ditolong lagi," desis Kanaya.


"Hahaha ... ampun, Sayang." Mohon Arkha.


Setelah puas mencubiti Arkha, kemudian Kanaya melangkah menuju lemari yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Memilah sesuatu yang tersimpan di dalam, lalu berjalan menuju ke arah Atkha di mana yang masih tetap pada posisinya.


Kanaya melingkarkan sebuah kain yang baru ia ambil barusan di leher Arkha dengan sedikit menjinjit. Karena memang Arkha lebih tinggi daripada dirinya. Sebhingga membuat Arkha sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Tidak lupa pula, tangannya melingkar sempurna di pinggang ramping Kanaya.

__ADS_1


"Jangan genit-genit, jangan deket sama wanita pasanganmu itu, pokoknya jangan ambil kesempatan agar bisa bersentuhan dengan wanita lain. Karena jika sampai kamu melakukan itu, maka aku juga bisa melakukan hal yang sama dengan apa yang kamu lakukan, Kak." Pesan Kanaya yang lebih terdengar sebuah ancaman.


"Iya, ya ... My Queen," gemas Arkha kemudian menyesap bibir Kanaya yang tidak berhenti melarang dirinya ini dan itu. Arkha senang, karena kini Kanaya selalu mengungkapkan apa yang wanita itu rasa. Tidak lagi memendamnya sendirian.


__ADS_2