
"Ini balasan telah menyentuh sesuatu yang nggak boleh kau sentuh," bisik Arkha dengan seringai yang terbit di bibirnya. Kemudian tangannya kembali mematahkan tangan Aldirck dengan sangat keras. Membuat Aldirck kembali memekik kembali.
Sedangkan di tempat lain. Kanaya nampak begitu tergesa berlari memasuki sebuah rumah dengan pagar yang sangat tinggi. Hingga napas wanita itu tersengal-sengal.
"Pak, Kakek ada di rumah, nggak?" Tanya Kanaya dengan sedikit terengah.
Bukannya segera menjawab, seseorang yang ditanya oleh Kanaya malah terbengong melihat dirinya. Dari raut wajah orang itu, seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini.
"Pak," sapa Kanaya kembali dengan mengibaskan tangannya di depan wajah pria paruh baya tersebut. Yang Kanaya tahu pria itu ialah tukang kebun di kediaman kakeknya ini.
"Ah, iya Non?" Pria paruh baya itu baru tersadar ketika Kanaya menepuk pelan lengannya. "Ini beneran Nona Nara?" Tanya pria itu memastikan siapa wanita yang berdiri di depannya saat ini.
__ADS_1
"Iya, Pak. Ini Nara," balas Kanaya dengan cepat. Karena dirinya ingin segera bertemu dengan kakeknya. Ia harus segera kembali ke apartemennya untuk bisa menyelamatkan kekasihnya yang mungkin saat ini terngah beradu otot dengan Aldirck, mantan kekasihnya
"Waaahh ... Non Nara kadi secantik ini. Apakabarnya Non?" Pria itu nampak antusias dengan kedatangan Kanaya.
"Aku baik, Pak. Kakek dimana? Aku ada perlu dengan Kakek," Kanaya tidak bisa berlama berada di sini. Karena dirinya harus cepat kembali.
"Ah, Tuan Gladio ada di dalam rumah, Non. Mari saya antar," kemudian pria itu mengantar Kanaya masuk ke dalam rumah.
Ada perasaan rindu saat Kanaya mulai masuk ke dalam kediaman kakeknya. Tempat dimana Kanaya pernah tumbuh dan dibesarkan di sini. Ia terus membawa langkahnya menuju sisi terdalam bagian rumah ini. Dan pada saat matanya menangkap seseorang yang tengah berjalan menuruni anak tangga, Kanaya berhenti dan terpaku. Tubuhnya seakan tidak bisa ia gerakkan.
"Nara," lirih seseorang itu. Kemudian menuruni anak tangga dengan langkah yang tergesa hingga sampai membuatnya hampir terjatuh. Jika saja tidak segera ditolong oleh pria yang mengantarkan Kanaya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kakek tidak apa-apa?" Tanya Kanaya yang segera berlari menuju Gladio. Dengan perasaan khawatir wanita itu menanyakan keadaan Gladio yang hampir terjatuh.
"Apa kamu beneran cucuku?" Gladio masih tidak percaya jika Kanaya pulang ke rumahnya sendiri. Tanpa perlu dipaksa seperti yang sudah-sudah. Tangan dengan guratan kulit keriput milik pria lanjut usia tersebut mengusap lembut salah satu sisi wajah Kanaya. Ia ingin memastikan bahwa apa yang ada di depannya saat ini bukanlah sebuah halusisasinya semata.
"Iya, Kek. Ini Nara. Nara-nya Kakek," Kanaya meyakinkan kakeknya jika memang benar yang dihadapannya saat ini adalah dirinya.
"Kamu pulang, Ra? Kakek masih nggak percaya jika kamu mau pulang ke rumah ini," Gladio tidak bisa menahan tangisnya lebih lama lagi. Pria lanjut usia itu menangis tersendu di dekapan Kanaya. Hingga membuay Kanaya juga menitihkan air matanya. Dirinya merasa egois selama ini. Meninggalkan kakeknyanyang sudah sangat tua seperti ini. Apalagi keadaan fisiknya sudah tidak sama seperti dulu lagi.
"Iya, Kek. Ini semua berkat Arkha yang menyadarkan hatiku, jika dendam itu akan merusak diriku sendiri. Dan yang aku rasakan selama ini memang benar swperti itu, Kek. Nara minta maaf, jika selama ini Nara menutup mata hati Nara dengan semua kebenaran yang Kakek ceritakan," ungkap Kanaya meminta maaf pada kakeknya.
Kemudian hal selanjutnya yang dia lakukan sungguh mengejutkan Gladio. Kanaya tiba-tiba saja duduk bersimpuh di depan kaki Gladio. Dengan tangan yang mengatup di depan wajahnya serta menatap memohon ke arah Gladio. Membuat Gladio semakin bersalah, karena seharusnya yang bersikap seperti itu ialah dirinya. Bukan malah Kanaya.
__ADS_1
"Aku mohon, tolong selamatkan Arkha, Kek," pinta Kanaya dengan suara yang lirih. Untuk kedua kalinya Gladio dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Kanaya.
"Ada apa dengan bocah tengik itu?" tanya Gladio sedikit khawatir. Karena Gladio tahu, Arkha bukanlah pemuda sembarangan. Pria itu selalu bisa mengatasi masalahnya, meskipun itu pling sulit pun. Bahkan Arkha berhasil membuat dirinya emosi, pada saat mereka bertemu kemarin.